Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLXI


__ADS_3

Keenan Menatap sang ibu dengan tatapan yang sulit di Jabar kan. Sebagai anak sulung di keluarga tersebut, dia merasa peran nya sebagai seorang anak, tidak cukup berarti. Meski hanya sedikit meringankan beban orang tuanya. Keenan duduk di sisi ranjang ibunya, menggenggam tangan mungil itu kemudian menciumnya dengan penuh perasaan. Tanpa terasa, air matanya menetes di punggung tangan sang ibu.


"Bunda gak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu di pikirkan. Lihat adik-adik mu, mereka akan semakin sedih dan rapuh, jika melihat mu seperti ini." Dengan sedikit tenaga, Sarah berusaha untuk mendudukkan dirinya. Reegan yang tanggap akan pergerakan sang istri, segera menekan tombol panel pengatur ranjang tersebut.


"Kita akan melanjutkan pengobatan itu lagi. Kini, tolong berbagi lah pada kami. Bunda tidak sendirian, Asha sudah ada bersama kita. Dia akan menjadi orang pertama yang merasa sedih dan bersalah, jika sesuatu terjadi pada bunda." Keenan Menatap sang ibu dengan penuh permohonan dan harapan yang besar. Agar hati keras ibunya bisa sedikit melunak.


"Kita akan pikiran nanti saja, adikmu pasti kebingungan di rumah, karena tidak mendapati ayah dan bunda di dalam kamar. Coba hubungi bi Surti, siapkan sarapan untuk Asha. Hari ini adalah pagi pertama nya di rumah, namun kita malah berada di sini semua." Lagi-lagi sang ibu mengalihkan topik pembicaraan mereka. Keenan hanya bisa menghela nafas pasrah, kemudian beranjak untuk menghubungi ART mereka.


"Teteh?" Sarah menatap pada putrinya.


"Ya, bun?" Keyra duduk di tempat dimana tadi sang kakak duduk, kemudian menggenggam tangan sang ibu. "Ada apa? Bunda mau sesuatu, atau ada yang gak enak bunda rasa? Sakit? Dimana? Biar aku periksa." Cecar Keyra pada ibunya.

__ADS_1


"Bunda gak pengen apa-apa. Gak ada sakit juga. Kamu nanti pulang mampir di rumah, temani adik mu Sarapan. Pasti kan dia makan yang banyak, harusnya hari ini bunda yang menyiapkan sarapan pertama nya di rumah." Wanita itu menatap sendu pada putrinya. Semua di luar rencana, dan dia benci akan kondisi nya yang tidak bisa di ajak berkompromi.


"Udah, bunda gak usah mikirin itu dulu. Asha pasti ngerti, nanti aku kasih tau pelan-pelan. Bunda harus sehat dulu jika ingin melakukan Banyak hal untuk Asha. Untuk itu, bunda harus melanjutkan pengobatan yang terhenti. Aku akan menghubungi salah seorang rekan sejawat ku yang ada di Singapura, untuk mengkonsultasikan tentang penyakit bunda." Keyra berujar panjang agar sang ibu mau melakukan pengobatan. Dia berharap, dengan menyelipkan nama sang adik, dapat meluluhkan hati sang ibu.


Sarah terdiam, menatap kosong pada ujung ranjangnya. Nampak wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Terlihat dari caranya menghela nafas berkali-kali dengan desah yang berat.


"Mau ya bun? Kalo bunda gak mau berobat jauh ke luar negeri. Cukup di sini saja, ada aku, ada kami semua. Aku akan meminta Andreas untuk menghandle semua pekerjaan ku di Singapura, sementara waktu aku di sini. Tidak masalah, aku bisa ke sana sesekali jika memang harus." Kalla pun tak tinggal diam, di juga berusaha untuk membujuk sang ibu.


"Bagaimana jika tidak berhasil?" Bukan jawaban yang wanita itu berikan, melainkan sebuah pertanyaan, yang sama sekali tak mampu di jawab oleh anak-anak juga suami nya. Keyra pun bungkam, meski dirinya seorang dokter, namun untuk menentukan nasib seorang pasien. Itu tergantung bagaimana cara Tuhan bekerja. Dia hanya manusia biasa, ilmu yang dia miliki, juga berasal dari pengetahuan manusia, dan Tuhan sebagai penentu akhir, dari segala macam bentuk perjuangan mereka dalam menangani para pasien.


