Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XIV


__ADS_3

"Makasih, kang Ujang sama teh Winar udah menemani ayah selama Sarah keluar." Ucap Sarah sambil memberikan 1 buah paper bag berisi beberapa roti, dan 1 kantong plastik berisi beberapa botol minuman kemasan.


"Banyak banget, neng." Ucap teh Winar tidak enak. Pasal nya, tadi mereka datang hanya membawa satu dus air mineral kemasan gelas, dia jadi malu sendiri.


"Nggak banyak, teh. Itu namanya rejeki si utun, pamali kalau di tolak. Tar lahir nya mirip aku, kan aku nya jadi senang." Ucap Sarah terkekeh. Setiap kali bertemu dengan wanita hamil, Sarah selalu berdoa pada Tuhan, agar di segerakan menjadi seorang ibu.


"Wah, senang malah aku. Neng Sarah geulis pisan, nggak rugi kalau si utun mirip sama Neng mah." Ucap teh Winar bersemangat, sambil mengelus perut buncit nya.


"Aku yang rugi, udah kerja keras semua hasil nggak ada satu pun yang mirip." Keluh kang Ujang.


"Harus nya akang tuh bersyukur, itu arti nya anak-anak kita sedang berusaha untuk memperbaiki keturunan." Ucapan teh Winar, berhasil memancing tawa mereka semua.


"Mari, pak Ramdhan. Kami pamit pulang dulu, nanti kalau ada apa apa yang mau di ambil dirumah hubungi saja. Jangan sungkan, itu kunci rumah nya saya taruh di tempat biasa, di bawah pot bunga. Kalau kalau neng Sarah mau mampir ke rumah ambil sesuatu."


Terimakasih kang Ujang, sudah repot repot jenguk saya. Nanti akan saya hubungi, jika memang lagi butuh bantuan kang ujang.

__ADS_1


Setelah kepergian kang ujang dan istri nya, Sarah menawarkan cake yang tadi dia beli. Hanya tinggal 4 potong, tadi dia membagi 2 potong dengan teh Winar dan 4 bungkus roti isi.


"Ayah harus coba, ini enak banget kaya nya. Aroma nya aja udah bikin iler Sarah menetes."


"Kok, kaya nya. Memang nya kamu belum nyoba?".. Tanya pak Ramdhan bingung.


"Belum yah, tadi kan abis beli ini, Sarah mau langsung pulang. Nah, pas lagi antri di kasir, Sarah tiba tiba di samperin sama bu Maya." Jelas Sarah pada ayah nya.


Mendengar nama itu lagi, membuat hati pak Ramdhan yang tadi sudah tenang kembali gelisah.


"Memang nya kalian sudah se akrab itu, sampai ibu itu mengajak kamu untuk menemani nya berbelanja?"..


"Tadi itu baru pertemuan kami yang ke tiga, yah. Bu Maya, sampe seantusias itu bisa ketemu sama Sarah. Sarah jadi nggak enak di liatin sama pegawai toko di sana."


"Sarah merasa nyaman saat bersama bu Maya, beliau memperlakukan Sarah seperti anak nya sendiri. Setidak nya itu yang Sarah rasakan, Sarah jadi kembali merasakan kehangatan seorang ibu, saat bersama bu Maya." Ucap Sarah dengan wajah sendu, terlihat sekali jika dia sangat merindukan ibu nya.

__ADS_1


"Ayah senang, ada yang menyayangi dan memperlakukan anak ayah dengan baik." Ucap pak Ramdhan, tersenyum sambil mengelus kepala Sarah dengan sayang.


"Nih, minum dulu yah." Ucap Sarah, memberikan air mineral yang di bawa oleh kang Ujang tadi.


"Kamu kalau mau pulang, pulang aja. Ayah nggak apa apa sendiri." Pak Ramdhan hanya tidak ingin, anak dan menantu nya bertengkar, hanya karna Sarah terlalu banyak menghabis kan waktu bersamanya di rumah sakit.


"Nggak, yah. Sarah mau nginep di sini aja sampai ayah keluar nanti. Malas bolak balik, dari rumah ke sini lumayan jauh. Nanti Sarah ambil pakaian yang ada di rumah ayah aja, lebih dekat"


"Loh, jangan gitu, nak. Ayah bukan nya tidak senang kamu di sini menemani ayah. Tapi kamu juga punya suami yang harus kamu perhatikan, jangan sampai kalian ribut karena ayah." Nasehat pak Ramdhan.


"Di liat nantilah, yah. Oya, tadi dokter nya sudah ada visit kesini nggak, yah?".. Tiba-tiba Sarah teringat pada dokter Reza, apa kabar nya pria itu setelah tadi adu jotos dengan suami nya.


"Ada, tadi sebelum jam makan siang. Kasihan sekali dokter Reza. Habis di serang sama orang gila katanya, itu mukanya sampai memar memar gitu, ayah sampe ngeri liat nya." Pak Ramdhan jadi teringat, ketika dokter tampan itu datang untuk memeriksa keadaan nya.


Sarah terkikik geli, jika suami nya tau dia di katai sebagai orang gila. Bisa jadi, mereka akan adu jotos lebih hebat lagi.

__ADS_1


"Kamu kok, ketawa gitu dengar ayah cerita, kasihan loh, Sar. Wajah dokter yang tampan itu jadi di tambal tambal plester. Ucap Pak Ramdhan geleng geleng kepala.


__ADS_2