Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XCVIII


__ADS_3

"Jadi maksud lo, Kiran Itu anak kandungnya Reegan sama Sarah. Kok jadi ribet gini sih, Killa aja masih belum tau kabarnya gimana. Ini gue dari sini mai ke sana sekalian nengok. Ruangan ada di ujung lorong ini belok kanan kalo lo mau kesana."


"Pantas wajahnya kaya gak asing gitu, gue juga ingat. Daniel pernah bilang, senyuman nya Kiran itu mirip sama bundanya, Sarah. Gue waktu itu gak terlalu nanggepin, gue pikir karena tu anak ngefans banget sama istri om nya itu." Jelas bintang lagi panjang lebar.


"Siapa nama ibu angkatnya yang selama ini rawat Kiran?"


"Bukan rawat, tapi dijadiin mesin pencari uang, sejak anak itu umur 2 setengah tahun Kira udah berkeliaran dijalanan ikut anak tetangganya dirumah kardus itu, ngamen sama mulung. Kebayang gak lo kalo sampe Reegan tau, anaknya dari batita udah disuruh kerja cari uang. Masih bisa jalan sambil kursi rodaan aja udah untung tu perempuan. Wanita itu benar-benar gila, anak sekecil Kira udah sering disuruh ngamen sampe larut malam, gak dikasih makan sama sering tidur diteras, atau kalo masih ada tenaga, tu anak nyamperin kosan cewek gue." Ujar Satria panjang lebar.


Tanpa mereka tau, sejak tadi ada seseorang yang tanpa sengaja, mendengar obrolan kedua pria itu. Dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang terkepal sempurna. Emosi sudah berada di ubun-ubun, giginya gemeletuk menahan amarah.


"Siapa wanita brengsek itu, Sat siapa? Mana anak gue, mana?" Seru Reegan menarik kerah baju Satria, pria itu lupa mereka ada dimana sekarang.


"Gan, sudah lepas dulu, kita bakal jelasin. Jangan gini, kasian keluarga pasien jadi pada ketakutan gitu liat lo kaya gini. Kita keluar yuk, ngomong kalem diluar aja." Bintang menarik paksa tangan sahabat nya itu, dia tau Reegan syok. Begitu pula dirinya.


"Jelasin, sejelas jelasnya!"


"Gue bakal cerita tapi lo jangan emosi gini, kira bakal takut ketemu ayahnya kalo sikap lo kaya gini." Ekor mata Satria melirik jendela kaca, yang mengarah ke ranjang seorang gadis kecil, yang sedang disuapi oleh Daniel.


Reegan mengikuti arah lirikan Satria, matanya membulat sempurna. Keyra kecilnya, persis. Tidak diragukan, itu pasti putri kecilnya. Reegan berjalan kearah jendela dengan berurai air mata. Diusapnya jendela kaca itu seperti tengah mengusap kepala sang anak.


"Ceritakan." Ujar pria itu pelan, hampir tak terdengar.


Satria lalu menceritakan bagaimana awal dia bisa mengenal Kira, lalu mendengar cerita pilu tentang gadis kecil tersebut dari kekasih nya. Dan dia menyaksikan sendiri, bagaimana Kira kecil berjalan di tengah malam buta menuju rumah Dara. Dalam keadaan basah kuyup dan sedikit demam.

__ADS_1


Lalu besoknya dia nekat mengambil sampel rambut Keyra, dengan alasan ada uban dikepala gadis itu, dia berhasil mencabut sehelai rambut Keyra. Malamnya dia mendatangi rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dan terakhir bagaimana dengan kejam wanita gila itu, mengurung Kira selama 3 hari digudang tanpa diberi makan minum. Masih belum puas, wanita itu kembali mencelupkan kepala Kira, kedalam gentong air kotor tampungan air hujan hingga pingsan.


Reegan tampak sangat emosional mendengar semua cerita pilu sang anak, akan dia balas wanita laknat itu lebih dari yang dia lakukan pada putri nya.


"Siapa nama wanita gila itu, Sat?" Tanya Reegan dengan suara bergetar namun terkesan dingin.


"Nama Sasa, gue gak tau lengkap nya."


Reegan dan Bintang saling menatap, dengan tatapan yang tidak Satria pahami.


"Lo bedua kenal?"


"Kalo orang nya sama maka kita kenal, Sasa itu dulu mau dijodohkan oleh mendiang kakek Prayoga sama Reegan. Tapi Reegan menolak keras, walaupun tu perempuan udah di bawa tinggal dirumah oleh kakek Prayoga. Terakhir abis kasus kakek, Wanita itu tersandung kasus skandal sama pejabat, orang tuanya bangkrut dan mereka semua menghilang entah kemana."


Bintang mewakili untuk bercerita, jika Reegan yang bercerita maka akan lain. Pria itu akan mengikutsertakan tangan dan kakinya, bukan takut mengganti kerugian akibat tindakan brutal sahabatnya tersebut. Toh itu juga rumah sakit miliknya, Namun demi kenyamanan bersama.


