Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXV


__ADS_3

Drrtt drrtt drrtt...


"Reegan, ngapain pagi-pagi udah nelpon?".. Gumam Sarah pelan,sambil trus berjalan di lorong rumah sakit. Dia baru saja keluar dari ruangan dokter Reza, hari ini ayah nya sudah boleh pulang. Sarah senang bukan main, itu artinya kesehatan sang ayah sudah membaik.


"Ya kenapa?"..


"Ck, kebiasaan. Kasih salam dulu kek, nggak sopan banget kamu itu." Gerutu Reegan diseberang telpon.


"Iya, hallo Ree, ada yang bisa di bantu?".. Ucap Sarah selembut mungkin, meski hati nya kesal. Pria itu terlalu banyak mau nya, memangnya dia siapa.


"Gitu dong, jadi perempuan itu yang manis, lembut kan aku suka. Kamu ke parkiran dulu, aku tunggu, nggak pake lama." Reegan langsung mematikan sambungannya, dia tidak ingin mendengar penolakan dari Sarah.


"Ck, heran. Kok dia suka banget maksa." Walau menggerutu, Sarah tetap berbalik menuju parkiran tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lama banget kamu, sempat basi tuh sarapan kamu, abis ngapain sih." Reegan mengomel, pasal nya setelah memutuskan sambungan telpon Reegan menunggu hampir 20 menit di mobil. Membuat pria yang tidak suka di buat menunggu itu kesal, namun juga tidak bisa marah. Sepertinya memang dirinya sudah termakan senjata makan tuan pikirnya, pesona Sarah sudah meluluh lantahkan kerasnya hati seorang Reegan.


"Tadi ketemu dokter Reza, nggak enak kan orang ajak ngobrol nggak ladeni dulu. Lagian kalo kamu sibuk ngapain ke sini, aku nggak nyuruh loh ya." Ucap Sarah tak terima, tak tau saja Reegan tadi dia harus berjalan turun menggunakan tangga darurat.


"Kok jadi kamu yang galak, sarapannya buka. Aku juga belum sempat sarapan tadi." Ucap Reegan sedikit mengalihkan pandangannya keluar jendela, belum sarapan sama kamu, batin Reegan.


"Kamu bawa aja, sarapan di kantor kan bisa. Ini juga kenapa sarapannya cuma ada satu, trus buat aku nya mana?".. Protes wanita itu lagi.


"Ck, lama benget Sini." Reegan langsung membuka bungkusan makanan, yang ternyata berisi nasi kuning daging, dan hati ayam.

__ADS_1


"Nih, kamu lagi yang suapin, aku mau langsung meeting. Tar tangan aku bau amis lagi." Ujar Reegan menyodorkan bungkusan nas.i yang susah dia buka pada Sarah.


"Tau gini tadi aku ambil sendok dulu ke ruangan ayah, nggak langsung turun ke sini." Lagi-lagi wanita itu menggerutu.


"Memang nya tadi kamu habis dari mana?" Tanya Reegan memicingkan matanya.


"Ruangan dokter Reza." Jelas Sarah sambil menyuapi Reegan.


"Trus, tadi kenapa masih ngobrol lagi, bukannya udah ketemu di ruangan, bahas apa lagi dia." Ucap Reegan dengan kesal.


"Nguyah dulu, Ree. Telen, mulut penuh kok ngomong." Padahal dirinya pun sama, setelah menyuapi Reegan dia juga menyuapi diri nya sendiri. Entah sejak kapan kebiasaan suap menyuap itu dimulai, yang jelas mereka kini tengah menikmati sebungkus nasi kuning, yang memang sengaja Reegan lebihkan porsinya untuk dua orang.


"Minum?" Tawar Reegan, membuka tutupan botol air mineral, mengarahkan nya ke mulut Sarah.


"Aku bisa sendiri, Ree." Jujur Sarah takut diri nya KeBaperan dengan perhatian pria itu, yang terlalu cepat dan tiba-tiba. Masalah dengan Suami nya saja masih abu-abu, dia tidak ingin menambah masalah baru. Namun menolak Reegan, dia juga seperti sulit untuk menolak pria itu, selain suka memaksa, Reegan juga tidak suka ditolak.


"Nanti siang mau aku bawakan apa, ayah kamu suka makan apa, biar sekalian. Dari semalam belum ada bawain apa-apa buat ayah kamu, aku jadi nggak enak hati." Ucap Reegan di sela makan nya.


