
"Gak usah dipikirin lagi, Seharusnya gak kaya gini ceritanya. Kalau saja anak dan ibu itu bisa di ajak kompromi dengan baik." Reegan merasa bersalah pada istri nya, bagaimana pun wanita itulah yang membesarkan Killa, selama hampir enam tahun ini.
"Gak apa-apa yah, aku udah persiapan kan diri sejak tau fakta yang sebenarnya. Hanya saja, bunda mikirin nasibnya Killa kalau dalam asuhan Sasa." Wanita baik hati itu masih tetap memikirkan anak yang bahkan, selama ini sering menyakiti hati dan juga fisiknya.
"Udah itu biar jadi urusan Satria, ayah sudah siapkan mereka tempat yang layak. Dengan segala kebutuhan nya selama setahun ke depan. Ada sedikit tabungan juga, pintar-pintar mereka saja yang mengatur nya." Jelas Reegan menenangkan hati sang istri. "Biar mereka belajar mencari makan dengan cara mereka sendiri sayang, putri kita bahkan sejak batita sudah mencari uang untuk wanita itu bersenang-senang." Lanjut Reegan lagi.
"Sekarang kita fokus pada tumbuh kembang anak kita ini, dia sudah banyak menderita sejak bayi merah. Entah apa yang sudah wanita itu lakukan pada Kira waktu dia masih bayi. Satria pernah bilang, Kira pernah beberapa kali dikasih obat tidur kalau wanita itu akan pergi menjual dirinya. Untung saja Dara selalu menawarkan diri untuk menjaga Kira, setiap kali wanita itu pergi." Suara pria itu terdengar garau menahan emosi, dielus pipi Kira yang sedang terlelap dipangkuan Sarah.
"Maaf yah, terlalu memikirkan Killa belakangan ini, membuat bunda sedikit lalai pada Kira kita. Mulai sekarang, bunda akan fokus pada anak-anak kita saja." Wanita menciumi wajah tenang putrinya dengan perasaan bersalah.
"Barang-barang Killa bagaimana yah?" Sarah baru teringat hal tersebut.
"Pas kita berangkat tadi orang-orang rumah sudah mengemasi semuanya. Besok Satria akan mengurus nya, dia akan mengantar Sasa dan Killa ke tempat baru mereka dengan identitas yang baru juga. Ayah sudah melepas nama Resar Sudibyo dari nama Killa, hanya Killara saja. Terserah ibunya, mau menambahkan nama apa dibelakang nama anaknya. Itu sudah bukan urusan kita lagi."
Reegan sudah mempersiapkan semuanya hingga sejauh itu, dia tidak ingin ada nama belakang mereka tersemat pada nama anak itu. Suatu saat nama itu bisa jadi masalah untuk keluarga mereka, dia tidak ingin sampai itu terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Om Satria Killa mohon jangan kasih Killa sama wanita itu, Killa gak mau. Buka om, bukaaa!!..." Tangis Killa tidak berhenti sejak dari restoran tadi. Membuat Sasa kesal bukan main.
"Bisa diam gak kamu, berisik banget. Liat ini, saya jadi gak dapat apa-apa gara-gara kamu bodoh. Mengambil hati ayah kamu aja gak bisa, liat sekarang, anak setan itu sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kamu. Dasar anak bodoh gak berguna!" Teriak wanita itu seperti orang gila.
"Nyesel aku udah lahirin kamu, aku tukar kamu itu biar ada gunanya. Ambil alih semua yang ada dirumah itu, biar kita jadi orang kaya, dan ayah kamu itu bisa kita kendalikan. Ingat Reegan itu ayah kandung kamu, jangan mau kalah kamu sama anak haram itu. Dia udah rebut ayah kamu, kamu harus ambil balik apa yang sudah dia rampas dari kamu."
Sasa mulai memprovokasi otak anaknya, yang memang sudah licik sedari bayi. Akan dia buat anaknya akan tetap menjadi bagian dari keluarga Sudibyo. Apapun caranya.
Sasa menatap anaknya yang masih sesenggukan didepan pintu, terbersit ide licik di otak kotornya. Sasa melangkah pelan menuju Killa yang masih menangis, Diusapnya pelan kepala gadis kecil itu.
'Maaf nak, ini semua demi kebaikan kita berdua. Kamu harus berkorban sekali lagi, mama gak mau hidup susah lagi, di usia mama yang udah gak mampu mencari uang yang banyak. Anak setan itu sudah tidak bersama mama untuk mencari kan mama uang dan kamu juga tidak mungkin mau hidup susah.' Dengan tanpa perasaan wanita itu membenturkan kepala kecil Killa ke pintu yang tidak lembut itu.
__ADS_1
Anak itu menjerit sebentar lalu hening, darah mengucur deras dari keningnya, membuat Sasa ngeri sendiri. Apa dia terlalu keras membenturnya, perasaan tidak juga. Sasa tersadar, lalu berteriak histeris dengan tangisan ala drama ikan melayang.
