
Reegan menendang pagar yang terkunci itu, dengan emosi yang meledak-ledak. Dia berada dirumah Sarah, tadi dia ingin mendatangi wanita itu dan juga ayahnya. Namun sampai disana rumah itu sudah tidak berpenghuni, semakin menambah kebencian Reegan pada Sarah dan juga ayahnya.
"Permisi mas, mau beli rumah neng Sarah ya? Oh ya, kenalkan saya teh Tini, yang biasa nyucikan pakaian neng Sarah. Neng Sarahnya pindah keluar kota, daerah selatan, rumah ini dijual beserta isinya. Barangkali masnya berminat, kebetulan saya yang pegang kuncinya, mau lihat-lihat dulu boleh." Jelas wanita itu panjang lebar, membuat kepala Reegan semakin mau pecah.
"Tidak, saya tidak berniat membeli kandang ayam rongsokan seperti ini." Sarkas Reegan, membuat tini melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Setelah pria itu pergi, Tini mengumpat kesal, seraya melempar batu ke arah mobil Reegan, yang masih terlihat walau sudah lumayan jauh. Reegan hanya melirik sekilas, melihat apa yang dilakukan oleh Tini.
"Gimana Tin, sudah aman?" Suara kang Sadin suaminya, membuat Tini ingin sekali melempar pria itu, dengan tabung gas yang katanya 12kg, tapi beratnya ngalahin karung besar 20kg.
"Aman, aman. Akang gimana sih, kok malah dia yang sembunyi. Kalo akang aja takut trus aku apa kabarnya." Omel Tini kesal, disaat terdesak, suaminya malah mendorongnya masuk ke kandang singa, dengan suka rela.
"Akang kesandung tadi, Tin. Udah jangan marah. Yuk lanjut panen sayurnya, tar keburu siang." Tini mencibir, pandai sekali suaminya itu berkelit. Mana ada orang kesandung masih sempat sembunyi dibalik pagar.
"Ayok, jangan merengut trus. Katanya mau beli kalung emas di pasar, yuk. buruan, udah tinggal panen aja lo ini, pak Adnan gak minta bagi dua. Gak nyangka pak Adnan orang kaya, mobil-mobil yang datang kemari menjemput beliau, mobil mahal semua Tin. Akang langsung nyari di internet, ckckck. Kalo kita Tin, 20tahun hasil kebun ini baru bisa beli mobil begitu." Ujar Sadin pada istri nya panjang lebar, sambil mengemasi karung sayur yang akan dibawa ke pasar.
Sebelum pergi, pak Adnan menyuruh mereka memanen hasil kebun dan menjualnya. Uang hasilnya ambil saja semua, kalau mau ditanami lagi juga boleh, mereka pergi entah untuk berapa lama. Sadin dan istrinya disuruh menempati rumah itu, hanya saja tidak dalam waktu dekat. Supaya orang-orang Prayoga tidak curiga, rumah itu bisa berganti pemilik secepat itu.
"Jadi akang pinjam hp aku cuma buat buka google, liat harga mobil-mobil itu kemaren. Ada-ada aja akang ni, nyari penyakit itu namanya." Omel Tini lagi.
"Kok nyari penyakit? Aku lho nyari hiburan, meski cuma lihat-lihat harganya aja." Ucap Sadin nyengir.
__ADS_1
"Nah, itu yang aku bilang nyari penyakit. Penyakit gila namanya kang, akang bisa stress kalo gak kesampaian. Amit-amit aku kang punya suami gila, udah susah tambah suami stress. Aku kubur hidup-hidup akang dikebun ini, lumayan, buat pupuk organik." Ujar Tini tak berperasaan, tangan terampilnya terus mengikat sayur lalu memasukkan nya kedalam karung, tanpa peduli tatapan horor suaminya.
"Kamu ini kok kejam nian pada ku dek, akang kurang apa sama kamu selama ini. Teganya akang mau kamu jadikan pupuk." Ujar suaminya mendrama.