"Nggak usah, Ree. Kami udah mau pulang juga hari ini, tinggal urus administrasi sama ambil obat pulang ayah aja." Sarah menolak halus tawaran Reegan. Reegan bahkan bukan siapa-siapa nya, malah mau repot-repot mengantarkan nya makanan juga memikirkan ayahnya. Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan pria itu, cukuplah sekarang dia terjebak dalam situasi seperti ini. Besok tidak lagi, hubungan mereka cukup hanya terjalin sebatas costumer dan vendor, tidak lebih.


"Nanti aku jemput, aku yang ngantar pulang. Kamu hubungi aku kalau sudah siap-siap mau pulang." Ucap Reegan, pria itu mengambil tisu basah yang sengaja dia beli tadi, kemudian menarik tangan Sarah lalu mulai mengelapnya.


"Eh, aku bisa sendiri, Ree." Ucap Sarah semakin di buat tak nyaman dengan perlakuan pria itu.


"Udah, diem aja. Ini tangan tangan kamu, kenapa ada bekas luka segede ini?".. Tanya Reegan penasaran, pasalnya dia baru benar-benar memperhatikan tangan Sarah sekarang. Padahal bekas luka itu ada dipunggung tangan kanannya, seharusnya bisa dengan mudah terlihat.

__ADS_1


"Owh itu, Jatuh." Jawab Sarah singkat, tidak mungkin dia bilang di tempeli teplon panas oleh suaminya yang kadangkala suka gila itu.


"Udah bersih, ayo keluar."


Sarah yang salah paham, mengira dirinya sedang di usir itu. Tanpa menoleh lagi langsung membuka pintu mobil dan berjalan cepat meninggalkan parkiran.


"Tungguin, cepat banget kamu jalannya. Kaya di kejar rentenir aja." Reegan meraih tangan Sarah, menyejajarkan langkah mereka.


"Bukannya tadi aku di suruh keluar." Ucap Sarah sedikit ketus, tanpa menoleh pada Reegan. Membuat pria itu terbahak pelan, dia mengerti sekarang, kenapa wanita itu keluar tanpa mengucapkan apapun padanya. Pasti salah paham maksud perkataannya tadi.


"Aku bilang, ayo keluar. Sama-sama keluar maksudnya. Aku juga mau ke dalam sebentar, ada yang mau di urus. Kamu ini, baperan amat sih." Jelas Reegan mencubit pelan hidung minimalis Sarah.


"Kirain." Ucap Sarah malu, dia membuang pandangan ke samping. Dia sudah terlihat seperti seorang wanita, yang sedang merajuk pada kekasihnya.


"Makanya jangan suka neting sama orang, kan malu sendiri jadinya." Ucap Reegan terkekeh pelan. Dia mengeratkan pegangan tangannya pada Sarah, membuat Sarah tak nyaman, kini mereka menjadi pusat perhatian di sepanjang lorong rumah sakit itu.


"Lepas, Ree. Nggak enak diliatin orang." Bisik Sarah pada Reegan.


Reegan menghentikan langkahnya, lalu menatap Sarah. Wanita yang sudah memporak-porandakan pertahanan hatinya dalam semalam itu. "Iya udah, kamu siap-siap gih nanti obat nya biar diantar keruangan ayah kamu aja, kamu nggak usah antri. Aku mau kedalam dulu, ada urusan dikit. Nanti aku hubungi lagi ya." Ucap Reegan dengan tatapan lembut, sambil merapikan anak rambut Sarah. Membuat jantung Sarah dag dig dug tidak karuan.


"Iya sudah, aku balik ke kamar ayah dulu, kamu hati-hati nanti kalo udah berangkat ke kantor." Ucap Sarah yang tiba-tiba merasa gugup, dia ingin segera pergi dari sana sebelum jantungnya benar-benar bermasalah.


"Tunggu dulu, pamit yang benar. Sini aku contohin." Reegan menarik pelan pergelangan tangan Sarah, kemudian mencium kening wanita itu dengan sayang. Membuat Sarah mematung, hampir tak bisa bernapas.


"Napas, Sar. Baru juga dicium kening belum yang lain." Ucap pria itu kembali kemode datar.

__ADS_1


"Ck,suka banget seenaknya." Gerutu Sarah kemudian berbalik dan berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun.


__ADS_2