Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Jangan jadi pelakor


__ADS_3

"Mi, aku titip Kirel hari ini. Aku ada perjalanan ke luar kota, mungkin pulangnya agak malam. Kirel tidur di kamar mami, boleh? kasian kalau dia sendiri di kamar," ujar Daniel di sela Sarapan nya bersama orang tua nya.


"Bolehlah, Kirel kan cucu mami. Kalau terlalu jauh dan pulang nya malam, lebih baik menginap saja, mami khawatir." Saran Sinta menatap sedih pada anaknya, yang nampak berbeda sekarang.


Rambutnya yang sedikit panjang, bulu-bulu halus di pipi juga dagunya. Daniel jarang merawat dirinya semenjak Kira pergi.


"Liat nanti mi, kalau gak cape banget aku tetap balik. Suka kangen sama Kirel," ujar Daniel dengan wajah berbinar.


"Aku ikut" Tiara tiba-tiba muncul ikut menyela obrolan Daniel dan sang ibu.


"Aku tidak pergi jalan-jalan, lagi pula aku tidak ingin kau ikut dengan ku." Tiara mengepal tangannya kuat hingga buku-buku tangannya memutih.


"Aku ini istri mu, Daniel! jika saja kau lupa itu," ujar tiara menaikkan volume suara nya tanpa sadar.


"Bisakah kau tidak terus berteriak dirumahku" seru Bintang penuh emosi, tubuh Tiara bergetar takut.


"Maaf pi, aku reflek. Daniel selalu menolakku, aku ini istrinya, tidak bisakah dia menerima ku dengan baik." Isak Tiara membuat Daniel muak. Lalu meninggalkan sarapannya yang bahkan belum setengah.


"Daniel! Daniel! aku ikut, Jagan menolak ku lagi, aku muak!" teriak Tiara seperti orang tak waras.


Daniel melewati tubuh Tiara yang menghalanginya jalannya, hingga membentur bahu wanita itu cukup keras.Tiara sampai terjengkang ke lantai keras itu tanpa sempat mengelak.


Tiara semakin berteriak tak terkendali, hingga Bintang membentak nya, baru lah Tiara diam. Dan bergegas menuju kamar mengambil tasnya juga kunci mobilnya, entah kemana lagi wanita itu pergi. Lebih baik seperti ini, Sinta lebih suka jika Tiara tidak ada dirumah. Apalagi ada Kirel sekarang, dia khawatir Tiara nekat menyakiti cucunya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"What!?" pekik Lumina membuat Kira menjauh kan ponselnya dari telinga, "apa yang sudah aku lewatkan hingga ini bisa terjadi. Omegoottt! kau sungguh akan menikah dengan Justin? aku tidak tau, dukun mana yang dia pakai hingga begitu munjur memelet mu." Ujar Lumina seenaknya, membuat Justin mendengus kesal.


Pria itu duduk disamping Kira, sedang menyuapi Kira nasi goreng buatannya. Tentu saja dia dapat mendengar jelas suara cempreng Lumina.


"Enak saja, aku ini tampan, bahkan lebih gagah dari kekasih mu itu." Ketus Justin tak terima, dirinya di sebut memelet Kira.


"Hei! jaga ucapanmu, Tintin" seru minta keberatan. Kekasih nya jauh lebih tampan.


"Jangan memanggil nya seperti itu, Mina. Itu panggilan sayangku pada Justin, kau jangan ikut-ikutan. Jangan jadi pelakor," suara protes kira hampir membuat Lumina menelan habis ujung sendoknya.

__ADS_1


Sementara Justin merasa berbunga-bunga, mendengar pengakuan Kira, jika panggilan nya selama ini, adalah panggilan sayang untuk nya.


"Kau ini, hampir saja aku mati tertelan sendok. Lagi pula bambang Yayan ku jauh lebih tampan, produk import asli 💯%." ujar Lumina bangga.


"Tintin ku juga import, walau cuma 50%" balas Kira tak kalah memamerkan calon suaminya.


Justin senyum-senyum sendiri melihat bagaimana Kira membanggakan nya pada sahabat nya.


"Ya ya yaa... Terserah kau saja. Jadi kapan kau akan menikah, aku akan menyiapkan segalanya. Kekasih ku punya private jet, jangan khawatir" ujar Lumina kembali membanggakan sang kekasih.


"Tidak usah pamer, bukan milikmu" balas Kira menohok.


"Ish, tidak bisakah melihat sahabatmu ini senang sedikit." Suara jutek Lumina kembali menguar.


"Ya ya yaa, terserah kau saja," Kira mengembalikan kata-kata Lumina. Membuat Lumina berdecak kesal.


"Jadi kapan?" tanya Lumina tak sabar.


"Aku mau secepat nya, 3 hari lagi bagaimana? kekasihmu kan orang kaya, pasti segalanya akan mudah, bukan?" skak, Lumina terjebak oleh kesombongan nya sendiri.


"Ituu... Mana bisa begitu.. Kau ini, atur ulang. Gaun saja susah mencari yang ukuran mu, kau itu kan sudah seperti gajah" ucap Lumina tanpa sadar, telas menyentil sisi sensitif Kira, yaitu berat badannya.


"Kau ini bicara apa, calon istri ku ini sangat seksi. Kau saja yang iri, lihatlah badanmu yang seperti triplek itu. Aku heran kenapa Bryan begitu mencintai mu, mana enak kalau dipeluk. Tulang belulang semua," oceh Justin berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan topik pembicaraan. Matanya terus melirik pada Kira yang masih belum bersuara.


Justin nampak cemas, Lumina pun demikian. Jantung keduanya berdegup kencang seperti orang maraton.


