
Sepanjang jalan, Kalla membriefing sang ibu. Dia tau ibunya pasti sangat syok, sama halnya dengan dirinya. Namun sikap tenang sang ibu membuat nya terlihat baik-baik saja. Sejak Kalla menjemput nya di rumah yayasan tadi, dan mulai menceritakan semua kejadian yang dia dengar dari sang ayah. Ibunya lebih banyak diam, seperti biasa, tidak ada penyelaan, tidak ada emosi yang berlebihan dan jangan lupa. Wajah teduh itu, selalu mampu memanipulasi keadaan. Kalla selalu kagum pada wanita di samping nya itu. Penguasaan dirinya sangat luar biasa.
"Bunda gak apa-apa, atau kita tunda saja dulu perjalanan ini. Kita bisa ke sana saat bunda sudah merasa siap." Kalla memecahkan keheningan diantara mereka.
...----------------...
Flashback
"Ini kita mau kemana nak, kenapa harus seburu-buru ini. Bunda masih harus melakukan sesuatu di dalam, anak-anak sudah menunggu." Sarah bingung, kehadiran Kalla memang sangat dia nantikan, 3 tahun lebih anaknya itu pergi tanpa pernah sekalipun pulang. Tentu saja dia sangat senang, akhirnya rasa rindu di hatinya sudah terobati sekarang.
"Nanti Kalla bakal ceritain ke bunda, tapi sebelum itu Kalla mau pastiin sesuatu dulu." Suara klakson yang Kalla tekan menjeda Ucapan pria itu. " Bunda gak ada riwayat penyakit jantung, kan?" Kali bertanya dengan wajah serius. Walau hanya sesekali melirik sekilas pada sang ibu lalu kembali fokus ke depan. Bisa Sarah lihat, dari sorot mata sang anak, jika itu bukan pertanyaan leluncon.
"Memang nya kenapa kamu nanya sampe segitu nya, nak? Orang bisa meninggal terkena serangan jantung, bahkan jika dia tidak mengidap nya. Di usia bunda ini, bisa saja hal itu terjadi. Misalnya ketika harus menghadapi situasi yang mendadak dan mengalami syok yang berat. Bisa saja itu terjadi." Jelas Sarah panjang lebar. Lalu menatap anaknya dengan tatapan menyelidik.
"Kamu gak lagi hamilin anak orang kan, nak?" Sarah bertanya dengan hati was-was.
"Gak lah bun, gila aja. Aku gak gitu, aku mana punya pacar." Kalla jadi gusar sendiri mendengar pertanyaan konyol sang ibu.
__ADS_1
"Jadi.?" Sarah masih menatap Kalla dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Kalau semisal nya, ini semisal nya aja ya. Kira kita masih hidup, atau ternyata dia selamat dari kejadian beberapa tahun lalu, karena kesalahan seseorang dalam mengenali nya waktu itu. Dan Kira kita tertukar dengan orang lain, dan kondisi nya sekarang baik-baik saja. Apa yang akan bunda lakukan? Ini semisal nya aja loh bun, aku tiba-tiba kepikiran aja ke arah sana, ya mungkin karena aku masih belum menerima kenyataan barangkali." Kalla menyelesaikan kalimatnya dengan menelan saliva nya susah payah. Berbohong bukanlah keahlian nya. Di liriknya sang ibu yang masih mematung, ada perasaan khawatir memenuhi hatinya.
"Itu semisalnya aja loh, bun. Kan aku bilang gitu, aku cuma mau tau tanggapan bunda aja. Namanya takdir siapa yang tau, bisa jadi hari ini aku bilang jomblo. Tau-tau besok ada seorang gadis datang kerumah, meminta pertanggungjawaban ku karena sudah mencelakai bokong montoknya. Bisa jadi kan." Kalla mengakhiri kalimatnya dengan kekehan garing.
Pria itu menipiskan bibir nya, saat mengingat gadis yang tanpa sengaja dia tabrak tadi pagi. Kalla menggeleng cepat, tidak, kenapa dia malah kepikiran dengan wanita itu. Namun wajahnya nampak tidak asing, seperti seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai. Ah, kala jadi merindukan gadis kecilnya yang menggemaskan.
"Kamu kenapa jadi senyum-senyum sendiri? Inti dari pertanyaan kamu tadi, belum kamu jelaskan sama bunda. Sekarang sudah sibuk menghayal bokong anak gadis orang." Sarah menggeleng pelan melihat kelakuan anaknya tersebut.
