
"Eh, neng Sarah datang juga, dapat undangan apa cuma mewakili pak Ramdhan aja nih. Setau saya kamu kan nggak dekat gitu sama neng Salma, bukan pegawai kelurahan juga kan." Ucap seorang wanita paruh bawa, dari arah belakang Sarah yang sedang menunduk mengisi buku tamu.
"Mewakili ayah,bu. Beliau masih sakit jadi nya saya yang datang. Tapi walaupun gitu, saya bawa amplop nya dua kok, nih." Ucap Sarah memamerkan amplop di tangan nya, dia tau betul bahwa perbuatan itu tidak baik. Hanya saja, dia rasa perlu sesekali membuat mulut lemes itu berhenti berkicau.
"Saya nggak nanya kok, amplop dua juga kalau isi nya 10ribuan buat apa. Sombong amat, katanya nikah sama orang kaya, itu bapak nya kok masih banting tulang berkebun nyari makan. Pelit sama orang tua tuh nggak berkah, makanya kamu sampe sekarang belum di kasih anak." Sungut wanita paruh baya itu kesal, karena Sarah memamerkan amplop pada nya, dia paling tidak sukai di saingi. Apalagi oleh Sarah yang sering dia panggil si anak tukang sayur. Karna dulu ayah nya sering berjualan keliling dengan sepeda butut milik mereka.
Telinga Sarah panas mendengar ocehan wanita itu, ingin sekali dia menyumpal nya dengan cabe sekilo dari kebun ayah nya, jika tidak mengingat harga cabe yang mahal. Bukan soal isi amplop atau pekerjaan sang ayah yang berkebun, namun Sarah paling sensitif jika membahas soal anak. Betul kata sang ayah, orang seperti bu Laila, istri pak Dulah itu tidak usah diladeni, bisa stress sendiri kita.
"Yang sering ngambil sayur gratis di kebun ayah juga siapa, minta buat sayur makan siang, pulang-pulang bawa buat stok seminggu. Minta loh itu, nggak bayar, kasihan nya ayah ku yang banting tulang karna ikut ngasih makan tetangga." Ucap Sarah kemudian berlalu dari hadapan bu Laila, membuat wajah wanita paruh bawa itu langsung berubah pias menahan malu, mendengar ucapan frontal Sarah.
"Neng Sarah ngomong apa tadi bu Laila, muka nya sampe kecut gitu." Tanya teh Winar duduk di kursi plastik samping Sarah, dengan membawa piring dan minuman di tangan nya.
"Biasa lah teh, mulut nya itu." Ucap Sarah dengan nada masih sedikit kesal.
__ADS_1
"Udah, kamu diamin aja kalo lain kali dia ngoceh nggak jelas. Lah, sama aku aja suka di nyinyirin. Katanya, kamu kok nggak KB sih win, suami kamu lho kerja nya masih nggak jelas, kalo anak kamu banyak, mau di kasih makan apa. Gitu-gitu lah, omongan nya selalu bikin kuping rasa terbakar. Padahal kan nggak minta makan sama dia juga, suka heran aku. Kasihan pak Dulah, banyak malu nya punya istri kaya gitu." Ucap teh Winar prihatin, pada pria paruh baya yang selalu berakhir dengan menyelesaikan masalah yang dibuat oleh sang istri.
"Mempelai pria nya kaya aku kenal, teh. Kerja di kantor kelurahan sini kan, kaya pernah liat di sana pake baju dinas gitu." Tanya Sarah pada wanita di samping nya, yang masih sibuk mengunyah sejak tadi.
"Iya, kerjanya di kelurahan, makanya bisa kenal sama neng Salma. Sama-sama kerja di sana, itu.. bagian apa ya kok jadi lupa. Kalo neng Salma semacam asisten lurah gitu, yang bagian ngantar berkas masuk ke ruangan lurah nya." Jelas teh Winar dengan mulut penuh makanan.
Sarah hanya manggut-manggut pelan, sesekali menyendok makanan ke mulutnya. Dia tidak lapar, hanya saja tidak enak jika dia tidak makan.
"Teh Tini, baru datang." Sapa Sarah ramah.
"Iya, tadi abis selesain cucian baju anak nya pak lurah. Dua keranjang gede, encok rasa pinggang" Keluh teh Tini sambil mengusap pinggang nya yang sakit.
"Anak nya pak lurah yang baru habis lahiran tu ya, Tin?".. Tanya te Winar.
__ADS_1
"Iya, teh. Nggak di pempesin, takut lecet kata nya, makanya cucian nya sebanyak itu." Jelas teh Tini.
"Neng Sarah abis ini langsung balik kerumah sakit?".. Tanya ten Tini pada Sarah.
"Nggak teh, ada sedikit urusan dulu, kenapa teh?"
""Teteh sama si akang mau ke rumah sakit jenguk pak Ramdhan, kali aja kamu langsung balik, barengan kita naik angkot. Si akang biar bawa motor sendiri. Nomor kamar nya aja kalo gitu."
"Ruang Asoka kelas 2 pintu nomor 4." Jelas Sarah.
"Iya udah, nanti abis dari sini mau langsung kesana, mumpung masih kece gini." Ucap teh Tini, menggoyang pelan bahu nya membuat mereka bertiga tertawa pelan. Baju yang di pakai teh Tini adalah pemberian Sarah, baju itu masih baru, dia memberikan nya dengan alasan sempit, salah pilih ukuran.
Dia tidak enak langsung ngasih tanpa alasan yang masuk akal, takut nya malah menyinggung perasaan orang yang di kasih. Begitupun jika dia memberikan baju pada teh Winar, selalu dengan alasan yang sama. Usianya dengan teh Winar terpaut 5 tahun dan dengan teh tini hanya terpaut 3 tahun, mereka sudah Sarah anggap seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1