Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLIX


__ADS_3

Reegan tak henti hentinya Menatap dua orang wanita kesayangan, yang sedang tidur di atas ranjang pasien tersebut. Sesekali pria itu mengusap sudut matanya yang basah. Reegan menyandarkan kepalanya di punggung sofa, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun rasa kantuk belum kunjung menyapa kedua matanya.


"Gak tidur atau gak bisa tidur?" Reegan terperanjat mendengar suara sang istri. Kemudian bangkit dari duduknya menghampiri Sarah.


"Kamu kenapa bangun? Mau minum atau ke kamar mandi?" Bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya.


"Gak, aku ngerasa ada yang merhatiin aja walau aku tertidur. Feeling." Ujarnya terkekeh pelan. Dia tau, pasti pria itu sedang memikirkan penyakit nya. Itulah yang dia takutkan. Jika keluarga nya tau, maka dirinya akan menjadi beban semua orang.


"Ya, aku merhatiin kalian berdua. Kangen, ingat masa-masa dulu. Ranjang kita selalu direcokin sama anak-anak." Reegan berujar dengan pandangan menerawang ke masa lalu. Senyum pria itu mengembangkan, mengingat bagaimana saat anak-anak nya lebih mendominasi kasur Mereka. Hingga dirinya kadang harus mengalah tidur di kasur lantai jika anak-anak nya sudah tertidur.


"Asha tidur nya nyenyak banget. Benar-benar gak berubah. Kalo udah tidur gini, gak akan kebangun dengan suara gaduh apapun." Reegan berucap melanjutkan kalimatnya yang tertunda. Pria itu kemudian kembali mencium gemas pipi sang anak, Asha hanya menggeliat kemudian tertidur kembali. Sarah dan Reegan kembali terkekeh gemas, melihat tingkah putri mereka.


"Kamu tidur lagi gih, udah malam banget. Apa perlu aku tepuk-tepuk punggungnya biar bisa tidur nyenyak kaya adek." Seloroh Reegan yang ternyata di tanggapi serius oleh sang istri.


"Boleh. Tepuk gih, aku ngantuk tapi gak bisa lelap. Kamu juga tidur abis aku tidur, jaga orang sakit butuh tenaga ekstra dan tubuh yang fit kan?" Sarah memiringkan tubuhnya, membiarkan sang suami menepuk pelan punggung nya. Mata Sarah mulai berat, akhirnya wanita itu tertidur tak berapa lama Reegan melakukan aktivitas menepuk punggungnya.


"Cepat banget tidurnya. Selamat tidur para bidadari kesayangan ayah. Bunda pasti pulih kembali, ayah akan lakukan apapun untuk mengobati penyakit bunda. Jangan mencemaskan apapun sayang." Reegan berbicara sendiri pada kedua wanita nya. Kemudian pria itu kembali mencium kening dua wanita nya dengan sayang. Perasaan nya sedang kalut dan pikirannya kacau balau, memikirkan penyakit yang di derita oleh sang istri. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui apapun soal istri nya selama ini. Reegan benar-benar merasa menjadi suami yang tidak berguna.


flashback

__ADS_1


klek


"Pak Reegan, mari ikut ke ruangan saya sebentar. Ada yang ingin saya jelaskan mengenai kondisi ibu Sarah." Seorang dokter keluar dari ruangan di mana Sarah di tangani.


"Lalu istri saya bagaimana dok.?" Balas Reegan ragu, dia tidak ingin meninggalkan sang istri di sana sendirian.


"Yah, ada aku disini, aku akan jaga bunda kalo bunda udah sadar. Ayah kesana aja, mungkin ada yang penting tentang kondisi bunda." Kalla berusaha meyakinkan sang ayah agar mengikuti dokter tersebut ke ruangan nya.


"Baiklah, kalo ada apa-apa, segera hubungi ayah." Reegan akhirnya menyerah, dia mengikuti sang dokter ke ruangannya.


"Silahkan duduk pak." Ujar dokter tersebut ramah.


"Baik pak Reegan, sebelum nya maaf. Apa bapak sudah tau jika ibu Sarah melakukan pengobatan beberapa tahun terakhir ini. Dan beliau memutuskan untuk menghentikan pengobatan nya tepat 5 bulan yang lalu." Ujar dokter itu panjang lebar. Sementara Reegan hanya mematung mendengar apa yang dokter itu katakan.


