Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XLIV


__ADS_3

Reegan berjalan cepat keluar dari kantornya, menuju mobil yang sudah terparkir di depan lobi kantor. Seseorang yang dia suruh untuk menyelediki kebenaran, tentang sang ayah yang terlihat terakhir kali berada dirumah sakit milik keluarganya. Baru saja mengabarkan, jika melihat sang ayah sedang berada disekitar toko roti milik sang ibu.


Reegan mengemudi seperti orang kesetanan, dia tidak peduli dengan kendaraan yang dia salib berkali-kali mengklaksonnya marah. Dia tidak ingin sampai sang ibu bertemu dengan sang ayah, belum lagi jika kakeknya tau, maksud kepulangan ibunya ke Indonesia ingin mencari tau tentang keberadaan ayahnya. Sang kakek pasti akan sangat murka, mengingat pria itu yang sudah mencampakkan anaknya seperti sampah, dalam keadaan yang tengah berjuang antara hidup dan mati diruang operasi.


"Angkat ma, angkat..." Sudah berkali-kali Reegan menghubungi sang ibu, namun tidak sama sekali diangkat. Membuat dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk, mungkinkah ibunya sudah bertemu dengan pria berhati iblis itu. Reegan sungguh tidak rela, akan dia habisi dengan kedua tangannya sendiri jika ayahnya itu berani menemui ibunya.


Reegan lalu menelpon orang suruhannya. ("Halo tuan, kami kehilangan jejak Tuan Adnan, beliau menghilang di gang belakang pertokoan, tidak jauh dari toko roti ibu anda.") Lapor salah seorang detektif sewaannya.


"Trus cari, jangan sampai lolos, kalau sudah dapat bawa ke markas, satu lagi jangan sampai kakek mengetahui kejadian ini." Reegan kemudian memutuskan panggilan, lalu melempar earphone nya ke sembarang arah.


Suara decitan ban mobil Reegan, membuat beberapa pengunjung toko roti terperanjat kaget. Begitupun dengan sang ibu, yang terlihat sedang membantu pegawai menata aneka roti di dalam etalase.


Reegan masuk dengan tergesa-gesa, napasnya memburu, namun saat melihat ibunya baik-baik saja, dia lega lalu memelankan langkahnya, menuju arah sang ibu yang sedang berdiri memegang sebuah nampan.


Reegan memeluk erat sang ibu, berharap pelukan sang ibu bisa menyalurkan rasa tenang kedalam hatinya.


"Kamu kenapa, nak? Kaya orang ketakutan gitu, itu mobil sampe diparkir asal kaya gitu. Ayo masuk keruangan mama dulu." Bu Maya, bisa merasakan kekhawatiran sang anak, tangannya terasa sangat dingin dan sedikit berkeringat.

__ADS_1


"Kita pulang aja ya, ma." Ucap lembut, wajah nya terlihat sendu.


"Baiklah, tunggu sebentar, mama ambil tas dulu didalam." Bu Maya meninggalkan anaknya yang masih berdiri, terlihat sangat gelisah.


"Ayo, mama sudah siap pulang." Ucapan bu Maya membuat Reegan tersentak dari lamunannya.


"Ayo, ma. Pake mobil aku aja, nanti pak Danar pulang sendiri." Ucap Reegan sambil memegang tangan sang ibu, seakan takut ibunya itu menghilang, diantara pengunjuk toko yang memang sedang ramai-ramainya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gan, kamu nggak mau cerita apa gitu ke mama." Tanya bu Maya yang sudah sejak di toko tadi, dibuat penasaran dengan sikap anaknya yang tiba-tiba bersikap aneh itu.


"Masa sih, Gan. Kok mama jadi serem. Padahal disana kan deretan toko semua, kenapa hanya toko mama yang diincar." Ucap bu Maya bergidik ngeri, bayangan penjahat berseliweran di kepalanya.


"Makanya mama berapa hari ini nggak usah ke toko dulu, bisa jadi itu adalah orang yang iri dengan kesuksesan keluarga kita." Ucap Reegan lagi.


"Iya, sudah kalo gitu. Mama juga jadi ngeri, belum lagi kalau kakek kamu sampai tau. Bisa-bisa mama dikurung lagi kaya pesakitan." Ucap wanita paruh baya itu dengan wajah sendu. Mengingat bagaimana protektif nya sang ayah pada dirinya.

__ADS_1


"Nggak, ma. Nggak akan kaya gitu lagi, Reegan sendiri yang akan menentang kakek, kalau berani memperlakukan mama seperti dulu lagi. Reegan sudah besar sekarang, sudah bisa jaga mama, jadi mama jangan khawatir lagi ya." Reegan berusaha menenangkan hati sang ibu, dia tau ketakutan apa yang ibunya rasakan saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Loh, papi!?"..


"Kakek!..


Reegan dan ibunya terkejut bukan main, saat baru saja sampai dirumah, melihat seseorang yang sangat mereka kenali itu, tengah duduk bersantai diruang keluarga sambil menikmati teh melati kesukaannya.


"Apa begini cara menyambut tamu, apa kedatangan kakek tidak diharapkan dirumah ini, apa kedatangan kakek mengganggu ketenangan kamu sama mama kamu, Reegan!".. Seru pria tua itu dengan suara tinggi. Dia tidak suka orang yang tidak bersikap hormat padanya. Tidak peduli siapapun dia.


"Duduk, Gan. Sapa kakek dulu." Ajak sang ibu, karna melihat Reegan yang masih berdiri mematung.


Reegan melangkah mendekati sang kakek. "Maaf kek, Reegan hanya kaget. Kakek nggak ada bilang kalau mau datang, Reegan bisa suruh orang jemput di bandara." Ucap Reegan setenang mungkin, lalu mengalami pria tua itu. Dia tidak ingin memancing perdebatan dengan sang kakek.


"Kamu kenapa jam segini sudah pulang, apa mama kamu merepotkan hingga kamu harus mengabaikan pekerjaan kantor." Ucap sang kakek kemudian menatap Maya, anak perempuan satu-satunya itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Nggak kek, Reegan tidak enak badan sejak semalam. Tadi hanya ada beberapa pekerjaan, sudah Reegan selesaikan sisanya akan di urus oleh Abdi dan Nindy." Ucap Reegan tenang, meski hatinya tidak rela jika ibunya dikatai merepotkan. Dia menyayangi ibunya, tidak ada kata merepotkan dalam kamus Reegan untuk sang ibu.


__ADS_2