Satria yang kebetulan lewat dekat pintu itu bergegas memeriksa nya. Saat Satria membuka pintu itu mulutnya ternganga lebar, apa yang terjadi, bukankah tadi baik-baik saja walau anak itu terus menangis tiada henti.
"Bagaimana bisa seperti ini, kamu apakan dia, hah!?" Satria berteriak dengan emosi yang meledak-ledak. Bisa kacau semua rencana yang sudah mereka rancang untuk kedua orang ini.
"Dia kesal karena terus dikurung, dari tadi dia membentur-benturkan kepalanya meski sudah aku larang. Killa benar benar keras kepala. Sampai akhirnya dia membentur kepalanya dengan keras. Tolonglah anakku, bawa dia kerumah sakit sekarang." Tangis penuh kepalsuan Sasa, sudah membanjiri pipinya.
"Tejoooo, Abduul... Siapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang, wanita itu bawa sekalian. Pastikan dia tidak kabur, mungkin anak ini butuh darahnya nanti." Satria memberikan arahan dan perintah, sambil berjalan cepat menuju keluar rumah, kearah mobil yang sudah menunggu mereka dihalaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuutt tuuttt tuuuttt
"Hmmm?...."
"Bukan urusan gue."
"............................"
"Ck, kenapa masih nyusahin orang sih. Ya gue kesana, mau mandi dulu gue. Gue abis keringatan enak, gerah." Klik
Satria melongo mendengar berita tak penting itu, justru membuat nya semakin kesal saja.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap kerumah sakit, Reegan membangun kan istri nya bermaksud untuk pamit. "Sayang, aku mau ke rumah sakit dulu bentar, kamu di rumah aja." Reegan memakai jaketnya, sesubuh ini harusnya dia masih bisa nambah satu ronde lagi. Malah harus mengurus hal gak penting.
"Loh, siapa yang sakit? Kenapa gak bangunin dari tadi?" Sarah baru terbangun dari mimpi indahnya. Masih berusaha mencerna apa yang dia dengan dari sang suami.
"Killa, katanya dia benturin kepalanya ke pintu apa tembok gitu. Gak jelas juga. Bunda di rumah aja ya."
__ADS_1
"Aku ikut yah, mau liat langsung biar tenang. Bentar, aku gosok gigi sama cuci muka. Gak lama kok." Ujar Sarah bergegas menuju kamar mandi.
Reegan hanya terdiam di tempat, jika sang istri ikut maka akan lain lagi ceritanya. Bisa-bisa rencananya untuk mengasingkan kedua orang itu akan gagal total.
klek
"Ayo sayang, aku gini aja gak apa-apa?" Setelan baju tidur batik itu sangat pas ditubuh sang istri, lebih seperti baju jalan ketimbang baju tidur.
"Ya gitu aja, tapi kok cantik banget sih. Gak usah lipstikan bedak atau segala macem. Ayo sayang." Reegan malah gelisah memikirkan penampilan sang istri, ketimbang kabar dari Satria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok bisa sampe separah itu kalo di benturin sendiri. Curiga gue, ini emaknya punya konspirasi, supaya mereka gak jadi kita deportasi dari kota ini." Ujar Reegan menggebu-gebu.
"Emaknya lo bawa gak, gue beri pelajaran tu orang, kesal gue." Reegan beranjak dari duduknya, namun segera ditahan oleh Satria.
"Gak usah, udah lemes di dalam. Tadi gue paksa suster buat ambil darahnya sebanyak yang Killa butuhin. Gue juga kesel, bukan lo doang." Ujar pria itu tampak gusar.
"Lo kesal kenapa, di sini harusnya gue yang kesal. Kerjaan yang harus nya lo selesain sendiri masih bawa-bawa gue juga. Udah gue bayar tunai juga." Omel pria itu tak mau kalah.
"Udah udah, malu itu dilihatin orang. Kak Tria geseran dikit sana, deket-deket tar malah berantem. Itu Killa gimana di dalam, apa kata dokternya?."
"Lukanya tadi dijahit 4 jahitan. Kondisi stabil aja. Cuma sengaja dikasih obat supaya tu anak lanjut tidur apa gimana gitu. Kamu kenapa mesti ikut kesini. Tar jiwa keibuan kamu bisa dimanfaatkan sama mereka. Kamu itu lemah soal itu." Pria itu balas mengomeli istri Reegan tersebut.
"Loh, kok lo jadi ngomelin istri gue sih." Ujar pria itu nyolot tak Terima, istri cantik nya diomeli.
"Gue cu...."
"Udah, diem semua. Jangan ada yang ngomong lagi. Udah pada tua kok hobbynya ribut, udah kaya ibu-ibu berebut sembako gratis." Intrupsi dari nyonya Sudibyo, mampu membungkam kedua pria tanggung yang punya bakat berdebat tersebut.
__ADS_1