Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Tangis pilu II


__ADS_3

"Yah? kok tumben jam segini masih bangkong. Bangun gih, sarapan anak-anak sudah menunggu di meja makan." Ujar kira sambil menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Kira heran, melihat Justin tak bereaksi. Dengan membawa perut beratnya, Kira berjalan menuju sisi ranjang suaminya. Posisi Justin yang miring dan sedikit menelungkup, membuat nya susah payah membalik tubuh kekar suami nya itu.


Mata Kira membelalak tak percaya, saat melihat darah yang sudah mengering di bantal sang suami begitu banyak. Dengan tubuh gemetar, Kira meraih ponsel Justin dan menghubungi Bryan.


Setelah selesai mengabari berita buruk itu, Kira kembali fokus pada suaminya. Tubuhnya dingin, dan bibirnya membiru. Wajahnya pun membengkak, bisa dipastikan, jika ginjal suaminya lah yang menjadi penyebab nya.


Kira menarik tangan Justin yang sedikit kaku karena bengkak. Mencium nya lama, Kira berusaha meredam tangisnya agar tak terdengar oleh anak-anak mereka. Baru saja semalam mereka menghabiskan malam panas penuh kasih sayang. Dan paginya, dia mendapati, sang suami sudah pergi.


Tubuh Justin sudah memperlihatkan gejala, jika ginjal nya sudah tidak bisa di ajak berkompromi lagi. Kaki dan tangannya sedikit bengkak, namun pria itu selalu menyangkal dan menolak untuk berobat. Selama satu minggu itu, Justin seperti sedang mempersiapkan kepergian nya, pria itu menumpuk kayu bakar sangat banyak di gudang. Memperbaiki apapun yang terlihat rusak atau sudah terlalu lama tak di ganti.


Setiap di tanya jawabannya selalu saja sama, "takut pas musim ujan, susah nyari kayu bakar kalo pas lagi butuh."


"Ini kan udah lama, jadi memang harus di ganti, kalo bisa sekarang kenapa nanti-nanti. Takut nya keburu gak sempat, udah rusak." Begitu lah jawaban klise Justin.


Kira tergugu dalam tangis kehilangan, suami yang sangat dia sayangi kini telah pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


"Buu, kenapa menangis?" suara kecil Jevier sontak membuat Kira menoleh. Tanpa bisa menyembunyikan air matanya, Kira mengulurkan tangannya pada putranya.


"Sini" suara serak sang ibu membuat Jevier mendekat ragu-ragu. Dia takut orang tuanya bertengkar seperti yang dia lihat di desa. Dimana kedua orang tua temannya bertengkar di halaman rumah, saat mereka mengunjungi desa untuk memeriksa kandungan sang ibu.


"Pegang tangan ayah, bisik sama ayah. Bilang, terimakasih sudah jadi ayah yang baik dan luarbiasa, ayah hebat kami sayang ayah. Selamat jalan, sampai jumpa di Yerusalem baru" suara Kira hampir tak terdengar, namun Jevier yang peka langsung bisa menangkap maksud sang ibu.


Yang dia tangkap adalah, jika sang ayah sudah tiada. Ucapan yang sama sering mereka dengar, saat ada orang di desa atau salah satu kerabat jauh yang meninggal. Ibu dan ayahnya akan mengatakan hal yang sama, selamat jalan dan sampai jumpa di Yerusalem baru.


Mata balita itu mengembun, walau Jevier belum memahami konteks kehilangan yang sesungguhnya. Namun dia tau jika orang meninggal tidak akan pernah bisa kembali dan bersama lagi. Tubuh orang itu akan di masukkan ke dalam peti sempit dan di timbun oleh tanah lembab. Dia masih belum mau kehilangan ayahnya, hatinya tak terima dan tak rela.


"Panggil kakak sama adik, ajak bersiap, ganti baju ya, yang warna hitam. Adiknya di bantu dulu, ibu akan membersihkan wajah ayah." Titah Kira dengan suara bergetar.


