
klek
Reegan menatap wanita yang sangat di cintai nya itu dengan perasaan campur aduk. Wajah pucat nya membuat Reegan semakin merasa bersalah.
"Udah lama siuman nya?" Reegan bertanya sambil berjalan menuju brankar Sarah.
"Pas sebelum ke sini tadi yah. Dokter bilang apa tadi?" Kalla menjawab pertanyaan sang ayah kemudian bertanya kembali perihal apa yang dokter katakan mengenai kondisi sang ibu.
"Oh, itu... Cuma bilang bunda gak boleh cape aja, harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran." Reegan menjawab tanpa menoleh pada sang anak. Pandangan nya fokus pada istri nya yang masih terlihat begitu lemah. Matanya berkaca-kaca, namun sesegera mungkin pria itu mengubah ekspresi wajahnya.
"Kamu udah ngerasa enakan belum? Mau makan apa gimana? Ini masih belum beli apa-apa, tar aku suruh Kalla pergi ke minimarket 24 jam di depan rumah sakit. Makan roti dulu aja, mau?" Tawar Reegan sambil menggenggam tangan kurus sang istri. Hatinya miris, Mereka sama-sama hidup dalam luka yang sama selama ini. Namun masing-masing lebih memilih untuk menyembuhkan diri sendiri, tanpa mau berbagi pada siapapun.
"Aku gak lapar, bentar lagi pagi. Tar aja sekalian, aku tunggu sarapan dari rumah sakit aja. Kamu istrahat gih, aku udah gak apa-apa." Suara Sarah yang setenang dan terlihat seolah dirinya baik-baik saja, Membuat Reegan tak kuasa menahan air matanya lagi.
Pria itu tergugu sambil menenggelamkan wajahnya di perut kiri Sarah, bahunya bergetar hebat. Jiwa pria itu terguncang akan fakta yang baru saja dia ketahui tentang sang istri. Separuh jiwanya terasa melayang pergi dari raganya yang rapuh. Kalla yang melihat itu menjadi panik, dihampiri nya sang ayah kemudian menyentuh pelan bahu Reegan.
"Yah? Ayah gak apa-apa? Ada apa yah, cerita sama Kalla." Matanya juga berkaca-kaca, melihat tangis sang ayah yang begitu pilu dan menyayat hati. Hatinya pun ikut Terluka, walau sejati nya dia belum mengetahui apapun.
__ADS_1
"Ayah hanya sedih liat kondisi bunda. Gak ada apa-apa, udah kamu istrahat sana. Tidur lagi, baru jam 4 subuh." Sarah menjawab cepat pertanyaan sang anak. Dia tidak ingin Reegan mengatakan apapun. Karena dia yakin, melihat suaminya serapuh itu, pasti sang suami sudah mengetahui sesuatu tentang nya.
Kalla nampak ragu, sementara Reegan masih tak bergeming. Berkali-kali diciumnya telapak tangan sang istri dengan penuh kasih sayang. Karena yak mendapat jawaban dari pertanyaan nya, Kalla berbalik kembali menuju sofa. Namun sesaat akan duduk, Reegan mulai angkat suara.
"Bunda kanker otak dan gagal ginjal." To the point. Reegan berujar tanpa jeda, membuat tubuh Kalla membeku seketika. Napas nya seperti tercekat di tenggorokan, susah payah pemuda itu menelan ludah nya yang tiba-tiba terasa kering. Tidak salah dengar kah dirinya, di tatapnya wajah pucat sang ibu meminta penjelasan. Kalla berharap apa yang dia dengar tidaklah nyata, mungkin sang ayah sedang dalam kondisi kalut karena melihat keadaan ibunya yang lemah.
"Maaf nak." hanya dia kata, namun mampu membuat dunia seorang Kallandra runtuh seketika. Pria itu kembali menghampiri brankar sang ibu, air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan. Kalla Meraih tangan mungil ibunya dengan tatapan sakit. Di ciumnya berkali kali tangan kurus yang sudah susah payah, merawat dirinya beserta saudara-saudaranya. Namun tidak satupun dari mereka yang peka terhadap kondisi sang ibu.
