
"Makasih ya, nak Sarah. tante senang sekali hari ini, akhir nya ada yang mau menemani tante pergi berbelanja." Ucap bu Maya dengan wajah sendu.
"Iya tan, sama-sama. Sarah juga senang bisa temani tante, itung itung untuk mengobati rasa rindu Sarah pada almarhumah ibu." Ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca, hal mengenai sang ibu, membuat Sarah sangat sensitif.
Bu Maya menarik Sarah ke dalam pelukan nya, wanita paruh baya itu ikut merasakan kesedihan yang Sarah rasakan.
"Kamu bisa menganggap tante sebagai ibu kamu, kalau kamu mau. Tante tidak keberatan, malahan tante akan merasa sangat senang." Ucapan bu Maya membuat Sarah malah semakin menangis sesenggukan.
"Eh, kenapa jadi nangis gini. Tante salah ngomong ya. Maaf ya, tante nggak bermaksud mau menggantikan peran ibu kamu." Ucap bu Maya merasa bersalah, karena telah membuat Sarah menangis. Bu Maya memberi kode pada sopir nya, untuk mengambil tisu di atas dasbor.
Setelah merasa lebih tenang,.Sarah melerai pelan pelukan nya dari bu Maya, lalu menyeka air mata nya.
"Nggak bu, bukan itu.Maaf, sebelum nya boleh kah Sarah memanggil tante dengan sebutan ibu saja." Ucap Sarah dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja, boleh. Ibu senang, akhir nya ibu punya anak perempuan juga." Ucap bu Maya bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sarah turun di sini saja, bu. Biar pak Danar nggak perlu repot mutar balik di dalam." Ucap Sarah setiba mereka di rumah sakit.
"Maaf ya, Sarah. Ibu nggak bisa mampir jenguk ayah kamu, nanti kapan kapan ibu akan mampir. Titip salam untuk ayah kamu, semoga beliau cepat sembuh" Ucap bu Maya tidak enak.
"Nggak apa apa bu, hati hati di jalan. Nanti kalau sudah sampai, kabarin Sarah. Pak Danar, titip ibu ya."
Sarah melambai pada mobil bu Maya, dia merasa sangat senang bisa menikmati waktu berdua bersama bu Maya. Pasal nya sudah lama sekali, Sarah tidak merasakan kehangatan seorang ibu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sarah memasuki ruang rawat sang ayah, dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Dia menenteng 3 buah paper bag yang di berikan oleh bu Maya, dan satu buah lagi berisi beberapa roti dan cake yang di beli nya tadi.
"Loh, ada kang Ujang sama teteh. Sudah lama, kang?" Tanya Sarah kepada suami istri itu.
"Nggak juga neng, tadi malah lama ngantri di poli kandungan. Padahal akang sudah datang pagi pagi sekali, biar dapat nomor antrian yang nggak terlalu jauh. Eh, malah dapat nomor antrian 31, berasa kaya di kasih kalender partai."
"Pagi nya akang itu jam berapa, ya pantas lah dapat nomor segitu. Nonton bola kok ya sampai subuh gitu, apa nggak cape itu mata ngeliat orang lari nggak karu karuan berebut bola. Padahal tinggal gantian ngasih gol ke gawang masing masing, kan kelar, nggak perlu berebut." Omel teh Winar pada suami nya.
Bukan dia tidak paham aturan dasar main bola memang harus begitu, hanya saja dia kesal pada sang suami yang telat bangun pagi. Dan berakhir pada mereka yang harus mendapat kan nomor antrian lumayan jauh.
"Nggak gitu lah, Win. Ya nggak seru kalau gitu. Lagian akang tuh lagi ngisi waktu luang, itung itung latihan begadang buat persiapan kamu lahiran nanti. Ucap kang Ujang membela diri. Menghadapi istri cerewet seperti istri nya, harus bisa ngeles selicin belut. Begitu lah pikir nya.
"Alesan, ngeles aja kaya sopir bajai." Dumel teh Winar.
__ADS_1
Sarah dan sang ayah hanya bisa tersenyum, menyaksikan perdebatan kecil suami istri itu.