Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XLIII


__ADS_3

"Katakan ini tidak benar, kamu sedang berusaha untuk menggoyahkan pendirian aku kan, Sar?." Tanya Angga dengan wajah frustasi, bagaimana bisa hasil tes yang dia pegang sekarang, sangat berbeda dari hasil tes yang pernah ditunjukkan Sarah kepadanya.


"Bukankah hasil tes yang kamu kasih ke aku waktu itu menunjukan, bahwa semua nya normal dan baik-baik saja. Jika kamu memang tidak ingin tetap bersamaku, bukan begini caranya, Sarah. Ini sungguh keterlalun, kamu sudah melukai harga diriku sebagai seorang pria." Ucap Angga dengan wajah mengeras menahan marah, dia tidak terima, sungguh dirinya merasa terhina sekarang. Hasil tes itu menyatakan, jika hasil ****** nya memiliki kualitas yang sangat rendah. Sehingga hanya sedikit kemungkinan untuk bisa membuahi sel telur.


"Kamu bisa lihat tanggal yang tertera disana mas dan coba kamu bandingkan dengan yang yang ini." Sarah kemudian mengeluarkan satu lagi hasil tes yang pernah di tunjukan kepada Angga, suaminya.


"Aku meminta dokter Bagas merekayasa hasil tes yang ini, agar kamu tidak syok dan merasa insecure. Sekarang kamu mengerti, kan mas. Aku berjuang sendirian, namun disisi lain, ternyata suamiku juga tengah berjuang dengan caranya sendiri. Sayang nya, kamu tidak ingin berjuang bersamaku, mas."Jelas Sarah dengan wajah yang setenang mungkin. Dia mengerti jika Angga marah, namun itulah fakta yang harus dia ketahui sekarang.


"Kenapa bisa begini, Sar. Apa yang salah denganku, bukankah selama ini aku tidak pernah punya penyakit yang serius." Ucap Angga dengan punggung bergetar, pria itu menangisi takdirnya. Dia sudah tidak peduli lagi, dengan tatapan aneh orang-orang yang ada disana.


Sarah hanya bisa menatap iba pada Suaminya, yang tengah menunduk dalam, sambil meremas kertas hasil tes yang ada ditangannya. Bukannya dia tidak ingin sekedar menenangkan sang suami. Namun dia tidak ingin hatinya goyah hanya karna rasa iba, biarlah suaminya merenungi kesalahannya dan mengobati dirinya dengan caranya sendiri.


"Menikah lah dengan Lusi, mas. Berikanlah bukan hanya sekedar tanggung jawab, tapi juga seluruh kasih sayang mu pada mereka berdua. Maka aku akan memaafkan mu sepenuh hatiku." Ujar Sarah pada pria, yang masih setia menundukkan kepalanya itu.

__ADS_1


Angga mengangkat kepalanya, menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak yakin bisa bahagia jika bersama dengan Lusi, Sar. Setahun ini hubungan kami terjalin hanya karna saling membutuhkan, ak......"


"Kamu hanya perlu melanjutkan nya saja, mas. Kamu butuh anak, Lusi butuh tanggung jawab kamu dan anak kalian butuh kedua orang tuanya. Bukankah itu juga hubungan yang saling membutuhkan?" Sarah memotong cepat kalimat kalimat Angga. Agar suaminya itu mengerti, hakikat sebuah hubungan yang sesungguhnya. Bukankah pada dasarnya hubungan itu memang saling membutuhkan, melengkapi dan menyayangi satu sama lain.


"Jika selama ini kamu bahagia hidup bersama ku, kamu nggak akan mengkhianati ku, mas. Kamu jangan egois, anak itu butuh ayahnya, bukan hanya sekedar nafkah yang bisa habis. Kelak kamu akan berterima kasih sama aku, mas. Jangan jadikan pengorbananku ini sia-sia." Sarah beranjak dari duduknya, sebelum pergi Sarah menatap sekali lagi pada pria, yang akan menjadi mantan suaminya tersebut. Sarah meletakkan cincin pernikahannya diatas meja, cincin yang sudah mengikatnya selama dua tahun ini.


