Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Merusak moral para pria


__ADS_3

Lumina dan Bryan serta Ryana dan beberapa staff dari WO baru saja tiba, mereka mendarat di landasan pacu yang baru saja di buat tak jauh dari villa. Landasan sepanjang 1,5km itu di buat oleh Bryan agar memudahkan nya ketika akan mengunjungi Justin dan Kira.


Pria itu menggelontorkan dana yang tak sedikit, namun semua dia lakukan bukan atas permintaan Lumina. Namun keinginan hatinya sendiri.


"Astaga..! Lihatlah dirimu," Lumina menelisik bentuk badan Kira, yang nampak acuh seolah bukan dirinya yang di ajak bicara. Wanita itu sibuk memangku Ryana sambil memberikan biskuit Regal.


"Kau seperti badak, ya ampun. Apa kalau aku hamil akan sebesar ini juga?" Mulut lemes Lumina benar-benar tidak bisa di kondisi kan. Justin panik sendiri mendengar nya.


"Kau ini! memangnya kenapa kalau Kira montok, dia selalu cantik di setiap penampilan nya. Iri saja!" Seru Justin tak terima, calon istrinya di katai badak oleh Lumina.


"Ini bukan montok lagi, Justiiinnn! Bisakah kau membedakan mana yang mantok mana yang... besar" mata Lumina tak henti hentinya menatap ngeri pada Kira.


"Jangan menatap nya seperti itu! nanti calon anakku sawan mendengar suaramu, jauh-jauh sana." Usir Justin kesal.


"Ck! aku datang jauh-jauh dengan pesawat pribadi ku, malah kau usir seenaknya" balas Lumina sewot.


"Heleehh! pesawat pribadi ku" ujar Justin meremehkan dengan nada dongkol. Wanita itu pasti sedang dalam mode pamer lagi padanya.


Bryan dan Kira hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan tokoh kartun di dunia nyata itu.


"Lihat ini, pipinya semakin bulat. Kau di beri pupuk apa oleh mommy mu, Nana? Kasihan sekali keponakan ku ini, pasti sangat tersiksa lahir batin punya calon ibu tiri yang.... waww sekali." sela Kira di tengah perdebatan Justin dan Lumina.

__ADS_1


"Enak saja! Ryana ku pasti bangga punya ibu tiri rasa ibu kandung seperti ku." ujar Lumina menyombong kan diri.


"Itu karena Ryana takut tak kau beri makan dan susu, saat daddy nya pergi banting tulang menghidupi mu, yang makannya seperti orang seminggu tak di beri makan." cebik Justin membela calon istri nya.


"Permisi nona? maaf menyela, saya ingin memastikan bahwa halaman belakang ini yang di gunakan untuk pesta nya." Sela seorang wanita dengan baju yang, woww! Merusak moral para pria.


Lumina melotot tak percaya, bukankah baju wanita itu tadi tidak seperti ini. Lumina segera menoleh pada sang kekasih, yang nampak acuh menatap gulungan ombak didepan mereka. Juga menoleh pada Justin yang justru sibuk mengelus pipi putrinya, sesekali mencium pipi gembul Ryana tanpa sedikitpun melirik pada wanita didepan mereka.


Lumina menghela nafas panjang, sebelum mengeluarkan kata-kata nya.


"Kemana perginya pakaianmu yang tadi? apa cuaca disini terlihat cocok dengan busanamu? Kita baru akan mengadakan pesta pernikahan dalam 3 hati ke depan, kenapa kau sudah curi start dari sekarang." Ucapan pedas level akut dari mulut lumina membuat wanita itu salah tingkah sendiri. Terlihat dia sedang menarik ujung dress nya yang jika menunduk, maka akan terlihat **********. Bryan dan Justin tak berani bersuara apa lagi menyela.


"Ituu.. tadi pakaian ku terlalu tertutup, maksud ku cuacanya sedikit panas, aku agak sedikit gerah dengan pakaian yang tadi." Ujarnya beralasan dengan mimik dibuat seperti orang teraniaya.


