
Hari yang di nanti telah tiba, Justin terlihat gagah dengan jas berwarna putih yang terlihat pas di tubuhnya. Begitu pun Kira, walau wanita itu memiliki ukuran badan dan perut yang big size. Namun sama sekali tak mengurangi keanggunan dan kecantikan nya.
Kira berjalan di samping Varel, yang berperan sebagai wali nya. Para sahabat itu datang kemarin siang, untuk menyaksikan hari bahagia adik bungsu mereka.
"Apa kau gugup?" Varel berbisik pelan tanpa menoleh, matanya fokus ke depan sambil menggandeng tangan Kira.
"Sedikit, jangan bertanya lagi. Jangan merusak moodku," balas Kira membuat Varel berdecak kesal.
"Kau ini. Aku harap Justin memiki jantung yang sehat untuk menghadapimu yang sedingin ini." Keluh Varel dengan nada iba.
"Sudah dekat, tutup mulut mu" Varel menghentikan langkahnya lalu menyerahkan tangan Kira untuk di sambut oleh Justin.
"Aku Serahkan adikku, jaga dan cintai dia seumur hidupmu. Jangan pernah menyakiti nya, atau jantung mu akan ku congkel dan ku jadikan, jantung barbeque madu." Sungguh tata cara penyerahan adik perempuan yang mengharukan, Justin tidak tau antara harus merasa ngeri atau terharu.
"Aku akan menjaga dan mencintai nya, hingga sampai ragaku sudah tak mampu lagi bertahan." Ujar Justin menatap calon pengantin nya dengan penuh cinta.
Mata Kira berkaca-kaca mendengar kalimat pendek namun menyentuh relung jiwa nya.
Varel berbalik menuju kursi dimana ada istri dan anaknya, juga sahabat nya yang lain. Hatinya miris, lebih setahun yang lalu, mereka pernah berada dalam situasi dan suasana seperti ini. Hanya saja dengan mempelai pria yang berbeda.
Diam-diam mereka mengusap sudut mata masing-masing. Kira mereka harus terus berjuang menggapai kebahagiaan nya, wanita malang itu hanya di beri jeda sejenak untuk menikmati hasil perjuangan nya. Setelah nya kembali di hempas kenyataan tanpa perasaan.
Kini mereka berharap, gapaian Kira sudah sampai di puncak. Kebahagiaan itu sudah boleh Kira nikmati hingga akhir, tanpa air mata kesedihan juga harus kecewa berulang-ulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kau lelah? Duduk saja, tamu kita tidak banyak, hanya teman-teman dekat dan orang dari desa. Tidak masalah jika ingin beristirahat sebentar, acara nya akan di lanjut kan nanti malam." Justin terlihat mengkhawatirkan keadaan istri nya jika terlalu lama berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Ayo kita ke sana" tunjuk Kira ke arah para sahabat nya yang sedang melempar canda dan tawa.
"Ayo, pelan-pelan" Justin menuntun istrinya ke arah Varel dan kawan-kawan.
"Hai pengantin baru" sapa Susi dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"Mah, telen dulu" ujar Varel mengingat kan.
Susi mendelik sebal, Varel langsung kicep.
"Udah gede aja anak kakak, gak kerasa ya." Kira mencium gemas pipi bulat Siva(Susi-Varel).
"Kuat makan dia kaya...." ucapan Varel menggantung saata melihat pelototan mata sang istri yang menakutkan. "Kaya aku" lanjutnya mengalah. Demi keamanan masa depan nya, mengalah lebih baik pikir Varel.
"Liat nih, pak dokter yang satu ini. Kalau di depan ibu negara, bukaan main. Kalem bro" ledek Danu tak sadar diri.
"Kaya yang nyongong tidak saja" balas Varel sengit. "Siapa yang ngetok rumah orang tengah malam, bawa bantal sama selimut kaya gembel." Ujar Varel balas meledek.
Danu melirik sang istri yang nampak pura-pura tak dengar, "issh, itu sudah lama, kenapa mesti di bahas sih" kesal Danu menginjak sepatu mengkilap Varel.
"Anjaayyy, pantofel ku yang malang." Ratap Varel membersihkan sisa pasir di ujung sepatu nya.
"Betah banget Susi punya suami kaya gini model nya." Sela Bram yang datang dengan dua piring penuh makanan.
Semua mata tertuju ke tangannya yang tak tau malu, telah merampok prasmanan.
"Trus bedanya dengan yang ini di mananya? bukannya terlihat lebih rakus yang gini, dari pada pergi nambah sesekali ke meja prasmanan?" Levita menatap kasihan pada makanan, yang ditumpuk paksa saling menindih di dalam piring Bram.
"Bedalah, kalo aku bolak balik tar kelihatan banget aku rakusnya. Kalo gini kan orang gak terlalu merhatiin," sanggah Bram tetap pada argumen nya.
