Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXII


__ADS_3

"Sarah?.. Kamu nak, ya ampun ibu seharian ini kepikiran sama kamu terus. Ayah kamu gimana kabarnya, tadi jadi pasang ring jantung nya. Maaf ya, ibu nggak bisa dateng jenguk ayah kamu, hari ini ibu nggak sama pak Danar. Ikut anak ibu, tuh lagi di mobil." Mengarahkan telunjuknya ke mobil yang sedang parkir di pinggir jalan itu. Bu Maya tampak begitu senang bisa bertemu dengan Sarah, ia sampai lupa akan kekesalannya pada sang anak.


"Iya bu, nggak apa apa. Ayah baik, sudah pasang ring tadi pagi. Sarah hanya menemani ayah sampe siang, ada undangan pak RT tetangga ayah, nggak enak kalau nggak datang. Ini baru mau balik ke rumah sakit." Jelas Sarah menjawab satu persatu pertanyaan beruntun bu Maya.


"Kamu naik apa tadi, ikut ibu aja yuk. Sekalian ini mau pulang juga, mau ya?".. Tawar bu Maya sedikit memaksa seperti biasa.


"Eh, nggak usah bu, Sarah naik ojek dari sini deket kok, tar ibu mutar nya jauh." Bukan nya apa, Sarah hanya tidak enak pada anak nya bu Maya, yang katanya sedang menunggu di mobil.


"Nggak jauh kok, mau yaa?" Ucap bu Maya dengan wajah memelas.


"Ehmm..!" Suara deheman itu mengalihkan pandangan Sarah dan bu Maya.


"Anda?"..


"Kamu kenal sama anak ibu? Wah kebetulan sekali." Seru bu Maya dengan ekspresi girang, namun tidak dengan kedua manusia yang terlihat seperti musuh bebuyutan itu.


"Nggak!"..


"Kenal!"..


Ucap keduanya bersamaan, lalu saling menatap dengan tatapan tajam, yang membuat bu Maya keheranan melihat tingkah keduanya.


Sementara, Reegan tampak begitu malu. Bisa-bisa nya perempuan itu mengatakan tak mengenal nya setelah dia di rampok habis-habisan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Yang benar yang mana, kenal apa enggak?".. Tanya bu Maya memastikan, lalu menatap keduanya bergantian.


"Kenal ma, kenal banget malah. Iya kan, sayang?" Ucap Reegan penuh percaya diri, lalu merangkul bahu Sarah dan meremas pelan bahu wanita itu, pertanda bahwa kali ini dia yang mengendalikan situasi, dan Sarah harus menurut padanya.


"Loh? Ini gimana maksud nya? Bukannya Sarah sudah menikah?".. Pertanyaan sang ibu hampir membuat Reegan tersedak gerobak sate yang ada di depannya.


"Itu bu..."


"Bentar lagi pisah, ma. Kita juga baru jalan 2 minggu, jadi Sarah masih malu-malu mengakui nya. Iya kan , sayang." Reegan memotong ucapan Sarah, lalu mengarang bebas versi dirinya.


"Kamu kok bisa ada di sini sih, sayang? Tadi aku ada ngirim pesan lho ke ponsel kamu, nanti di liat ya." Ucap Reegan sambil merapikan anak rambut Sarah yang menjuntai ke wajah nya. Sungguh pemain drama yang hebat, batin Sarah jengkel. Situasi itu membuat nya jadi serba salah.


"Aku.."


"Ck, kamu itu kalo mau mesra-mesraan jangan depan mama, mau pamer kamu, kalo udah nggak jomblo akut lagi. Tuh, Sarah jadi malu gitu."


Wajah Sarah sudah seperti kepiting rebus, menahan malu. Bisa-bisa nya pria itu memperlakukan nya, seolah mereka adalah pasangan kekasih benaran.


"Neng, ini sudah. Ini punya ibu nya ya yang satu bungkus ini?" Tanya si penjual pada Sarah sambil mengangkat satu plastik lagi, kemudian menyerahkan nya pada Sarah.


"Pak Amat, tolong ini di bawa semua. Trus bayarin sekalian ya, yuk sayang kita tunggu di mobil aja." Reegan masih berada dalam sandiwara nya, yang tampak memukau para pemirsah ikan terbang.


"Eh, aku..."

__ADS_1


"Udah Sarah, kamu duluan aja sama Reegan, ibu mau beli itu sekalian, lama nggak pernah kuliner ginian. Jadi kangen. Yuk pak Amat ikut saya." Ucap bu Maya, membuat Sarah tak berkutik saat tangan nya trus di tarik oleh Reegan menuju mobil.


Setelah mengambil posisi terbaik di jok belakang, Sarah menatap tajam ke arah Reegan.


"Anda apa-apaan sih, sayang sayang, sayang dari mana coba. Saya itu su..."


"Sudah menikah, begitu? Kan sebentar lagi mau pisah, bukan nya pepatah bilang bahwa, kata-kata adalah doa." Ucap Reegan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sarah hanya mampu menghela nafasnya, menetralkan perasaan nya yang campur aduk. Antara ingin marah, teriak dan juga menangis.


"Nggak usah manyun gitu, kamu mau menggoda saya dengan bibir kecil kamu itu, saya nggak nafsu." Ucap Reegan datar, namun sangat bertentangan dengan isi hati dan pikiran nya.


Melihat bibir ranum Sarah sejak tadi, membuat dia ingin sekali meraup bibir mungil itu. Berada dalam satu ruang dengan wanita itu, mampu mengusik bagian diri nya yang lain. Reegan mulai tampak gelisah dalam duduknya.


"Ck, mama mana sih, lama banget." Decak Reegan kesal, lalu meraih ponsel di sakunya untuk menghubungi sang ibu.


"Hallo, Gan. Mama sama pak Amat udah pulang duluan, tadi mama sama pak Amat jalan nya kejauhan malas mutar balik. Jadi langsung naik taksi yang kebetulan lewat. Kamu tolong antar Sarah ya. Daah. Panggilan terputus, Reegan benar-benar speechless dengan kelakuan ajaib sang ibu. Bisa-bisa mereka pulang duluan tanpa mengabari nya.


"Pindah ke depan." Perintah Reegan pada Sarah, tentu saja membuat wanita itu senang, karena tidak harus satu kursi dengan pria itu. Dia bergegas pindah ke depan dengan senyum senang.


"Loh! kok. Kamu duduk di depan juga?" .. Tanya Sarah heran, lalu sopir pria itu akan duduk dimana, dia bahkan tanpa sadar memanggil Reegan dengan sebutan kamu.


"Trus, kamu harapnya mobil ini bisa jalan sendiri begitu?".. Ucap Reegan darat.

__ADS_1


"Sopir sama mama kamu, gimana? Eh, kok jalan sih? Ucap Sarah panik


__ADS_2