"Kalau begitu saya permisi dulu," wanita itu bergegas pergi dari sana, dengan membawa kupingnya yang sedikit mengeluarkan asap.


"Kau ini kejam sekali, bagaimana jika dia berubah pikiran. Kau juga yang rugi," sela Kira tanpa menoleh.


"Enak saja aku yang rugi" potong Lumina ngegas. "Asal kau tau, semua ini bukan uangku. Tapi semua uang Justin yang aku pakai untuk mempersiapkan pernikahan dadakan ini." Jawab lumina enteng kemudian menggandeng Bryan agar mengikuti nya kedalam rumah.


Justin salah tingkah, pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung harus menjelaskan apa pada Kira.

__ADS_1


"Ituu.. aku tidak enak menggunakan uang mu dan anak-anak, lagi pula aku masih punya tabungan biar tidak banyak." Jelaskan Justin menatap Kira dengan perasaan was-was.


"Uangku juga uangmu bukan? kau kan yang mengisinya setiap bulan, jangan pikir aku tidak tau. Dan uang yang kau maksud itu dari mana? jangan bilang kau berhutang pada Bryan lagi? lalu menjual aset-aset mu untuk melunasi nya. Kenapa kau selalu berkorban untuk ku, kenapa selalu tentang kebahagiaan ku. Aku merasa menjadi wanita paling kejam jika begini." Kira terisak sambil memeluk tubuh mungil Ryana.


Justin segera meraih Kira dalam pelukannya, dia jadi merasa bersalah karena lagi-lagi membuat wanita itu menangis karena nya.


"Maafkan aku, maaf" ujar Justin lirih. Matanya berkaca-kaca, "aku hanya ingin menjadi kan ini momen paling indah dalam hidupmu, walau tidak bisa semewah apa yang dulu pernah Daniel berikan padamu. Aku hanya berusaha menunjukkan sebesar apa cintaku, walau tidak sebanding dengan harapan mu. Aku mencintaimu sangat, jangan menagis lagi. Aku tidak suka melihat air mata mu, hati ku sakit melihat nya." Suara Justin tidak sebening tadi, getar suara nya menandakan pria itu ikut menangis.


Lumina dan Bryan menyaksikan dari balik jendela kaca ruang keluarga. Keduanya sama-sama menyembunyikan tetesan bening yang tanpa tau malu, keluar begitu saja.


Dalam hati, mereka berdoa, agar pernikahan Justin dan Kira, menuai kebahagiaan tak terbatas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedua pria sedang duduk memandangi ombak yang bergulung tanpa lelah di hadapan mereka. sepanjang penglihatan, hanya ada lautan lepas membentang luas. Keduanya memisahkan diri dari para wanita.


"Bagaimana perasaanmu, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah?" Tanya Bryan memecah kan keheningan.


"Tak tergambarkan. Aku sangat bahagia, tidak sabar ada suara tangisan bayi memenuhi rumah kami, dan mengalahkan suara deburan ombak." Ucap Justin dengan wajah berbinar. Terlihat sekali bahwa pria itu sangat bahagia, menanti kan kelahiran calon buah hatinya. Tidak peduli jika dirinya hanyalah seorang ayah sambung, bagi ketiga calon anaknya.


Rona kebahagiaan senantiasa terpancar jelas diwajah Justin. Bryan hanya berharap, pria disamping nya itu masih diberikan umur yang panjang. Mengingat jika pria yang hanya hidup dengan satu ginjal, dan itupun sudah tak sehat.

__ADS_1


Justin tau jika satu ginjalnya yang tersisa, telah mengalami kerusakan. Akibat hobby masa lalu nya pada minuman alkohol sejak usia remaja. Namun dia masih bersyukur, karena saat Kira membutuhkan donor ginjal beberapa tahun lalu. Ginjalnya masih sehat.


Untuk itulah dia ingin disisa hidup nya, bisa dia pergunakan sebaik mungkin untuk membahagiakan Kira dan anak-anak mereka.


__ADS_2