Kalla menangis keras, bibirnya bergetar, banyak kata yang ingin di ucapkan termasuk permintaan maaf atas ketidakpekaan selama ini. Namun semua seperti tersangkut di kerongkongan nya tanpa bisa dia keluar kan.
Klek
Keyra bergegas menghampiri orang tuanya juga sang adik, dengan perasaan was-was.
"Yah? Bunda kenapa? Bun? Dek?" Namun tak satupun yang menjawab, Sarah hanya menggeleng pelan, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Dek? Kenapa nangis kaya gini depan bunda, gak baik. Bunda udah baik-baik saja sekarang. Berdoa aja biar kondisi bunda semakin membaik." Keenan juga menghampiri sang adik dan menarik pelan bahunya.
__ADS_1
Kalla memeluk perut sang kakak seperti anak kecil yang habis di marahi oleh ibunya. Bahunya masih sedikit bergetar, namun belum ada kata apapun yang dia ucapkan untuk membalas ucapan kakaknya.
"Udah jangan gini, gak baik. Yuk duduk sana dulu, kasian bunda dek." Bujuk Keyra pada sang adik yang masih belum bisa mereda tangisannya. Namun Kalla tetap menuruti perkataan sang kakak, pria itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan beriringan dengan kedua kakak nya, yang menuntunnya ke arah sofa.
"Kamu kenapa kaya gini, bunda kan udah baik sekarang. Hanya butuh memulihkan diri, dan banyak istrahat. Kamu gini malah buat bunda kepikiran yang macam-macam." Suara lembut Keyra berhasil membuat tangis pria itu mereda. Di tatapnya kedua kakak nya secara bergantian. Kemudian kembali melihat ke arah sang ibu, dapat dia lihat gelengan samar sebagai isyarat 'Jangan katakan apapun pada kakak-kakakmu. begitu lah kira-kira isyarat yang di tangkap oleh Kalla.
"Bunda gimana kondisi nya, apa yang bunda rasain. Maaf, teteh baru datang. Baru dapat kabar dari kakak tadi." Keyra duduk di samping kanan sang ibu kemudian mencium pipi wanita yang telah melahirkan nya itu. Perasaan nya sakit, melihat kondisi lemah wanita kesayangan tersebut.
"Bunda udah gak apa-apa. Maaf, bunda jadi ngerepotin kalian sepagi ini. Harusnya gak usah di kabarin dulu tadi sama adikmu. Gimana anak-anak mu, siapa yang jagain di rumah." Seperti biasa, jiwa tidak enak wanita itu kembali menguasai.
"Ada mama sama papa, bun. Tenang aja, gak ada yang di repotin. Sudah benar Kalla menghubungi kami cepat, kalau tidak kami justru yang merasa bersalah atas kondisi bunda." Bukan Keyra yang menjawab dengan kalimat panjang tersebut, melainkan kan sang menantu. Al. Pria itu juga sangat menyayangi wanita yang tengah terbaring lemah dihadapan nya ini. Bagaimana dia bisa merasa di repot kan.
"Makasih nak." Sarah mengelus pipi sang anak dengan sayang. Ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Bagaimana jika dirinya pergi lebih cepat dari yang seharusnya, pasti anak-anak nya akan merasa kan sakit dan kehilangan yang amat sangat. Terutama putri bungsunya, Asha.
"Bunda pucat banget, yakin udah merasa baikan. Aku periksa lagi ya." Sebagai seorang dokter, dirinya tau, ini bukan waktu nya dokter visit pasien. Akan lebih baik jika dirinya sendiri yang memeriksa kan sang ibu secara langsung.
"Gak usah nak, bunda udah merasa baikan. Udah, gak apa-apa, kamu duduk di sana ajak suamimu. Kasian Al dari tadi berdiri trus di samping mu." Cegah Sarah seraya menitahkan sang anak untuk membawa suami nya duduk di sofa bersama Kalla dan Keenan yang nampak berbincang serius.
__ADS_1
Ruangan itu sangat luas, sehingga jarak dari sofa menuju brankar cukup jauh. Sarah tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang kedua anaknya itu katakan dalam obrolan mereka. Keduanya berbicara pelan walau tidak sampai berbisik. Namun wajah serius Keenan membuat nya khawatir, Kalla sudah menceritakan perihal penyakit nya pada sang kakak.