Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXVI


__ADS_3

"Malam sayang, kamu kapan pulang. Bukankah ini sudah libur semester? Mama kangen, papa sama Cia juga."


"Liat minggu depan ma, Keyra apa kabar ma? Ada nanyain aku sama mama gak?"


"Memangnya kamu siapa sampe harus ditanyain segala?"


"Ck, mama. Kan aku nanya doang, jawabnya biasa aja dong. Gak usah make urat." Balas Al sewot.


"Makanya kamu pulang, udah setahun Al. Kamu gak kangen apa sama mama, masakan mama, kecerewetan mama? Belum lagi Keyra, ada aja teman cowo dari sekolah nya yang ngirimin paket coklat sama bunga. Ah, anak itu makin cantik aja, saingan mama jadi banyak. Alamat bisa batal jadi mantu kalo gini nih. Ya kan paa!?" Seru wanita itu meminta dukungan sang suami, agar sandiwara akal bulus nya berjalan lancar.


"Mama kalo mau manasin hati aku gak usah sampe gitu juga, Al cemburu ma. Al bakal pulang besok, jangan bilang Keyra dulu, aku mau ngasih kejutan." Ujar remaja itu gelisah, Keyranya memang cantik, wajar jika banyak yang menyukainya. Tapi Al tidak terima, gadis itu miliknya sejak kecil, dan akan selalu seperti itu selamanya.


"Ya sudah. Jangan lupa pesanan mama ya, nak. Mama sayang kamu, bye..." Wanita itu menutup sambungan telpon dengan senyum penuh kemenangan.


Angga hanya menggelengkan kepala. " Udah puas bisa memprovokasi Al supaya pulang." Tanya pria itu menoleh sekilas, lalu fokus pada acara bola kesukaannya.


"Ih, pah. Mama gak gitu ya, itu karna mama udah kangen banget sama Al. Emang papa gak kangen apa sama anak kita." Jawab wanita itu mengerucut kan mulutnya.


"Kangen lah, tapi papa lebih kangen yang ada dibalik daster mama ini. Udah bersih belum, udah seminggu nih si entong nganggur. Pasti tembakannya seperti air mengalir deras." Balas pria itu seraya menarik tangan sang istri dan meletakkan nya, di permukaan celana boxer yang dia pakai.


"Ihh, papa suka gitu. Kan mama jadi mau nih, tanggung jawab lo ya." Wanita itu lalu berjongkok didepan sang suami, yang sedang duduk disofak kamar mereka.


Kemudian mengeluarkan permen lollipop kesukaan nya, lalu mulai memainkan nya dengan lincah. Membuat Angga mendesis enak, dengan mata sayu dia menatap sang istri yang tengah sibuk dengan kegiatan nya dibawah sana.

__ADS_1


Sshhhh.... Maah... Naik sayang..


Wanita itu kemudian membuka semua yang melekat pada tubuh montoknya, dan mulai naik diatas pangkuan sang suami.


"Aaah... Mah..." Angga menikmati setiap sensasi dari goyangan maut sang istri.


"Paah.. Ouch.. Aah.."


"Belakang sayang" Paham keinginan sang suami, Lusi melepas penyatuan mereka, lalu memposisikan diri memunggungi Angga. Dengan berpegangan disandaran sofa, kedua kakinya dia ditekuk kan diatas sofa.


"Aaah... Sayang.. Kamu selalu nikmat.. Ssshhh.. " Angga memacu dari belakang dengan hentakan kuat yang membuat tubuh lusi berguncang, Angga meremas kedua gunung kembar istrinya, yang sangat dia sukai itu.


"Pah.. aku mau.."


"Hah.. hah.. Makasih sayang. Kamu selalu nikmat seperti dulu." Angga menghadiahi sang istri dengan banyak ciuman, kemudian menggendong wanita itu menuju kamar mandi.


Bagi Angga tubuh subur sang istri bukan masalah baginya, tidak pernah sekalipun dirinya menyuruh wanita itu berdiet. Seapapun bentuknya sekarang, itu menandakan bahwasanya sang istri bahagia menikah dengannya. Itu sudah cukup, kebutuhan mereka saling terpenuhi, rumah tangga mereka bahagia, rejeki yang cukup, anak-anak tumbuh sehat dan berprilaku baik. Maka nikmat Tuhan mana lagi, yang coba mereka dustai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, maaf ya. Tadi aku ninggalin kalian di mall. Adek gimana, buat ulah apalagi dia disana." Reegan merasa sangat bersalah, sudah meninggal kan sang istri bersama putri bungsunya itu.


