Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
(Kiddos of Jovan-Joi)


__ADS_3

"Mih? Zuly mau ikut ekskul di sekolah, boleh? teh Cora juga ikut, jadi kita barengan berangkat nya dari rumah juga pulang nya." Ujar Zuly menatap penuh harap ke arah sang ibu.


Delia menatap suaminya yang seolah-olah tak mendengar perkataan putri mereka.


"Boleh, di rumah terus juga pasti akan bosan. Ikut aja, asal pulangnya jangan kelayapan kemana-mana." Mata bulat Zuly langsung berbinar cerah.


"Makasih mami, mami memang selalu bisa di andalkan. Pengertian banget sih, Zuly makin sayang." Zuly memeluk erat sang ibu, remaja 11 tahun tersebut senang bukan main. Zero selalu melarang ini dan itu, namun tidak pernah memberikan solusi lain. Delia lah yang harus menengahi jika sudah begitu.


"Alahh.. Papi juga pengertian, buktinya mami betah sama papi. Ya, kan mi?" Zero mulai mencari pembenaran dari sang istri, Delia yang tidak mau terjadinya perdebatan segera mengangguk mantap.


"Mamii.. Kalau kakak? boleh? mau ikut ekskul basket di sekolah bareng ade Noval." Mata biru nya menatap Delia penuh permohonan.


"Ya, semuanya boleh ikut ekskul. Anak-anak mami udah beranjak remaja, udah harus mengenal lingkungan baru agar tidak jenuh dan bisa menambah wawasan." Kini Delia tengah di apit oleh kedua anak kembarnya, Zero mulai melipat majalah yang tengah dia baca.


"Pindah! Tukaran!" Titahnya mutlak.


"Papi apaan sih! mih, besok kita belanja perlengkapan buat ikut ekskul, ya? bertiga aja tapi." Zido memelankan suaranya di ujung kalimat, namun telinga peka Zero menangkap jelas suara laknat tersebut.


"Kegiatan ekskul, batal!." Suara bariton sang ayah membuat keduanya ciut.


"Dek? ke kamar yuk! kakak ada download game baru, nanti kakak kirim." Ujar Zido mengamankan situasi. Bisa kelar nasib eskul mereka jika ayahnya sudah mulai membucin.


Keduanya pergi setelah memberikan ciuman selamat malam di masing-masing pipi sang ibu. Zero mendengus kesal lalu berpindah duduk di samping istri nya.


"Harus banget pake cium-cium segala, udah gede loh. Tidak malu" tukas Zero dengan suara keras, sengaja agar kedua anaknya mendengar. Tangannya mengelap pipi sang istri menggunakan tisu, sungguh ayah tidak punya akhlak.


"Harus banget ya, anak-anak di cemburui. Tidak ingat umur, gitu?" setelah melontarkan kalimat penyulut peperangan, keduanya berlari kencang menuju kamar dilantai atas.


Zero melempar kotak tisu ke arah tangga, membuat ibunya terjengkit kaget. Wanita paruh baya itu akan ke dapur mengisi Air minum, kamar nya dan sang suami persis di bawah tangga.


"Astaga! Zero! kebiasaan deh, apa-apa di lempar kalau kesal. Ingat umur, malu sama anak. Kelakuan masih kaya bocah" sungut wanita itu kesal seraya mengusap dadanya.


"Cucu mom loh yang mulai, Istri ku di cium-cium. Udah pada besar juga" balas Zero tak mau kalah.

__ADS_1


"Kayanya suamimu kudu di baptis ulang, Del. Seperti nya roh halus sudah pada beranak cucu di otaknya, makanya kelakaunnya suka aneh begitu." Kesal nya berlalu pergi, menghadapi anaknya yang satu ini, bisa membuat nya cepat mangkat ke alam lain.


"Punya ibu dan anak pada bikin kesal. Besok papi antar, tar papi cancel semua meeting buat temani mami. Di luar banyak buaya bertebaran, matanya itu tidak bisa di jaga. Rasanya pengen papi colok pake obeng!" Ujar Zero menggebu-gebu. Delia mulai jurus inhale exhale, udara di sekitar mereka tiba-tiba pengap kalau sudah begini.


"Ya papi yang antar, sekalian belanjakan mami dan anak-anak. Jadi, mari besok kita kuras isi rekening papi yang tidak habis-habis itu." Hibur Delia menentramkan suasana.


"Siap! mami sayang, tapi sebelum itu terjadi. Bagaimana kalau kita melakukan simbiosis mutualisme dulu malam ini?." Zero mengerling kan matanya menggoda sang istri. Delia yang paham, segera merangkul leher suaminya. Keduanya beranjak dari sofa, dengan Zero yang menggendong sang istri ala bridal style menuju kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Muka mu Kenapa di tekuk kak? sebel sama papi?" tuduh Zero to the point.


"Ishh papi, bisa diem tidak! yang begini nih aku paling tidak suka kalau papi ikut. Perhatian mami semua teralihkan ke papi, sampai anak hilangpun tidak tau." Sarkas Zido benar benar kesal.


"Udah ih, malu tuh di dengerin orang. Kita masuk ke sana yuk, nyari perlengkapan basket nya kakak dulu." Tunjuk Delia ke arah gerai peralatan olahraga lengkap.


"Yuk! mi." Tangan nya dengan sigap menggandeng satu lengan Delia yang nganggur.


