Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXVIII


__ADS_3

"Bi, masak apa buat makan siang." Setelah selesai merenung yang menguras energi dan air mata, Sarah akhirnya keluar dari kamar.


"Ayam goreng bu, mau di geprek, polosana aja gak pake tepung. Sama tumis sawi dicampur wortel sama jagung muda. Mbok Darmi juga mau buat sayur lodeh, goreng terong sama tempe-tahu.. Mau ada yang ditambah gak bu?" Ujar wanita paruh baya itu ramah.


"Gak, itu aja udah, mama sama papa mana bi? Kalla sama Kavin ikut kakak sama tetehnya ya bi, sepi banget rumah." Tanya wanita itu lagi, rumah benar-benar terasa sepi. Membuat hatinya yang masih kelabu semakin abu-abu.


"Ya bu, ikut. Tuan dan Nyonya ada dibelakang, lagi nyantai. Kakak bilang nanti makan siang dirumah, jadi mintanya ayam goreng geprek aja. Ikan ada dikulkas, ada nila yang kemaren ibu beli, ada jelawat juga dibawa sama kang ujang tadi pagi. Hasil mancing disungai katanya." Jelas bi Surti panjang kali lebar.


"Ada jelawat ya, lama gak makan. Digoreng aja bi, Kepalanya disup aja, pakekan Wortel dikit ya bi. Aku mau ke belakang dulu." Setelah selesai memberi arahan pada sang ART, Sarah berjalan menuju taman belakang.


"Ma-pa." Sarah menyapa mertua sekaligus ayah angkatnya itu. Sarah sudah terbiasa memanggil papa pada ayahnya, sejak dia menikah dengan Reegan.

__ADS_1


"Sarah, sini nak. Duduk sini. Kamu udah baik-baik aja, gak usah terlalu apa-apa dipikirin sendiri. Jika tidak ingin berbagi dengan Reegan, ada papa, ada mama juga. Berbagilah apa yang menjadi beban pikiran mu. Tidak baik jika semua kamu simpan sendiri."


Nasihat sang ayah membuat mata Sarah berkaca-kaca, sejak melahirkan Killa, banyak hal berubah pada dirinya. Terutama pada hatinya, ada perasaan yang selalu mengganjal, ketika berhadapan dengan putri bungsunya itu. Belum lagi sikap tantrum dan semena-mena sang anak, sering membuat hati kecil Sarah sedih dan sakit.


"Sarah udah gak Apa-apa pa, gak usah dipikirin, Sarah baik. Sarah cuma sedikit cape aja, makanya ngeram di kamarnya lama." Kekeh Sarah pada kedua paruh baya itu. Selalu seperti itu lah Sarah, dia tidak ingin membuat orang lain terbebani karena memikirkan dirinya.


"Killa itu beda sendiri, waktu baru lahir mama sempat gak yakin kalo Killa itu cucu mama. Tapi mau gimana lagi, yang kebetulan lahiran di malam itu cuma kamu." Wanita paruh baya itu menjeda sejenak.


Dia tau Sarah sudah berbuat banyak, untuk bisa mengendalikan sikap anak bungsunya tersebut. Namun anak itu, sepertinya memang sangat berbeda sekali dari keempat kakaknya. Sering mengamuk tidak mengenal tempat dan waktu, bahkan Sarah pernah didorongnya hingga terguling dari tangga. Untung saja tidak sampai kembali membuatnya lumpuh.


"Apa tidak sebaiknya Killa kita bawa ke psikolog anak saja, nak.? Ayah hanya khawatir, sifatnya itu akan terbawa sampai dewasa. Itu tidak baik untuk dirinya sendiri juga orang lain." Ujar sang ayah menimpali.

__ADS_1


Dia hanya khawatir, jika dibiarkan seperti itu terus, kekakuannya malah semakin menjadi. Sering pak Adnan mendengar, Killa menghardik Keyra dengan kata-kata yang tidak pantas, untuk diucapkan oleh anak seusianya.


Merusak barang milik kakaknya, menguncinya dikamar mandi, mendorong nya hingga terjatuh dan masih banyak lagi kelakuan buruk cucu bungsunya itu.


"Nanti Sarah rembukan sama ayahnya dulu pah, seperti nya kita memang butuh bantuan ahlinya di bidang ini. Sarah sudah hampir nyerah sama anak itu. Padahal kami memperlakukan nya, sama seperti saat kami memperlakukan kakak-kakaknya, ketika mereka kecil dulu. Tidak ada yang berbeda. Entah apa yang salah dengan didikan ku ini." Ujar Sarah dengan suara serak, hanya didepan keduanya lah Sarah bisa seterbuka itu tentang apa yang dia rasakan.


Dia terlalu sungkan untuk membebani suaminya, dengan segala keluh kesahnya. Sudah cukup pekerjaan yang Suaminya pikirkan, jangan sampai dia menambah nya lagi. Rasanya tidak adil. Hanya perkara anak, sampai harus selalu mengadu pada sang suami.


"Ya nak, kalau kamu merasa tidak enak menyampaikan nya, biar papa saja. Reegan juga harus tau, apa yang dihadapi istrinya setiap hari, bukanlah melulu duduk diam dan memerintah. Jangan selalu merasa tidak enak, ada kalanya kita harus mempertegas situasi. Agar orang lain mengerti, bahwa lelahmu juga berharga dan butuh dihargai." Ujar sang ayah tegas.


Hatinya selalu sakit, ketika melihat putrinya menyimpan segala keresahan dan sakitnya sendirian. Mungkin bagi orang diluar sana, terlalu berlebihan jika perkara sikap anak sampai harus melibatkan seluruh keluarga. Namun baginya, itu penting. Ikatan terjalin lebih banyak karena keakraban dan rasa terbiasa, serta kenyamanan yang tercipta oleh kebersamaan.

__ADS_1


Kebersamaan itu butuh kualitas bukan sekedar kuantitas. Sayangnya, kebersamaan itu menjadi masing-masing, oleh karena kesibukan yang lebih mendominasi setiap individunya.


__ADS_2