Sarah hanya menatap heran tingkah anaknya yang semakin aneh, pertanyaan saja masih mengambang belum mendapatkan jawaban. Anaknya itu malah terlihat sedang berbahagia, sudah mengerjai orang lain.
"Kamu itu kenapa, sih nak? Kok datang-datang tingkah kamu jadi aneh gini. Itu kenapa ngagetin orang kaya gitu, coba kalo seandainya salah satu dari mereka ada riwayat penyakit jantung, kan bahaya. Jangan gitu lagi, gak baik. Coba kalo yang di kagetin gitu tadi bunda, atau kakak kamu Keyra, kamu pasti bakal marah kan?." Peringat Sarah dalam bentuk nasehat yang lembut seperti biasanya.
"Ya bun maaf, aku lagi kesel aja. Suka bete kalo liat orang pacaran gak tau tempat kaya gitu." Ujar Kalla dengan wajah kesal, juga perasaan bersalah pada sang ibu. Dia merasa kesal, melihat tangan mungil gadis itu, melingkar di pinggang sang pria yang membonceng nya. Konyol sekali pikirnya, pasti ada yang salah dengan dirinya.
"Ya, sudah. Yang tadi gak mau di lanjutin? Kita ini udah berkendara melewati arah rumah, sebenarnya kita mau kemana?." Tanya Sarah mulai tak sabar, namun tetap dalam mode tenang.
__ADS_1
"Nanti bun, tar agak sepi. Biar aku fokus nyetir dulu, boleh bun?" Kalla menoleh sekilas lalu fokus pada jalanan di hadapannya.
Sarah tak menjawab, hanya anggukan kecil sebagai jawaban nya. Wanita itu menghela nafas panjang, lalu membuang nya bersama pandangan nya keluar. Sudah lama sekali dirinya tidak pernah keluar seperti ini, bahkan hanya sekedar untuk mengunjungi makan sang anak. Sarah masih belum mampu. Ini adalah kali pertama bagi nya, keluar dari yayasan, setelah lebih tiga tahun mengurung diri dengan kesibukan nya di tempat tersebut, tanpa mau tau bagaimana perkembangan dunia di luar sana.
Kalla berkali kali menoleh pada sang ibu, dia tau apa yang sedang wanita kesayangan nya itu lamun kan. Setelah perjalanan mereka susah cukup jauh dan kini mulai memasuki jalan tol, Kalla mulai memelankan kendaraan nya. Yakin akan spot untuk parkir yang aman, Kalla menghentikan mobilnya perlahan.
Sarah heran Menatap sekeliling yang sudah nampak lengang, kemana hiruk pikuk kendaraan yang tadi dia lihat. Akhir nya Sarah sadar, mereka sedang ada di pinggir jalan tol. Membuat nya semakin heran, ditatapnya sang anak dengan tatapan bertanya.
"Aku akan jelasin ke bunda maksud perkataan aku yang ambigu tadi." Kalla berkali kali menghela nafas panjang, dirinya sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat, yang akan dia sampai kan pada sang ibu. Ini diluar skenario yang dia sepakati dengan sang ayah, namun biarlah dia yang akan menanggung segala resiko dari tindakan nya tersebut. Melihat wanita yang sudah melahirkan nya itu hidup trus dalam rasa sakit karena perasaan kehilangan. Dirinya merasa perlu melakukan hal ini meski harus bertentangan dengan yang lain. Cukup sudah penderitaan ibunya, akan dia akhiri sekarang. Cukup sudah dia melihat bagaimana keluarga tenang dan bahagia nya, tercerai berai karena luka yang sama. Ini harus segera di hentikan.
flashback end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hah? Gak, gak. Kita lanjutkan saja, bunda sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adikmu. Lalu bagaimana dengan bunda, bukankah bunda dikatakan sedang sakit." Wajah Sarah yang tampak cerah tadi, kini kembali meredup. Putrinya pasti heran, jika melihat dirinya sudah nampak begitu sehat, dan kakinya baik-baik saja tanpa bantuan kursi roda.
"Itu gampang bun, ayah dan yang lain sudah bilang jika kondisi bunda sudah jauh lebih baik, hanya terkendala ijin dokter saja." Jelas Kalla pada sang ibu, wajah Sarah kembali cerah. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, kurang dari 11 jam kedepan. Mereka akan memulai hidup dan hari baru bersama, sebagai sebuah keluarga. Seperti dulu, namun dengan kisah yang berbeda.
__ADS_1