Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XCVI


__ADS_3

"Astaga mas, gak usah narik-narik gini. Aku bukan sapi."Seru wanita itu kesal. Pasalnya sang kekasih datang, saat dia tengah mencuci pakaiannya dan Kira. Dengan menggunakan mesin cuci lima jari serbaguna.


"Mau kemana sih mas? Ini tangan aku busa semua, buru-buru banget, biasanya juga kalo datang kesini langsung ajak mendesah." Satria membungkam mulut cerewet wanita itu, dengan ciuman mautnya.


"Udah, jangan ngomel mulu. Ini masalah hidup seseorang, buruan kita harus kerumah teman kamu, si micin." Satria kembali menarik tangan wanita itu menuju mobilnya.


Setelah duduk manis didalam wanita kembali mendengus. "Kamu itu mas, untung aku gak reaksi sama ciuman kamu. Kalo aku langsung birahi, bisa habis kamu aku perkosa di mobil ini." Ujar wanita itu sekenanya.


"Ck, nanti aku kasih, bukan cuma bibir kalo kamu mau." Satria berdecak kesal, disaat dirinya sedang berusaha serius, wanita itu malah sengaja memancing otak kotornya.


"Memang kamu mau kasih apa mas? Kalo uang gak usah, yang Minggu lalu aja masih ada. Aku belum sempat ajak Kira beli baju, nanti sekalian tunggu kamu. Kasian anak itu, pasti belum pernah naik mobil." Ujar wanita itu gak nyambung.


"Aku mau ngasih kamu batangan aku ini, kamu mana bisa nolak." Ujar Satria sewot. Sekarang hasrat bercinta nya sedang berada dijurang terdalam. Naiknya butuh perjuangan, konsentrasi dan fokus yang tinggi.


"Isshh, biasanya juga aku raba aja udah tegangan tinggi. Sombong amat sampean. Tak goyang ngulek sambel, baru tau rasa." Wanita mendesis jengkel.


Ya ampun, mulut wanita sepertinya perlu dilakban. Disaat dirinya sedang berusaha menuju jalan kebenaran, kekasihnya malah sibuk membahas masalah perut bawah. Ternyata ujian kesabaran bagi pendosa sepertinya memang sangat berat, pantas saja banyak penjahat tidak ingin bertobat.


Urusannya ribet, ujiannya banyak dan rintangan nya tak terhitung. Pantas aja penjara tidak pernah kosong, disaat berbuat baik lebih banyak halangan, daripada berbuat kejahatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dasar anak setan, sudah berani kamu bohong sama saya ya. Lupa kamu, saya ambil kamu dari tempat sampah. Gak tau diri, rasakan ini. Hemm, enak rasanya. Masih mau lagi, ya. Masih berani bohong kamu sama saya, hah!" Wanita gila itu, mencelup kepala Kira ke dalam gumbang penampung air hujan, didepan rumah petak mereka.


Tidak ada satupun tetangga yang mencoba menghentikan nya, mereka lebih takut lagi jika ditegur sekarang. Maka nanti gadis kecil itu akan semakin disiksa.


"Itu kira mas, astagaa..." Wanita itu panik melihat anak angkatnya dicelupkan ke dalam tong air hujan.

__ADS_1


"Buka mas, buka mobilnya. Ya Tuhan Kira ku yang malang." Dara sudah menangis histeris didalam mobil.


Satria memarkirkan mobil secara asal lalu membuka lock mobil, keduanya turun langsung menghampiri ibu dan anak itu.


"Gila kamu, stress. Dasar sinting, awas. Dasar ****** gak punya otak." Dara mendorong keras tubuh Sasa, hingga terjungkal ke kursi kayu yang ada di teras tersebut. Dengan posisi yang tidak enak dilihat, daster payung miliknya terangkat naik kedada. Posisi kepalanya menggantung kebawah, kakinya tersangkut dimeja kayu itu.


Membuat aset wanita itu terpampang nyata tak tersensor sama sekali, ternyata wanita gila itu tidak sedang memakai pakaian dalam. Itu memudahkan mata para bapak-bapak, yang juga sedang menyaksikan kejadian tersebut, mendapat pemandangan secara gratis.


Tanpa aba-aba dan tanpa perasaan, Satria menginjak apem krisut tersebut dengan sepatu nya. Wanita itu hanya bisa mengerang, entah karena kesakitan atau menikmati sensasi, dari telapak sepatu tersebut. Hanya dia yang tau.


"Mas, sudah. Ini Kira kita bawa kerumah sakit dulu, gak sadar ini. Buruan." Seri wanita itu terlihat cemas.


"Ibu-ibu, tolong ini mbak kunti nya ditutupin selimut atau kain kafan sekalian. Biar gak merusak mata para bapak-bapak yang soleh ini." Ujar wanita itu menyindir telak, para suami wanita-wanita tersebut. Kemudian bergegas menuju mobil, mengekori Satria yang sedang menggendong tubuh kurus, Kira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kiran gak ada mampir mi, udah lewat jam dia biasa mulung di daerah sini. Pasti gak mulung lagi dia, udah 3 hari mi. Daniel kangen, itu nasi sama ayam gorengnya, tadi rencana mau ajak Kiran makan sama-sama." Jelas anak itu nampak semakin murung.