"Maaf dokter, sejak kapan istri saya melakukan pengobatan itu dan apa penyakit yang di deritanya?" Suara pria itu bergetar, pikiran nya seperti berhenti bekerja. Apa yang dia dengar, menampar nya berkali hingga dirinya seperti orang linglung dan tak bisa berpikir jernih.


"Sejak 5 tahun yang lalu, pak. Ibu Sarah menderita penyakit kanker otak. Dan 5 bulan yang lalu, ibu Sarah memutuskan untuk berhenti dari segala macam terapi yang beliau dapatkan. Setahun tahun yang lalu, ibu Sarah di diagnosa mengalami kerusakan salah satu ginjal nya, akibat efek samping dari obat yang di konsumsi nya selama bertahun tahun. Untuk itulah kenapa bu Sarah gampang terlihat lelah, meski hanya melakukan aktivitas fisik yang ringan." Kembali dokter itu menjelaskan mengenai kondisi Sarah pada Reegan.


Dada pria itu serasa di himpit oleh beban jutaan ton. Reegan seperti susah bernapas, pria itu mengalami rasa sesak yang amat sangat di dadanya. Terasa begitu menyakitkan. Istri nya yang selalu terlihat tenang dan nampak selalu baik-baik saja selama ini, ternyata menyimpan sakit yang luar biasa. Dan tidak satupun dari mereka yang menyadari nya, tidak ada dari mereka yang peka terhadap keadaan wanita itu.

__ADS_1


"Lalu? Apa yang harus saya lakukan sekarang, dok?" Reegan bertanya dengan suara serak. Pria itu menangis. Menangisi kondisi sang istri juga menangisi kebodohan nya sebagai seorang suami, yang tidak pernah peka terhadap istrinya selama berumah tangga.


"Yang bisa kita lakukan adalah, melanjutkan terapi juga kemo yang sempat di hentikan beberapa waktu lalu. Untuk ginjalnya, hanya ada satu cara yaitu dengan melakukan transplantasi ginjal untuk mengganti ginjal yang rusak tersebut. Namun untuk sementara, bisa di lakukan cuci darah seperti sebelumnya." Jelas sang dokter dengan sabar. Dia tidak tau jika suami dari pasien nya tidak mengetahui apapun tentang kondisi istri nya sendiri. Dia merasa tidak enak pada pria di hadapannya itu, yang sekaligus pemilik dari rumah sakit tempat nya bekerja.


"Baik dokter, lanjut kan semua pengobatan yang seharus nya istri saya lakukan. Nanti saya yang akan mengatakan langsung padanya, dokter hanya perlu melakukan apa yang harus dokter lakukan." Ujar Reegan mantap. Biarlah nanti dia yang akan berurusan dengan sang istri. Untuk saat ini, yang terpenting adalah kondisi istri nya.


"Baik pak, segala tindakan yang kami lakukan membutuhkan persetujuan yang di tanda tangani oleh bapak secara langsung selaku wali dari pasien tersebut." Jelas dokter itu lagi.


"Baik dok, jika ada yang harus saya tanda tangani. Saya siap sekarang juga." Balas Reegan menggebu. Dia ingin istri nya seger di tangani secepatnya.


"Baik pak, untuk berkas nya. Nanti akan di siapkan saat akan melakukan tindakan medis tersebut." Ujar sang dokter.


"Kalau begitu, terima kasih banyak dok. Saya permisi dulu. Jika bisa, lakukan tindakan segera, saya tidak bisa melihat istri saya berada dalam kondisi seperti ini terus menerus tanpa melakukan apapun." Setelah mengucapkan terimakasih dan titah pada dokter tersebut, Reegan kembali ke tempat sang istri di tangani tadi.


Namun baru akan ke sana, suara ponsel menghentikan langkahnya.


"Ya nak, ada apa, bunda gak kenapa-kenapa kan?" Suara Reegan nampak panik. Pikirannya buruk langsung menyergap otaknya.


'Bunda udah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ayah langsung aja ke sini. Ruang VVIP nomor 09 lantai 7' Potong Kalla cepat.

__ADS_1


Reegan bernafas lega, segala pikiran buruknya seketika lenyap. Pria itu kemudian bergegas menuju elevator, dia sudah tidak sabar untuk melihat kondisi sang istri secara langsung.


__ADS_2