
"Makasih banyak, nak Reza. Bapak jadi nggak enak, udah ngerepotin gini. Duduk dulu, Sarah bikin kan minum dulu, nak." Seru pak Ramdhan pada Sarah yang sedang menaruh barang.
"Saya nggak merasa di repotin, pak. Lingkungan di sini nyaman ya pak, saya perhatikan dari jalan masuk tadi tidak terlihat ada sampah dan selokan nya juga terlihat sangat bersih." Ucap Dokter Reza mencoba berbasa-basi, meski memang dia sangat mengagumi lingkungan perkampungan yang menurutnya sangat bersih itu.
Jika di lihat dari depan, tampak seperti perumahan kelas menengah ke bawah, berjejer rapi, beberapa rumah ada yang memiliki pagar yang lainnya hanya dibatasi oleh tanaman pohon bunga. Hanya saja tidak di blok seperti perumahan, hanya gang yang di beri gapura.
"Benar nak, setiap dua minggu sekali, akan di adakan gotong royong masyarakat kampung sini. Membersihkan dimulai jalan masuk tadi sampai ujung perbatasan, dengan jalan menuju kampung sebelah." Jelas pak Ramdhan tampak bersemangat.
"Minum yah, dok. Silah kan hanya ini yang ada." Sarah meletakkan gelas teh hangat, serta satu toples plastik sedang yang berisi beberapa bungkus roti.
"Makasih, Sar. Apa aja yang kamu suguhkan aku pasti suka." Ucap dokter Reza lalu mengerlingkan mata nya membuat Sarah ingin sekali menyiram nya dengan air panas.
"Yah, Sarah ke dalam dulu. Mau nyuciin baju dari rumah sakit tadi." Sebenarnya Sarah hanya ingin menghindar saja, Berlama-lama berhadapan dengan dokter genit itu, membuat tensi Sarah langsung naik drastis.
"Nggak usah nak, kamu antar aja ke rumah teh Tini. Kamu istirahat saja didalam." Pak Ramdhan tau, anak nya itu hanya sedang menghindari dokter muda, yang ada di hadapan nya ini.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu, pak. Yang penting sudah tau rumah bapak, nanti lain kali saya mampir lagi kalau masih boleh." Ucap dokter Reza berusaha tetap ramah, walau hati nya sedikit kesal dengan sikap Sarah yang seakan memberinya pembatas.
"Tentu saja boleh, silahkan mampir lain kali, kapan aja tidak masalah. Kami bukan orang sibuk yang sering keluar rumah, jika tidak ada di depan artinya kami sedang ada di kebun belakang." Seloroh pak Ramdhan mencairkan suasana.
"Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu, mohon maaf kalau kehadiran saya mengganggu."
"Nggak mengganggu, nak Reza. Mampirlah lain kali, jangan sungkan." Ucap pak Ramdhan kemudian mengantar dokter Reza keluar. "Hati-hati nak, dan terima kasih banyak sudah mengantar." Ujar pak Ramdhan lagi.
Setelah mobil dokter Reza sudah tidak terlihat lagi, pak Ramdhan kembali masuk. Ada hal yang ingin dia tanyakan kepada Sarah, namun dia urungkan, anak nya itu juga butuh istirahat. Pak Ramdhan masuk kedalam kamar yang sudah dia tinggalkan selama beberapa hari ini, tampak sangat rapi, pasti Sarah yang sudah merapikan nya. Seingatnya sebelum dia pingsan, dalam kamar itu ada pecahan gelas dilantai yang jatuh dari tangannya. Pak Ramdhan kemudian merebahkan tubuh nya untuk beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Huufff, kalau bukan bos sudah ku marahi balik dari tadi. Nggak tau apa ini udah lewat jam makan siang." Gerutu Nindy yang sejak tadi, sudah tiga kali dimarahi dengan alasan yang tidak jelas.
"Ehmmm..." Deheman itu membuat Nindy terperanjat.
__ADS_1
"Ishhh, pak asisten suka sekali bikin saya jantungan. Kalau mau ngomelin saya pending dulu, jiwa raga saya sedang lelah sekarang, perut saya lapar, hati saya terluka dengan semua omelan tuan Reegan yang tidak berprikemanusiaan. Hanya karna peletakan tanda baca yang tidak sesuai keinginannya, kredibilitas ijazah saya langsung dipertanyakan. Apa-apaan itu, sudah memberi jasa selama 3 tahun tidak ada artinya, sial bener jadi bawahan." Omel Nindy panjang lebar, tanpa tau bahwa orang yang dia omeli berdiri tepat di belakang nya.
"Jadi kamu kesal karna saya omeli? Lapar, kenapa nggak makan, kok saya yang kamu salahkan. Abdi, tolong pesankan Nindy makan dari restoran dekat kantor, suruh dia pilih apa yang dia mau. Saya nggak mau di bilang bos yang tidak Berperikemanusiaan." Ucap Reegan panjang lebar, menekankan satu kata di ujung kalimatnya. Membuat Nindy salah tingkah, karna kedapatan mengomeli bos nya itu.
"Saya mau keluar, seperti nya nggak balik lagi, tolong kamu handle pekerjaan saya. Dan kamu, makan yang banyak, orang akan bertanya-tanya, kamu sekretaris saya apa anak SMA yang lagi magang." Reegan berbalik pergi menuju elevator, setelah memberi ultimatum yang tidak mengenakkan untuk di dengar dedua telingan Nindy.
"Iya, nggak usah balik aja sampe besok. Lama-lama bisa kena stroke ringan aku, kalau punya bos yang moodyan gitu." Ujar Nindy menggerutu kesal.
"Kamu mau pesan makan apa? Saya juga lapar, sekalian dipesankan apa mesan sendiri?." Tanya Abdi si asisten setia itu.
"Saya mau daging sapi lada hitam sama nasi, nasinya tolong dua porsi, trus minumnya juice lemon. Nggak pake lama." Ucap Nindy seenak jidat.
"Dua porsi nasi itu kamu pesankan untuk saya sekalian, apa gimana?".. Bukannya apa, melihat postur tubuh sekretaris itu membuat Abdi tidak percaya, dia bisa menghabiskan dua porsi nasi sekaligus.
"Untuk saya dong, pak asisten. Masa buat bapak, kenapa? Ragu saya bisa ngabisin, Tiga porsi juga saya masih sanggup ngabisin. Ini karna lagi kalem aja, makanya cuma pesen dua." Ucap Nindy mesem, dengan ekspresi yang dibuat malu malu mau, tapi nambah.
__ADS_1
"Ck, nggak nyangka saya, kalau kamu serakus itu. Pasti bos bakal nyesel lain kali pesankan kamu makan, kalau tau porsi makan kamu yang kaya kuli bangunan gini." Ucap Abdi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, badan sekecil itu makan nya porsi kuli.
"Enak aja bilang aku rakus, tadi nggak denger bos suruh aku makan yang banyak, yang ikhlas kenapa, buruan, laper nih." Enak saja bilang dia rakus, dia hanya mengambil kesempatan dalam kesulitan, dia jarang makan dengan menu daging-dagingan. Semua gajihnya dia dedikasikan untuk keluarganya, sang ibu yang sakit-sakitan, biaya adiknya yang kuliah dan satu lagi yang juga akan masuk kuliah tahun ini. Jadi dia harus ekstra berhemat. Apa salahnya sesekali mengambil kesempatan pikirnya.