"Kak? tangan mu itu loh. Tidak malu di lihatin ibu-ibu, lepas gih!" perintah Zero seenaknya, seraya melepaskan tangan sang anak dari lengan istri nya.


"Papi?" tatapan penuh peringatan sang istri membuat bucin akut tersebut mau tak mau menyusul sang anak yang tengah merajuk. Zuly terkikik lucu melihat tingkah kedua pria aneh dalam keluarga nya.


"Mih? aku boleh beli dress model terbaru tidak? di butik oma Sila(anak Satria-Dara)."


"Boleh. Mami juga mau belikan Ursula (cucu Keenan-Arumi)." Wajah Zuly berbinar senang.


"Makasih mami" ujar nya dengan nada manja. Di dalam toko kedua pria beda generasi itu terlibat adu argumen. Selera keduanya berbeda jauh, jadilah perdebatan sebagai jalan keluarnya.


"Ada apa ini?" Delia melirik sekitar, para pengunjung toko yang sibuk menonton debat anak dan ayah tersebut cekikikan geli.


"Ini bagus kan mih?" Zido memamerkan pilihan nya pada sepatu basket yang menurut nya keren. Namun tidak di mata Zero.


"Yang ini lebih keren, percaya sama pilihan papi. Papi udah kenyang makan lapangan basket waktu muda." Pamer Zero bangga.

__ADS_1


"Artinya papi sudah tua sekarang!" ketus Zido membawa pilihan nya ke meja kasir.


Wajah Zero terlihat pias, bagaimana tidak? suara sang anak cukup keras untuk ukuran orang yang sedang sangat kesal. Zero dan Jovan sekelas dalam hal pembahasan usia. Sama-sama gampang baper dan sensitif.


"Pi? udah tidak apa-apa, papi semakin matang semakin perfect di mata mami." Delia mengerling sebelah matanya sembari mengelus lembut pipi sang suami. Wajah kesal Zero berubah teduh, istri nya memang jago urusan rayu merayu.


"Yuk! bayar. Abis ini nyari kan keperluan Zuly, terus mami mau beli beberapa hadiah buat Sula." Keduanya berjalan bergandengan menuju kasir untuk membayar belanjaan Zido. Remaja itu semakin menekuk wajahnya melihat kemesraan orang tua nya, yang terkesan maksa. Siapa lagi yang lebih mendominasi? tentu saja sang ayah.


Selesai dari sana, keluarga kecil itu memasuki beberapa toko di mall tersebut.


"Cape nya mami. Kita nyari makan yuk? mami laper, haus juga." Tawar Delia setelah lelah berkeliling menemani kedua anaknya berbelanja, juga suaminya yang lebih dari pada perempuan. Lihat saja kedua tangannya, penuh dengan tentengan.


"Ayuk! papi juga laper nih!" jadilah keempat orang tersebut menuju ke salah satu restoran favorit mereka.


"Belanjaan papi ngalah-ngalahin anak perawan." Celetuk Zuly melempar kan protes sambil melirik beberapa paper bag di sudut sofa.


"Jangan mulai, mami laper. Tidak punya stok tenaga buat melerai perdebatan kalian." Ujar Delia memperingati. Zero yang sudah mulai pasang ancang-ancang, untuk membalas sang anak kembali bersikap lunak.


Di sela makan, tiba-tiba seseorang menyapa Zero dengan begitu akrab.


"Zero? makan di sini juga? aku gabung ya?" ucap nya menjatuhkan bokongnya di samping Zero. Padahal jelas ada Delia di samping suami nya, namun seolah tak terlihat.


"Tempat lain masih kosong. Kenapa musti disini? kau tidak lihat? aku sedang me time dengan keluarga kecilku." Sarkas Zero acuh. Tangannya sibuk menyuapi sang istri dengan steak salmon yang sudah dia potong-potong.


"Ya ampun, Ro. Cuma gabung ini mah, ribet amat. Lagian istri mu juga seperti nya tidak keberatan. Ya kan mbak?" Ujar nya mencari pembenaran.


"Mami bukannya tidak keberatan, tapi tante nya main duduk tidak pakai nanya dulu. Boleh apa tidak!" Ketus Zuly menatap horor pada si wanita tak tau malu itu.


"Anakmu Ro?" tanyanya menatap Zuly dan Zero bergantian.


"Ya! Masih ada satu lagi di rumah dan masih banyak lagi yang sedang otw pembuahan." Balas Zero tanpa menoleh, wajah Delia memerah, mengingat di sana ada kedua anaknya.


"Mami mau nambah tidak? ini enak loh, apa lagi kalau makannya kaya gini" Zero menyambar bibir sang istri yang baru saja di suapinya, lalu memindahkan potongan salmon ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Delia melotot sempurna, sementara si wanita meremat ujung dress nya kesal. Sejak SMA dirinya sudah menyukai Zero, untuk itu dia rela kuliah ke luar negeri dengan nilai pas-pasan nya agar bisa mengintili pria itu kemana-mana. Zero adalah sahabat sang kakak, mendengar Zero menikah 12 tahun yang lalu tidak membuat nya menyerah. Jika Delia saja yang usianya lebih tua 10 tahun dari Zero bisa menarik perhatian pria itu seutuhnya. Dia pun bisa menunggu Zero menjadi duda. Begitu lah pikirnya.


__ADS_2