"Udah biarin aja, Bram kan belum menikah. Mana tau dia biaya catering mahal atau tidak," cetus Lumina membuat Bram tersedak potongan daging rendang, yang sedang di kunyah nya.
"Seperti kau sudah menikah saja" ketus Bram jengkel.
"Tapi aku sudah punya anak, kau apa? kekasihmu malah memutuskan mu, kasihaan." Lumina menunjukkan wajah empati penuh kepalsuan nya.
"Sudah sudah. Bram ingin makan sebanyak apa juga tidak masalah, jangan memojokkan nya terus." Tegur Kira membuat Bram merasa menang.
"Kau memang adikku yang paling baik" puji Bram bangga.
__ADS_1
"Pastikan saja perutmu baik-baik saja setelah ini, aku tidak ingin hari bahagia ku di rusak oleh orang yang sakit pencernaan. Sangat tidak elit" Bram merasa ingin sekali menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir di bawah kakinya. Baru saja dia memuji wanita hamil itu, kini kembali di hempas tak berperasaan.
Bram mendengus kesal, "harusnya aku tadi tidak memujimu" sungut Bram kembali mengisi mulutnya dengan satu suapan penuh nasi dan lauk.
"Selamat untuk pernikahan mu, semoga kebahagiaan senantiasa menyertai mu." Doa Levita tulus. Matanya berkaca-kaca, namun segera dia alihkan.
"Jaga adikku, Justin. Jika kau berani membuat nya menangis, akan aku kebiri milikmu itu" Timpal Danu tak kalah sadis dari perkataan Varel tadi.
"Aku tidak berjanji untuk tidak membuat nya menangis. Karena orang bahagia pun bisa mengeluarkan air mata. Tapi aku akan menjaganya dengan cinta yang ku punya, hingga Kira tak punya celah lagi untuk berpaling dari ku." Justin berkata sambil terus menatap istrinya.
Pipi Kira merona mendengar Justin, yang lagi-lagi membuat nya merasa sangat di cintai.
"Harus begitu. Kalau kau sampai berani menghianati adikku dengan alasan apapun, kau akan ku cor hidup-hidup. Dan meletak kan mu di dekat pintu masuk rumah, agar setiap melihat nya, Kira kami akan merasa, sakitnya impas meski tak terbalas." Ucapan yang tak kalah sadis dan kejam terlontar dari mulut rakus Bram.
Justin menelan ludahnya susah payah. Bukannya dia khawatir akan mengkhianati sang istri. Namun merasa ngeri dengan ancaman-ancaman tak berakhlak, para sahabat istrinya itu.
"Jangan mengancam suamiku. Dia akan selalu mencintaiku, jangan khawatir. Justin tidak akan bisa hidup tanpa ku dan anak-anak kami, ya kan sayang?" Justin membeku di tempatnya, pertama kali mendengar kata sayang dari Kira.
Mulut nya terasa kaku untuk membalas kalimat tanya sang istri.
"Sayaang?" suara lembut penuh penekanan Kira membuat Justin tersadar kembali.
"Eh? ya tentu saja. Aku bisa mati tanpamu dan anak-anak kita. Kalian segalanya untuk ku, jiwa ragaku milik kalian." Balas Justin mengukuhkan argumen sang istri dengan hati berbunga-bunga.
Lumina mencebik iri, lalu menatap Bryan yang kurang paham akan kode ambigu Lumina.
"Kenapa menatap ku seperti itu, mommy?" suara lembut Bryan membuat Lumina mesem-mesem sendiri. Gayanya yang di buat malu-malu, membuat Bram merasa kesal.
"Jangan bertingkah seperti itu. Kau sangat tidak cocok, sisi feminim mu sudah raib oleh kegalakanmu yang tak berakhlak itu." Ketus Bram merasa iri. Hanya dia yang belum punya pasangan, menyebalkan bukan? dia merasa tidak kurang satu apapun, namun mengikat satu wanita saja, dia tidak mampu. Miris sekali batinnya meringis nyeri.
"Kau itu iri saja melihat orang bahagia, makanya sekali dapat tangkapan. Eksekusi langsung, mungkin dengan cara itu, kau bisa memiliki pasangan. Aku jadi kasihan padamu, hampir setiap hari kau melihat berbagai bentuk surgawi para wanita. Tapi merasakan nya sekali saja tidak pernah. Ingat, usiamu sudah tidak muda lagi." Lumina benar-benar menjatuhkan harga diri seorang Bramantyo Ibrahim.
"Bryan? apa kau sudah mulai merasa bosan padanya? tidak apa-apa, aku akan mendukung mu untuk mencari pengganti nya. Carilah wanita dengan mulut berakhlak untuk menjadi ibu anakmu, aku jadi kasihan pada Ryana."
__ADS_1
Perseteruan kedua sahabat itu masih berlanjut, membuat kepala semua orang bergeleng-geleng pelan. Tidak afdol jika tidak berdebat jika bertemu, begitu keduanya.