"Hmmm, gimana kalo kita jalan-jalan keluar komplek, ke arah jalan raya yang biasa banyak anak-anak ngamen didekat perempatan lampu merah itu." Ujar sang ibu mengide. Melihat wajah murung putranya membuat hatinya tak tega, pasti Kiran sangat berarti buat anaknya itu.


"Boleh mi, ya sudah ayo. Ini botolnya gak usah dibawa dulu, nanti biar ada alasan kalo Daniel nyuruh ke rumah." Ujar remaja baru mekar itu terlihat sedikit malu-malu.


"Ya sudah itu tarok didalam dulu, tar dikira mbok Parmi, itu sampah yang mau dibuang." Ibunya berusaha mengikuti alur sang anak. Selama pengawasan oke, maka semua akan terkendali. Begitu pikirnya.


"Siap mi, bentar ya." Dengan semangat kemerdekaan hati dan pikiran, Daniel berlari membawa plastik besar itu kedalam kamar tamu. Gak tanggung-tanggung, betul-betul anak mami Sinta dan papi Bintang yang soleh.


"Yuk,mi. Tar, kotak makannya hampir lupa. Botol minum nya biar akau bawa sendiri mi, sini." Bahkan sang ibu, tidak diperkenankan untuk sekedar membawa botol minuman miliknya dan Kiran.

__ADS_1


Wanita itu hanya geleng-geleng kepala, benar-benar terlihat sangat jelas. Keturunan siapa yang lebih mendominasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dek, sini. Ini bagikan ke teman-teman ya. Yang adil." Sinta membagi kan roti, yang mereka beli di minimarket depan komplek perumahan, saat berangkat mencari Kiran.


"Dek, tau Kiran gak. Anaknya kira-kira sebesar itu ya bang, coba kamu perhatiin. Ada segitu gak badannya" Tunjuk sang ibu pada anak gadis yang sedang makan roti pemberian nya. Dia belum pernah melihat Kiran, hanya mengira saja dari gambaran sang anak.


"Ya mi, tapi lebih kecil sedikit kayanya. Bang ada kenal gak sama Kiran nya Daniel." Tanya bocah itu seenaknya.


"Husss, kamu ini. Kiran aja belum tentu kenal, udah kamu omongin macam-macam. Kirannya Daniel, emangnya kamu itu selebgram apa, sampe orang pada kenal." Ujar sang ibu menggerutu panjang lebar.


"Itu dek, Kiran. Kenal gak, biasa mulung sama ikut ngamen didaerah sini." Lanjut sang ibu sok tau.


"Hmmm, Kira mungkin maksud ibu. Kirania, biasa kita panggil Kira bu. Dia gak ada mulung sama ikut ngamen udah 3 hari, sakit atau bagaimana, soalnya sering dikasih tidur di teras kalo pulang gak bawa uang banyak sama emaknya." Jawab remaja laki-laki tersebut.


"Ya, paling disiksa lagi sama emaknya itu. Biasa gitu kalo 2-3 hari gak ada, pasti abis sakit. Maksudnya disakitin gitu sama emaknya. Dipukulin sampe siup, trus dikurung digudang ampe sadar sendiri, emaknya kan rada-rada gila itu orangnya." Ujar remaja satunya menimpali perkataan temannya.


Membuat mulut ibu dan anak itu menganga, anak sekecil itu disiksa sampai pingsan dan dibiarkan didalam gudang, sampai sadar sendiri. Ya kalau masih ingat sadar, kalau tidak bagaimana. Sinta bergidik ngeri, membayangkan nya saja dia tidak sanggup.


"Makasih ya dek, kalo Kiran nya eh maksud ibu, kalau Kira udah balik ikut ngamen lagi. Telpon ibu ya, ini nomor ibu Dua-duanya, telpon rumah sama nomor ponsel pribadi. Ada ponsel tidak ini." Sinta tersadar dan menjeda ucapannya, semoga saja anak-anak itu tidak tersinggung.


"Ada bu, sini saya masuk kan langsung aja nomornya, takut itu kartu malah tebuang dikira sampah. Soalnya abis ini masih mau mulung sekitar pasar, belakang pertigaan sana." Jelas anak itu ramah.


Sinta Menatap miris ke arah ponsel jadul polyphonic, yang diikat karet gelang tersebut. Lalu menatap kearah sang anak, Daniel yang paham arti tatapan sang ibu, bergegas membuka laci dashboard. Diambilnya ponsel viva yang biasa dia pakai main game, lalu menyerahkan pada ibunya.


"Dek, ini ada ponsel anak saya. Kebetulan dia punya dua, hadiah juga sih itu dari omnya, gak beli. Dipake aja. Tar kartunya pindahin aja, ini kebetulan gak ada kartunya karena emang gak dipake, paling buat main game sesekali. Terima ya, bisa dipake bareng-bareng sama teman-teman." Sinta menyerahkan ponsel tersebut, yang disambut senyum sumringah oleh anak remaja itu.

__ADS_1


__ADS_2