"Pergilah, mas. Temui Lusi, sebelum kamu kehilangan semuanya, perbaiki semua kekacauan yang sudah buat. Itulah kesempatan kedua untukmu, pergunakan dengan sebaik-baiknya. Bukan ibumu yang bisa menentukan kebahagiaanmu, tapi kamu sendiri, kamu hanya perlu tegas pada apa yang sudah menjadi pilihanmu. Jagalah mereka berdua, jangan pernah lagi memberi celah pada orang lain meskipun dia keluargamu. Untuk menghancurkan keluarga kecil yang kamu bangun." Nasehat Sarah panjang lebar, sungguh lega rasanya. Ternyata melepaskan tidaklah seburuk bayangan nya, dia hanya perlu mengikhlaskan lalu berdamai dengan keadaan. Maka tenanglah hati dan juga hidupnya.


Sarah berjalan keluar dari restoran dengan hati yang sudah lapang, hari esok adalah awal baru bagi hidupnya. Dia sudah tidak berada dalam tekanan apapun, kini dia hanya perlu melanjutkan hidupnya, Mengejar mimpi dan juga kebahagiaan yang dia inginkan. Tentu saja bersama sang ayah tercinta, karna tidak ada lagi yang membatasi dirinya untuk membahagiakan ayahnya.


Klek...


Lusi menoleh kearah pintu, dia menatap malas pada pria yang sudah mengatainya habis-habisan kemarin malam. "Kamu ngapain lagi kesini, mas? Kalau hanya untuk menghinaku lagi, lebih baik kamu pergi. Aku sudah tidak butuh tanggung jawab kamu lagi, pergilah!" Ujar Lusi ketus, dia masih sakit hati dengan semua penghinaan yang dilontarkan oleh pria tersebut.

__ADS_1


"Kamu itu mau ngapain, sini aku bantu." Angga merasa ngilu, melihat wanita itu membawa botol infus menuju kamar mandi.


"Nggak usah sok perhatian kamu. Aku bisa sendiri, mending kamu pergi. Bukannya kamu punya istri yang nunggu kamu pulang, jangan lama-lama sama ****** kaya aku. Nanti kamu jadi ikut kotor." Lusi berteriak dengan nada tinggi, tubuhnya bergetar. Wanita itu menangis dengan ucapannya sendiri, jauh didalam lubuk hatinya dia sangat mencintai ayah dari anaknya itu.


Namun karna Angga yang selalu menggantung statusnya, membuat dia memilih berkencan dengan pria tua itu yang mau menjadikannya istri. Meski hanya istri siri, namun cukup memberinya status, dan anaknya juga punya status meski dia harus berbohong pada pria tua itu tentang kehamilannya. Tapi nasibnya malah apes, digrebek di hotel oleh istri dan anak dari pria yang sedang berkencan dengannya.


"Istri ku cuma satu, kamu. Nanti setelah kita menikah, kamu akan menjadi istriku satu-satunya. Hanya ada kamu, aku dan anak kita." Ucap Angga menenangkan wanita, yang kini tengah dipeluknya. Meski hatinya masih belum seutuhnya menerima Lusi, dia akan berusaha, demi anaknya dan juga demi maaf dari Sarah, wanita yang masih sangat dicintainya itu.


Lusi mendongak keatas, ditatapnya mata Angga untuk mencari celah kebohongan dimata pria itu. "Kamu serius mas, trus Sarah bagaimana?" Tanya Lusi memastikan pendengaran, tidak salah kan yang dia dengar.


"Iya, aku serius. Sarah memintaku untuk menceraikannya dan menikahi kamu, memberikan keluarga yang utuh untuk anak kita." Jelas Angga sambil menahan sesak di dadanya, ternyata sesakit itu melepaskan orang yang kita cintai, sayangnya dia terlambat menyadari perasaan yang dia miliki.


"Sarah yang nyuruh kamu, mas? Bukan karna kamu yang menginginkan kami." Ucap Lusi dengan nada marah. Dia jadi kesal, pria itu mau menikahinya karna disuruh oleh istri nya.

__ADS_1


"Beri aku kesempatan, Lusi. Mari kita sama-sama memperbaiki diri kita, mari kita bangun keluarga dengan cara yang benar. Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita. Bantu aku, Lusi. Mungkin sekarang hatiku masih milik Sarah, maka berusaha lah untuk merebutnya, aku juga akan berusaha untuk menggantikan posisi Sarah di hatiku, dengan mengisi namamu hingga tidak ada celah lagi untuk yang lain. Hanya ada nama kamu dan juga anak kita, selamanya. Angga mengucapkan semua kalimat itu dengan hati yang semakin sakit, inikah karmanya. Dia harus belajar merelakan Sarah seperti Sarah yang sudah mengikhlaskan dirinya.


__ADS_2