Sehebat apapun teknologi medis, seampuh apapun obat yang mereka berikan. Namun tetap tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Manusia punya rencana namun semesta punya kendali. Begitulah cara alam bekerja.

__ADS_1


Keluarga kecil itu pun terdiam, tidak ada yang bisa memberikan jawaban. Karena memang dokter sudah menjelaskan, jika harapan hidup bagi Sarah, tergantung dari bagaimana tubuh sang pasien merespon berbagai metode pengobatan, yang akan mereka berikan. Namun mereka percaya pada kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi_Nya, jika kita berusaha serta menyerahkan segalanya di dalam doa yang tulus. Maka sekecil apapun peluang yang Sarah miliki untuk sembuh, akan mereka ambil meski dengan berbagai resiko.


"Kita akan mengusahakan nya bun. Bunda hanya perlu mempercayakan segalanya pada para dokter, yang di percaya untuk menangani pengobatan bunda. Selebihnya, percayakan pada kuasa Tuhan. Bunda hanya perlu meyakinkan diri, bahwa tidak ada usaha yang menghianati hasil." Kali ini Keenan pun kembali membujuk. Pria itu terlihat begitu putus asa, nada rapuh nya sudah mulai dia keluar kan. Matanya berkaca-kaca, sekali lagi dia mendengar penolakan terlontar dari mulut sang ibu, maka dirinya pasti akan menangis keras dalam luka, Karena tak berhasil membujuk sang ibu.


Sarah menatap satu persatu orang-orang kesayangan nya itu, hatinya dilema, efek kemo sudah jelas akan dia rasakan jika dia mengiyakan nya. Untuk itu, selama ini dirinya nya hanya mengkonsumsi obat-obatan saja. Namun itu malah berpengaruh buruk pada orang tubuhnya yang lain.


"Baiklah. Jika itu bisa membuat kalian tenang, akan bunda lakukan." Putus Sarah akhirnya. Tidak ada gunanya dia terus-menerus menolak, toh keluarga nya sudah mengetahui nya bukan? Biarlah kini dia mulai berbagi, tidak hanya bahagia nya, namun juga sakit dan segala kesedihan nya.


Akhirnya senyum cerah penuh harapan itupun terbit di bibir keluarga nya. Keputusan itu sudah benar, hanya tinggal menjalani nya saja, dan dia yakin akan kuat. Bersama keluarga nya, maut sekalipun, akan dia tantang dengan berani. Tidak ada alasan lagi memendam kesakitan nya seorang diri, putrinya sudah kembali, anak-anaknya kini kembali berkumpul. Juga sang suami, yang sudah dengan setia, menantinya pulang kembali tanpa mengeluh kan apapun. Meskinya dirinya tidak lah pulang dalam keadaan baik-baik saja.


Sarah menatap pria yang sejak tadi hanya diam saja, namun Sarah tau. Ada banyak harapan dalam diam pria itu. Hanya saja, sang suami terlalu menghargai setiap keputusan nya. Menjadikan pilihan nya, sebagai sesuatu yang harus di dahului, meski dirinya pun, memiliki banyak harapan-harapan lain. Namun menentang keinginan sang istri, dia tidak sanggup. Ada banyak kesalahan di masa lalu, akibat dari mengabaikan keinginan istri nya. Dari situlah, dia belajar banyak, arti dari menghargai dan mengalah untuk kebaikan bersama.

__ADS_1


Bagi Reegan, diam akan lebih menyelamatkan. Karena, jika diam mu bisa membuat hidup orang lain aman dan damai, maka belajar lah diam, agar kau tidak melukai hati siapa pun. Bila bungkam mu dapat menenangkan situasi, maka cukup lah mencerna keadaan di sekitar nya, tanpa harus mengubahnya sesuai kehendak mu. Karena ekspektasi tidak selalu sejalan dengan realitas.


__ADS_2