Melihat notif M-Banking yang masuk diponselnya, sudah bisa dipastikan, jika sang anak pasti melakukan sesuatu hingga membuat saldonya terkuras banyak. Tidak masalah baginya, hanya saja dia tidak ingin sang istri stress, karena menghadapi tingkah ajaib putrinya.

__ADS_1


"Killa ngamuk di toko mainan, yah. Tadi dia mau Barbie yang kaya punya teteh nya, yang hadiah ulang tahun dari Al, ingatkan. Yang model gitu udah gak keluar lagi. Ngamuklah dia." Cerita sang istri dengan wajah sendu.


"Sebenarnya gak banyak yang rusak juga mainannya, cuma dus-dus nya aja yang rusak banyak. Jangan dimarahin ya, itu salah bunda gak bisa mendidik Killa dengan baik seperti kakak-kakaknya." Lanjut wanita itu lagi kemudian menatap sang suami, dengan perasaan bersalah.


"Gak sayang, ayah gak marah. Kenapa ngomongnya gitu, bunda itu hebat, hebat banget malah. Kalo dikasih poin 1-10, bunda itu 15." Reegan mencium dalam kening sang istri, dia tidak suka saat istrinya mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Kita akan mencari solusi buat si adek sama-sama, bukan hanya bunda yang bertugas mendidik Killa. Tapi ayah juga, ingat sayang apapun hasil Didikan kamu sama anak-anak, itu sudah hebat. Tidak ada yang salah apalagi kurang, Killa mungkin butuh orang yang bisa sefrekuensi dengannya, atau minimal yang bisa membuatnya menurut." Pria itu Kembali mencium pucuk kepala istri nya.


"Bunda ingat Daniel, anaknya Bintang. Ayah liat Daniel selalu bisa mengatasi Killa, saat sikap tantrumnya kambuh. Entah itu kebetulan atau memang Killa yang merasa nyaman jika ditenangkan oleh Daniel." Reegan menjeda ucapannya. Pria itu berusaha mengatur kata-kata yang pas, untuk disampaikan pada sang istri.


"Mungkin kalau Killa beberapa hari bersama Daniel, sikapnya bisa sedikit berubah. Ya, mungkin 3-4 harilah, sepi juga kalau anak itu gak dirumah. Gak ada yang ngerusuhin kita." Ujar Reegan diakhiri Dengan kekehan was-was.


Reegan melirik sang istri dengan perasaan cemas, pasalnya istri nya itu hanya diam saja.


"Ayah udah setuju?" Tanya Sarah sambil menatap sang suami, dengan tatapan yang sulit Reegan tebak.


"Belum juga, ayah sih ikut bunda aja. Lagian Killa kan anak kita, masa titip orang sih. Gak lah, ayah cuma gak enak sama Bintang aja. Suka banget sama anak perempuan, taukan anaknya 3 cowok semua." Jurus berkilah ala Revan pun diluncurkan. Demi menyelamatkan diri, batin nya. Maafkan sahabat laknat mu ini, Bin.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Sarah membuka suara. "Bunda sih gak apa-apa, kalo misalnya Bintang sama istrinya gak keberatan. Tau kan, Killa itu gimana kalo udah ngamuk. Kemauan nya harus semua dituruti. Kasian juga, takut kebawa sampe dewasa, malah gak baik untuk dirinya sendiri."


Sontak saja jawaban Sarah, hampir membuat Reegan jingkrak-jingkrak diatas ranjang. Bukannya dia mau jadi orang tua durhaka pada anak sendiri, Reegan hanya sekedar berusaha mencari solusi lain. Anak bungsunya itu memang membutuhkan "pertolongan", dan dia berharap banyak pada Si bungsunya Bintang tersebut.


"Ya sudah kalo bunda mikirnya gitu, ayah tu nurut aja yang mana baiknya. Nanti ayah telpon Bintang dulu, gak enak kalo langsung antar, Killa juga belum kita kasih tau. Takutnya malah anaknya protes." Protes ala Killa sering membuat Reegan sakit kepala. Dia harap putri bungsunya itu bisa diajak kompromi kali ini, dia benar-benar menggantungkan banyak harapan pada Daniel kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2