
"Diminum pak, maaf seadanya aja ini." Pak Supri datang dari arah dapur menuju ruang keluarga didekat tangga, pria itu rupanya pamit kebelakang untuk membuat kan minuman, dan juga membawakan mereka beberapa jenis wade.
"Loh, kok repot-repot gini." ujar Wijaya sungkan. Dan kini mereka mulai mengerti arti kata sungkan, ternyata tidak enak rasanya. Pantas saja warga desa selalu menjaga tutur kata dan sikap mereka pada orang lain.
"Gak repot kok pak, ini kebetulan saya ada bawa subuh tadi banyak, anak-anak itu suka sekali jajanan pasar, saya pikir waktu pertama datang, makanan nya itu ya kaya orang-orang kota pada umumnya. Taunya seleranya sama, Sama-sama merakyat juga." Kekehnya pelan. Dia ingat jika anak-anak kota itu selalu makan dengan nasi dan lauk pauk seadanya, yang dia pesan ke warung didesa dengan begitu lahap.
"Mungkin dikeluarga nya sudah terbiasa begitu, tidak semua anak kota itu makanan ala bule-bule. Yang sarapan roti aja udah bisa nahan sampe waktu makan siang." Jelas Wijaya seraya menerawang jauh, mengingat tentang anak-anaknya, yang jika makan, selalu harus selalu ada nasi.
Betapa dia sangat merindukan mereka, namun kondisi sekarang masih belum memungkinkan. Apalagi orang-orang yang masih loyal pada Arkhan, mengatakan jika gadis psikopat itu bekerja sama dengan seseorang. Dan mereka belum bisa menyingkirkan gadis itu tanpa punya barang bukti, artinya gadis itu masih bebas berkeliaran. Akan sangat berbahaya jika mereka membawanya kembali ke kota, apalagi mengingat jika mereka semua sudah di anggap tiada oleh keluarga mereka masing-masing.
"Ya, pak saya saja sampe heran. Tapi senang juga, waktu baru mau ke sini saya sama pak Madun sempat khawatir, itu nanti anak-anak kota mau di makan apa." Kekehnya lagi.
Mereka berempat terlibat obrolan seputar jalan penghubung antar desa ke kota kabupaten, dan klinik kecil yang di bangun 2 tahun lalu dan masih banyak lagi obrolan ala bapak-bapak itu yang mulai ngalor ngidul kesana kemari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tu mobil punya siapa Junaidi? Gak mungkin keluarga kita dari kota kan? katanya besok pagi batu nyampe." Kavin bertanya pada teman-temannya yang juga tidak tau apa-apa.
Mereka dengan sengaja mengirim pulang pak Mumun ke ibukota, lewat travel dari kota kabupaten kemaren. Agar pria itu bisa menuntun keluarga mereka dari sana, untuk meminang Mina secara benar. Dan juga berpesan pada pak Mumun agar mereka kembali kesana saat sore saja, agar para ibu-ibu itu tidak histeris sepanjang jalan, saat melihat jalanan yang tak seindah hati Jason yang sedang di mabuk cinta bunga desa.
"Ayo masuk, penasaran gue, sekaligus laper. Pasti yayang Mina udah kirimin kita makanan." Ujar pria bucin itu tersenyum sumringah, secerah mentari pagi.
__ADS_1
"Ck, Mina aja terus dari tadi. Tar keselek kangkung baru kapok. Batal kawin lo." Ujar Daniel sewot. Jiwa kejombloannya meronta-ronta jika melihat orang yang sedang kasmaran.
"Mulut mulut, congor lo tu ya. Gak seneng banget liat adek lo bahagia." Dengus Jason kesal, kekasih nya di sumpahi keselek kangkung, gak keren amat. Keselek daging import kek, di jamin jiwa raga kejang-kejang enak.
"Pak Supriii, itu mobil didepan siapa yang pu......"
Kata-kata itu menggantung digantikan dengan pelototan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Dad..dy.." Ucap Alfan terbata-bata, matanya berkaca-kaca. Ingin dia menangis kejer sekarang, namun dia ingin memastikan apa yang dia lihat, juga di lihat oleh para sahabat nya.
Alfan berbalik mengarah pada ketiga nya, dia bisa melihat wajah penuh keterkejutan yang sama disana. Arti nya dia tidak gila, Mereka juga pasti melihat apa yang dia lihat. Lalu berbalik lagi, Alfan berjalan pelan menuju kearah sang ayah. Air matanya sudah tak bisa dia bendung lagi.