"Katakan pada Kira, pernikahan nya akan dilaksanakan sesuai keinginan nya. 3 hari semuanya beres, aku akan ke sana sore ini untuk mengecek lokasi yang baik, untuk merancang tempat pesta nya. Aku kesana dengan EO nya sekalian, bersiap saja menyambut kami. Ya sudah, putriku sedang rewel, daahhh." Lumina berbicara tanpa jeda, sesegara mungkin menyelamatkan diri nya.


Lumina tinggal di rumah Bryan berkedok seorang pengasuh bayi, yaitu baby Ryana(Bryan-Lumina). Pria bule itu jatuh sejatuh jatuhnya pada pesona judes seorang Lumina. Namun belum bisa meresmikan hubungan mereka, karena Lumina tidak ingin kebahagiaan nya mendahului Sabahat nya. Bryan pun mengerti, bagaimana pun, apa yang Kira alami, adalah akibat ulah mantan istrinya. Sehingga dia juga merasa bertanggung jawab, untuk mengembalikan kebahagiaan wanita malang itu.


Justin mengelap sisa nasi di bibir Kira, "apa yang Lumina katakan tadi, jangan di dengar kan, ya. Dia hanya bercanda, kau itu seksi, lihat ini, ini, juga ini, aku suka semuanya." Tunjuk Justin pada kedua pipi bulat Kira juga bagian depan wanita itu.


Membuat Kira mencebik, melihat arah telunjuk Justin ke dadanya. Justin tertawa terbahak melihat reaksi Kira, dia senang kira bukan tipe wanita baperan. Wanita itu sangat pandai mengelola emosinya, baik sedang sedih atau bahagia.


"Lumina akan kemari, mungkin sore baru sampai." jelas Justin.

__ADS_1


"ya, aku mendengar nya, suara Lumina bisa sampai ribuan kilometer masih terdengar jelas." Kekeh Kira mengingat suara sahabat nya yang tak merdu itu.


"Mau berjalan-jalan di pantai?" tawar Justin menatap Kira penuh cinta.


"Boleh, ayo"


"Sebentar, aku ambil sweater mu dulu" Justin bergegas masuk ke dalam rumah, untuk mengambil sweater rajut untuk Kira. Justin selalu memperhatikan hal sekecil apapun yang Kira butuhkan.


"Ayo" Justin memasang sweater dengan telaten. setelah selesai, keduanya turun menuju bibir pantai sambil bergandengan tangan.


Justin sesekali menatap wanita disamping nya yang semakin hari semakin cantik saja.


"Kita foto yuk!" ajak Justin mengarah kamera ponselnya, keduanya mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Justin ingin meninggalkan banyak kenangan, agar kelak bisa dikenang oleh Kira. Meski wanita itu menikah lagi dengan orang lain. Dia ingin kenangan tentang nya selalu hidup di hati Kira dan anak-anaknya.


"Cape ya? coba bisa gendong belakang, aku gendong." ujar Justin mengelus perut Kira yang semakin membesar.


"Minggu depan jadwal memeriksa triplets kan? Aku sudah tidak sabar menunggu mereka lahir," ujar Justin dengan wajah berbinar.


"Kau ingin di panggil apa? aku ingin di panggil ayah saja, kita kan tinggal di pulau. Biar lebih merakyat saja," ungkap Justin mengutarakan isi hatinya.


"Aku ibu saja kalau begitu. Jadi, ayah dan ibu. Kita kan orang kampung sekarang. Atau bapak saja sekalian, jadi makin merakyat. Bagaimana?" lalu keduanya tertawa.


Justin tidak pernah menganggap anak yang di kandung oleh Kira bukan anaknya. Baginya, sejak awal kehamilan Kira, dia yang ada di setiap wanita itu butuhkan. Menemani nya dalam kesulitan ala ibu hamil, maka dia lah ayahnya. Dia mencintai Kira beserta ketiga calon anak mereka. Dia bersyukur pada Tuhan, telah memberikan nya kesempatan untuk memperbaiki diri, dan menebus segala dosanya pada Kira. Dan kini diberikan kesempatan, untuk menikah dengan wanita yang telah dia renggut segala-galanya.


Dia merasa beruntung, menjadi pria pertama kira, walau dengan cara yang salah. Kini dia akan melakukan nya dengan cara yang benar.


Menikahi wanita itu dengan memberikan seluruh cinta dan perhatian nya, hingga sampai waktu nya tiba. Dia harap Ketika dirinya di panggil pulang, wanita itu tidak terlalu bersedih akan kehilangan nya. Karena kehadiran ketiga anak mereka nanti, akan menjadi penghiburan bagi Kira.


Justin bahkan sudah menyiapkan segalanya, aset yang diam-diam dia ubah semua atas nama Kira. Seperti asuransi Jiwanya, dan banyak lagi. Dia ingin Kira dan anak mereka, merajut masa depan dengan jerih payah nya. Walau dia tau, itu tidak lah seberapa. Namun dia bangga, bisa memberikan hasil keringatnya sendiri, pada wanita yang di cintai nya itu. Jadi ketika dia pergi, dia sudah tidak terbebani lagi.


Bryan dan Lumina akan menjaga keempat orang kesayangan nya itu dengan baik, kelak saat dia tiada.


∆Oke guys, beberapa bab lagi ya!!


Jangan lupa oret-oret ketikan kalian di baris komentar 😘😘

__ADS_1


∆untuk komentar yang sudah masuk, nanti author ceki-ceki semua ya, bakal othor balas n like juga, sekarang masih fokus ke alur dulu. Biar alur ending nya dapat✌️✌️🙏🙏


∆Luv yuuhh kalian semua 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2