Klek


"Ayah, mau jenguk Kirannya Daniel ya. Duduk sini." Sedikit banyak Daniel sudah mengerti sedikit, tentang orang-orang dewasa tersebut. Bahwa Kirannya, adalah anak kandung pamannya itu. Daniel berjalan keluar Menuju ayahnya diruang tunggu keluarga pasien.


"Hai sayang." Tenggorokan Reegan terasa kering. Banyak kata yang sudah dia susun, kini semuanya tercekat di tenggorokan.


"Hai, om. Om kenapa nangis. Kira nakal ya? Maaf." Tangan kurus Kira mengusap air mata Reegan, membuat pria itu semakin menangis tergugu. Reegan memeluk tubuh kurus anaknya dengan hati yang begitu sakit.

__ADS_1


"Maafkan ayah nak, maaf baru menemukan Kira, maaf." Bahu Reegan berguncang kuat, membuat gadis kecil itu membeku. Apa dia tidak salah dengar, pria itu berkata, bahwa dia adalah ayah nya.


"A yah.. Beneran. Kira punya ayah, ibu bilang Kira ketemu nya di tong sampah. Orang tua Kira benci sama Kira karena nyusahin, bener gak yah? Trus ibunya Kira mana, gak mau ya ketemu sama Kira. Ibu Sasa sering bilang, Kira ini anak setan, anak pembawa sial. Gak gitu kan yah? Kira nyusahin ya.? Maaf ya yah"


Ucapan panjang lebar itu semakin membuat jiwa Reegan terguncang, hatinya tercubit, bagaimana bisa putri cantik nya mereka buang ketempat sampah. Wanita itu benar-benar harus diberi pelajaran. Dia harus tau sedang berhadapan dengan siapa. Jika dulu dia masih bersikap lunak, sekarang tidak lagi. Akan dia selesaikan dengan caranya sendiri, agar wanita manapun yang terobsesi padanya tau. Dia bukan pria yang mudah untuk mereka taklukkan, dengan cara-cara murahan seperti itu.


"Itu gak bener nak, ayah sama bunda sayang sama Kira sejak didalam perut bunda. Kira diambil dari ayah-bunda tanpa kami tau. Maaf baru bisa menemukan Kira, mulai sekarang ayah dan bunda juga kakak-kakak, akan selalu jagain Kira dan sayang sama Kira."


"Kira dulu diculik ya yah, kaya film yang kira tonton ditv kecil bintik-bintik dirumah kardus teman nya Kira." Tanya gadis kecil itu polos.


"Ya, kaya yang ditonton Kira itu." Hatinya semakin tercubit, mendengar cerita polos anaknya.


"Kira suka tinggal dirumah kardus, sering diajak makan singkong rebus sama, itu apa yaa.. Kira lupa, nanti malu bilang takut salah lagi." Ujar gadis itu bersemu malu, membuat Reegan sangat gemas Melihatnya.


Dicium nya gadis kecilnya itu dengan sayang di seluruh wajah mungilnya. "Ayah geli yah, hihiihi. udah nanti Kira ngompol, bisa direndam ibu dalam ember semalam, udah yah hahaha geli."


Aksi Reegan terhenti mendengar ucapan anaknya, apa dia tidak salah dengar. Direndam dalam ember semalam. Ucapan polos anaknya itu adalah kata-kata reflek, tanpa dia sadari.


"Ayah gak bakal gitu, bunda juga. bunda itu orangnya sabar banget, sayang sama anak-anak nya. Nanti Kira pasti senang kalo udah ketemu sama bunda. Bisa tidur sama bunda juga ayah." Reegan mencium lembut kening anaknya penuh kasih sayang.


"Kira udah makan, udah minum susu belum. Eh ada tidak susunya? Kira suka rasa apa? Nanti ayah belikan yang banyak, roti, Cake, apalagi. Bilang sama ayah." Reegan mencium telapak tangan putrinya yang tidak sehalus kulit anak-anak seusianya. Tampak sedikit kasar dan menebal, banyak bekal luka dijari-jari mungil itu. Air matanya kembali menggenang, namun berusaha dia tahan.


"Kira suka susu rasa apa aja, biasa dibagi sama teman-teman kalo lagi ngamen sama mulung. Satu kotak sama-sama, minumnya dikit-dikit, biar gak cepat abis. Hihihi." Astaga, Reegan sudah tidak tahan lagi, air matanya kembali tumpah.

__ADS_1


"Ayah sedih lagi, gak suka ya Kira cerita. Maaf ya, Kira ini Cerewet kata teman-teman dirumah kardus, tapi gemesin, lucu. Jadi ayah jangan sedih lagi ya, kira gak cerewet lagi kok, janji." Gadis kecil itu mengarahkan jari kelingking nya pada Reegan.


"Kira gak cerewet, ayah suka Kira yang seperti ini. Nanti rumah bakal rame kalo ada Kira, semua pasti bahagia ketemu sama anak ayah yang cantik, lucu dan menggemaskan ini." Reegan mencubit pelan pipi tirus anaknya.


__ADS_2