"Da..d dy?..." Setelah sampai tepat dihadapan sang ayah, Alfan menyentuh pipi pria yang sangat dia rindukan kan itu hanya sekedar ingin memastikan.
Daniel masih mematung ditempatnya, lutut nya terasa lemas, meski hatinya sudah ingin sekali berlari menuju pria yang sangat dia rindukan itu.
Sang ayah yang peka, lalu berjalan perlahan menuju kearah Daniel. Ditatapnya wajah sang anak dengan tatapan penuh kerinduan. Tangannya gemetar meraih bahu Daniel lalu memeluknya erat. Tangis keduanya pun pecah. Kavin dan Jason pun tak tinggal diam, mereka ikut memeluk Daniel dan ayahnya dengan perasaan yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah situasi kembali tenang, kini mereka semua tengah duduk diruang keluarga itu untuk sekedar menyalurkan kerinduan masing-masing.
__ADS_1
"Kenapa daddy gak pulang kalau Daddy baik-baik saja, kenapa harus berpura-pura mati segala sih." Ujar Alfan sedikit kesal, mengingat tiga setengah tahun ini hidup mereka semua dipenuhi banyak kesedihan dan rasa kehilangan yang begitu dalam.
"Daddy, papi sama papa Satria tidak bisa kembali begitu saja nak. Kondisi Kira tidak baik-baik saja." Ucapan itu sontak membuat keempat pemuda itu terkejut bukan main, terlebih Kavin dan Daniel.
"Maksud daddy apa, kira masih hidup begitu? Sekarang dimana Kiranya dad, mana?" Daniel bertanya dengan tidak sabar. Air matanya kembali luruh. Pria itu bahkan menggoncang keras tangan Bastian.
"Kira tidak bisa mengingat Siapa pun termasuk dirinya sendiri, dan itu bagus untuknya. Kami tidak berharap dia bisa kembali ingat. Ingatan itu akan melukai hatinya, jadi tidak perlu diingat-ingat lagi." Jelas Bastian lagi.
"Maksud daddy, adek Amnesia begitu?" Kali ini Kavin yang bertanya, pria itu masih dapat menahan perasaan nya sejak tadi, namun sesuatu yang berhubungan dengan sang adik membuat nya tidak tenang.
"Ya Vin, Kira mengalami amnesia, saat dia terbangun dari koma nya 6 bulan yang lalu." Lalu pria itu menceritakan apa yang dia dengar dari Varel dan rekan-rekannya, tentang upaya penyelamatan mereka yang tidak mudah. Tentang Kira yang sudah dinyatakan meninggal dunia, kembali berkat kuasa tangan Tuhan dan usaha keras Varel dan kawan-kawan.
Mereka juga baru terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun itu, 6 bulan yang lalu satu Minggu lebih dulu dari Kira, berbeda dengan Bastian yang lebih dulu satu bulan terbangun dari mereka.
Alfan baru menyadari jika kaki sang ayah sedikit berbeda, sedikit lebih gelap yang sebelah kirinya.
"Kaki daddy itu kenapa?" Tanya Alfan menelisik perbedaan kaki ayahnya. Mereka semua tidak tau jika Bastian kehilangan kakinya hingga tengah betis akibat terpotong kaca jendela besar.
"Kaki daddy putus waktu kejadian itu juga hancur, tidak bisa diperbaiki lagi. Salah seorang dari anak buah papa Satria berpesan pada dokter Danu, agar kakinya diberikan pada daddy sebelum dia menghembuskan napas terakhir nya." Bastian menghela napas pelan, dirinya bersyukur tidak harus menggunakan kaki palsu, yang pasti nya akan sangat merepotkan.
"Sebelum polisi datang, anak buah papa sampai disana lebih dulu, papa sempat pingsan tapi tidak lama, hanya saja papa banyak kehilangan darah, papa masih dengar suara tembakan ditengah reruntuhan bangunan villa yang hancur itu. Papa yakin orang-orang papa sudah datang, saat papa mencoba untuk berdiri, papa tidak melihat pijakan papa yang ternyata malah membuat tiang besar itu malah jatuh menimpa separuh badan papa. Dan akhirnya papa baru terbangun beberapa bulan yang lalu." Jelas Satria panjang lebar.
__ADS_1
Pak Supri hanya berperan sebagai pendengar yang baik. Tanpa menyela, tanpa suara pria itu hanya berkontribusi mengangguk dan menggeleng kepalanya saja. Sungguh pria yang baik, bukan,?