Kira masuk ke dalam kamar mandi, lalu keluar dengan ember kecil berisi air dan dua handuk kecil di tangan nya. Kira kembali duduk di samping tubuh tak bernyawa sang suami. Hatinya berdenyut sakit, dengan telaten, Kira membersihkan wajah suaminya yang berlumuran darah kering. Dia menyesal, karena tidak tau kapan suaminya pergi.


Andai saat bangun subuh tadi, dia tidak langsung ke kebun belakang memetik sayur dan langsung memasak sambil membersihkan rumah seperti biasa. Barang kali saat itu, suaminya masih bernafas walau sekarat. Dia masih sempat berbicara pada Justin. Sedikit meringankan rasa sakit suaminya, saat menghadapi sakratul maut.


Dengan linangan air mata, Kira melepas baju yang di pakai suaminya untuk di ganti yang baru. Kira memeluk erat baju Justin, tubuhnya berguncang hebat. Sejenak dia lupa, jika dirinya sedang hamil besar.

__ADS_1


Setelah selesai, Kira memanggil anak-anak nya dengan suara serak. Lalu memberikan banyak ultimatum, yang mudah di cerna oleh Ketiganya. Beruntung punya anak-anak yang cerdas, mereka langsung paham. Satu persatu para balita itu mencium wajah Justin dengan sayang, airmata mereka pun mengalir.


Dalam benak para balita itu, ayah mereka kini telah di panggil oleh Tuhan. Dan mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Justin, untuk selama-lamanya. Siapa yang tak sedih, walau makna kematian masih jauh dari pemahaman ke-tiga nya. Namun kehilangan dan tidak bisa bersama lagi, itu yang mereka pahami. Mereka sedih dan merasa kehilangan.


Terdengar suara motor didepan rumah, Kira menoleh pada Jevier, bocah itu langsung bergegas tanpa di suruh. Menyambut kedatangan pak lurah dan beberapa warga yang datang melayat, mereka di hubungi oleh Bryan. Karena perjalanan mereka ke sana memakan waktu 1 jam, meski menggunakan pesawat.


Pak lurah dan warga meminta ijin untuk memandikan jenazah Justin, walau berat Kira mengijinkan. Wanita hamil 7 bulan itu beranjak dari sisi suaminya menuju lemari pakaian, mencarikan baju kemeja dan jas serta yang lainnya nya. Justin pernah bercanda, jika kelak dia tiada. Dia ingin dipakai kan baju yang dia gunakan saat menikahi Kira. Agar dia selalu merasa dekat dengan sang istri.


Kira memeluk pakaian itu sambil terisak pedih, bu lurah dan Bu RT menghampiri dan membawa Kira duduk di sofa dikamar itu.


"Ikhlaskan, nak. Ibu tau ini berat untuk mu, tapi langkah Justin akan berat, jika kau tidak merelakan nya. Tuhan menyayangi nya, sehingga tidak ingin membebani Justin dengan sakit yang lama." Nasihat bu lurah bagai siraman rohani bagi Kira, dia melupakan fakta itu. Namun rasa sakit ditinggal pergi, menguasai habis seluruh jiwanya. Dia masih belum rela, dan ikhlas masih sangat jauh dari hatinya.


7 bulan hidup bersama sebagai sahabat yang saling menyemangati, lalu 4 tahun hidup dalam ikatan pernikahan yang indah, dan penuh kebahagiaan. Bagaimana bisa dia merelakan nya begitu saja.


"Apa ini yang akan di kenakan pada suamimu?" tanya ibu RT mengalihkan perhatian.


"Ya.." kira menjawab dengan suara kecil hampir seperti orang berbisik.

__ADS_1


Segera bu Romlah (bu Rt) meraih nya, namun kira menahannya. Keduanya saling bertatapan, " kau yakin kuat melakukan nya?" tanya bu Romlah meyakinkan. Kira hanya mengangguk tanpa menjawab.


Justin pernah bilang, jika dia pergi lebih dulu, dia ingin Kira yang memakai kan nya pakaian terbaik yang dia inginkan. Dan kini, Kira benar benar harus melakukan nya. Walau hatinya tidak lah sekuat itu.


__ADS_2