
"Mau tambah apa lagi nak, ayam goreng nya atau apa?" Reegan selalu antusias jika menyangkut makanan untuk sang anak. Tubuh Kira sudah lebih berisi dari sebelumnya.
"Yang paha itu boleh tidak yah, biar kaya Ipin Upin." Tanya Kira dengan ekspresi malu-malu.
"Boleh dong, nih. Apalagi?"
"Gak yah ini udah cukup. Makasih." Ujarnya sumringah.
"Killa mau apa nak, bunda ambilkan."
"Gak, aku gak norak. Udah biasa makan enak, gak kampungan kaya anak gembel itu." Balasan anak itu benar-benar membuat selera orang-orang di meja tersebut seketika anjlok.
"Sus, ini ayam gorengnya keluarin dari piring aku. Aku gak mau makan makanan yang sama dengan yang di makan anak pungut itu."
Braakkk...
"Kalo kamu gak mau makan mending kamu masuk kamar sana, jangan rusak selera makan orang lain sama kelakuan kamu itu." Seru si sulung Keenan, yang sejak tadi sudah berusaha menahan emosinya saat adiknya di katai gembel. Dirinya tidak terima.
"Sus, mending bawa Killa makan di kamar aja gih. Nanti bi Surti yang antarkan makanan nya ke kamar." Si pecicilan Kalla berusaha menengahi keributan kecil itu. Remaja 11 tahun kurang itu ternyata bisa juga diandalkan disituasi seperti ini.
"Killa gak boleh gitu nak, Kira kan saudara kamu juga sayang." Suara lembut sang ibu tidak membuat hati anak itu tersentuh.
__ADS_1
"Aku gak mau dia ikut makan disini, aku juga gak mau makan di kamar." Killa sudah bebal sekali, bukan hanya kali ini saja Keenan membentak nya karena kesal. Namun memang anak itu sudah kehilangan respek akan rasa takut, yang penting keinginan nya tercapai. Masa bodoh jika dia dimarahi.
"Killa, cobalah berbagi nak. Lihatlah Kira bahkan gak ganggu kamu. Ayo sudah, kita makan lagi. Jangan ribut." Reegan juga tidak kalah kesal, anak kandung nya dikatai norak, gembel dan anak pungut. Itu melukai hatinya, walau dia tau ucapan itu berasal dari seorang anak kecil.
"Aku gak mau ya gak mau, suruh dia pergi. Kalo gak aku hambur meja makan ini nanti." Killa berbicara dengan napas memburu karena marah.
Si pengertian Kira pun beranjak, dengan mengangkat piring nya. "Gak apa-apa yah, kira makan di dapur aja sama bibik. Killa makan yang banyak ya biar cepat sembuh, Kira pindah kok. Jangan marah lagi ya."
Hati Reegan bergemuruh karena menahan amarahnya, andai dia punya sifat yang kejam. Gatal sekali tangannya ingin memberikan pelajaran pada mulut kecil Killa.
"Ayuk, ayah temani makan di meja dapur." Reegan juga beranjak dari kursinya. Tidak akan dia biarkan anak kandungnya tersisih makan di dapur sendirian.
"Kakak juga, ayo dek. Sini piringnya kakak bawa, bik lauk di dapur masih ada kan? Kita mau pindah ke meja makan di dapur aja." Keenan pun turut pindah ke dapur bersama adik dan ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bun, ayah mau ke kamar Killa dulu. Bunda temani adek dulu ya. Gak marah kok, bunda tenang aja. Cuma ngobrol kecil aja soal Kira. Udah sana temani adek dikamar sebelah." Kira menempati kamar bekas kakaknya dulu, yang terhubung dengan kamar kedua orangtuanya.
"Ya sudah, kalo udah mulai bikin kesal hati ayah. Lekas turun aja, jangan diterusin. Nanti malah bikin mood ayah buruk." Nasihat sang istri.
"Ya sayang."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Killa sayang, udah bobo belum?" Reegan tau, anaknya itu belum tidur.
"Kenapa ayah kesini, bukannya sudah ada anak gembel itu yang ayah sayang." Suara ketus Killa, membuat Reegan menghela napasnya berat.