"Akang kurang sehat, makanya aku sadarkan, sebelum terlambat." Ujar Tini santai tanpa rasa bersalah. "Nih ikat karungnya kang, mari kita kembali ke dunia nyata. Sayur-mayur ini perlu pembeli, dan kita butuh uangnya. Yuk, sudahi dulu berkhayal tingkat akut nya. Aku masih butuh akang buat waras sekarang, karung ini berat. Aku panggil kang Ujang dulu, kita otw pasar sekarang." Ucap Tini panjang lebar, kemudian berlalu begitu saja tanpa peduli suami nya yang melongo.
"Ck, punya istri kok kaya kompeni, suka nya nyiksa batin suami." Gerutu Sadin pada sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Eeughhh..." Lenguhan Sarah membuat lamunan pak Adnan buyar.
"Sarah, nak. Kamu udah sadar, Alhamdulillah. Rojak, kesini sebentar!" Seru pak Adnan pada orang suruhan Angga tersebut.
"Kamu minta tolong bibik, bikin kan Sarah bubur sama Susu hangat, yang tadi sudah Angga beli, ada dilemari dapur." Perintah pak Adnan sopan.
"Baik pak, saya permisi dulu." Rojak keluar dari kamar Sarah menuju dapur.
"Bik, bikinkan bubur buat non Sarah sama susu katanya, ada dilemari dapur. Nanti langsung antar saja kekamar, saya mau ke markas dulu." Ujar pria kekar itu pada bik Ninik pembantu villa milik Angga.
"Baik, Jak. Itu aja? itu dikulkas ada buah, tapi saya takut non Sarah mual apa gimana, soalnya lagi hamil muda. Saya takut salah." Ucap wanit paruh baya itu ragu-ragu.
__ADS_1
"Bawa aja, jangn dikupas dulu, nanti kalau suka bisa buka sendiri yang mana yang disuka." Rojak juga kurang pengalaman soal ibu hamil, kalau soal jenis senjata dan letak paling mematikan sebagai sasaran tembakan, dia paham.
"Ya sudah kalau gitu, bibik buat susu dulu, buburnya sudah ada." Bik Ninik berbalik meninggalkan Rojak, yang juga berjalan menuju ruang bawah tanah di villa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok...
"Permisi non, Sarah. Ini bubur sama susunya, ada buah juga, silah kan pilih sendiri, bibik tidak tau selera non Sarah, buah yang mana." Ujar wanita paruh baya itu ramah.
"Ini susu apa bik?" Sarah mengendus aroma susu digelas tersebut.
"Pak Angga bilang susu hamil non, itu dibelikan banyak sama ibu Lusi, ada vitamin ibu hamil juga ini saya simpan di laci." Ujarnya lagi seraya membuka laci nakas disamping ranjang Sarah.
"Owh, kok mereka bisa tau aku hamil bik. Eh itu maksud aku, gimana ya ngomong nya." Ucap Sarah sedikit malu, dia hamil tampa seorang suami.
"Waktu non Sarah tiba disini, dalam keadaan pingsan, waktu dijalan Andro sudah telpon Pak Angga, jadi sebelum sampai sini, dokternya sudah siaga duluan. Pas diperiksa katanya non Sarah hamil, syok juga, jadi nya pingsan." Jelas bik Ninik oanjang lebar, dia tau apa yang dipikirkan oleh majikan baru nya itu.
"Trus ayah ada disana waktu itu, bik?" Tanya Sarah cemas
"Ada non, tuan Adnan hanya menghela napas panjang saja, tidak ada reaksi apa-apa. Beliau semalam juga tidur disini, temani non Sarah. Kalau pak Angga dan bu Lusi pulang subuh tadi. Belum bisa kesini lagi sampai situasi aman." Ujar bi Ninik lagi dengan penjelasan yang mendetail tanpa Sarah minta.
__ADS_1
"Bik, makasih semua ini, nanti aku makan. Sekarang bibi bisa tolong panggil ayah dulu, aku mau ngomong, bilang aja gitu." Ucap Sarah ramah.
"Baik non, bibik Permisi dulu, sarapannya dimakan ya non." Wanita itu keluar dari kamar Sarah, menuju ruang bawah tanah, tempat ayah Sarah dan yang lainnya tengah berdiskusi.