"Killa gak boleh gitu sayang, Kira itu saudara nya Killa juga. Anak ayah dan bunda. Semuanya kami sayang, Kira itu kasian nak, selama ini tinggal dengan orang jahat. Dari masih kecil sekali sudah bekerja nyari duit buat makan. Kira anak yang baik, kemaren Killa dibeliin boneka hello Kitty loh, sama Kira. Warna ungu, favorit nya Killa itu. Nanti main bareng ya, sama Kira." Reegan berusaha menekan rasa sesak di dadanya, setiap mengingatkan perjuangan hidup Kira kecilnya sedari masih batita.
"Killa gak peduli yah, mau dia menderita kek bodo amat. Itu kan deritanya sendiri. Killa juga gak mau main sama gembel, gak sudi Killa. Bisa kotor semua mainannya Killa dipegang-pegang sama anak pungut itu." Astaga, Reegan benar-benar sudah kehabisan kata-kata juga kesabaran nya.
"Killa tau kenapa ayah sama bunda sayang sama Kira, itu karena Kira itu anak kandung ayah sama bunda. Kira diculik orang jahat waktu baru dia lahir, Killa ngerti sekarang." Ingin sekali Reegan mengatakan fakta sebenarnya, namun masih menjaga mental sang anak.
"Pokonya Killa tetap gak peduli yah, mau dia anak kandung ayah atau bukan. Mungkin karena Tuhan benci sama dia makanya dia dikasih hilang dari ayah sama bunda. Trus dikasih Killa yang lebih baik buat jadi anak kandung ayah bunda gantiin dia." Ya Tuhaannn. Anak manusia kah yang dia besar kan selama ini, kenapa hatinya bisa sekeras batu begini.
"Killa, tidak ada orang tua yang tega menelantarkan anaknya nak. Cobalah mengerti sedikit, terima Kira dengan tangan terbuka. Sayangi dia layaknya saudara. Ayah dan bunda tidak akan mengusir Kira dari rumah ini, tapi kalau kamu keras kepala begini. Ayah yang akan mengembalikan kamu pada ibu kandung mu." Habis sudah kesabaran pria itu, anak itu perlu tau. Dialah anak pungut yang sebenarnya. Walau dengan cara ditukar dengan anak kandungnya.
"Maksud ayah apa? Killa anak siapa? Ayah benci sama Killa gara-gara anak pungut itu. Killa benci ayah, keluar dari kamar Killa. Keluar." Anak itu berteriak histeris, Reegan yakin anak itu mengerti apa yang dia katakan. Hanya sengaja untuk mengalihkan.
"Kamu harus tau nak, Kira anak kandung ayah, ditukar sama kamu oleh ibu kamu yang jahat itu. Anak ayah dibawa pergi dan disiksa hampir setiap hari, juga disuruh kerja cari uang untuk kasih makan ibu kamu yang pemalas dan tidak tau diri itu." Oke, Reegan sudah berada di fase yang tidak bisa bertoleransi lagi. Anak itu harus diberitau secara lugas, agar paham maksimal.
"Killa gak peduli, kalau Killa bukan anak ayah sama bunda. Killa gak mau pergi dari sini, Killa mau dia aja yang pergi, biar aja dia diluar sana orang tua Killa. Killa gak peduli yah. Gaaakk!!" Kini Reegan mengerti arti darah lebih kental dari air.
__ADS_1
Sama seperti Sasa ibunya, anak itu cukup bebal, keras kepala dan tidak mempunyai rasa malu merampas milik orang lain. Kini Reegan sudah tidak peduli lagi pada anak itu, cukup sudah. Dia hanya manusia biasa. Rasa sayang dan respek menguap sekarang. Dia sudah terlalu lama menuruti semua keinginan anak itu, dari yang masih masuk akal hingga yang diluar batas kewajaran. Sekarang tidak lagi, putri kandungnya yang akan mendapatkan semua itu mulai sekarang.
Reegan keluar kamar Killa dengan membanting keras pintu kamar itu, membuat Arumi terlonjak kaget hingga terjatuh dari sofa. Arumi menolak tidur dikamar kosong dilantai itu, karena takut Killa membutuhkan dirinya, maka akan susah kalau dia berada dalam kamar. Gadis itu sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan nya, meski menguras energi dan emosi.