Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XCI


__ADS_3

Operasi Killa masih berlangsung, sudah dua jam lebih keluarga itu menunggu. Begitu juga dengan para sahabat keluarga itu, Angga beserta keluarga nya datang ke rumah sakit, saat dihubungi tentang kecelakaan yang menimpa Killa kecil mereka.


Klek


"Pak-bu, operasi di bagian kepala anak Killara sudah selesai. Luka ditubuh lainnya juga sudah mendapatkan penanganan. Sekarang akan kami pindahkan ke ruang NICU untuk bisa dipantau secara intensif. Diruang perawatan anak-anak. Silahkan ikuti kami setelah anak Killara keluar dari ruang operasi." Jelas dokter itu pada keluarga Reegan.


"Baik dok, kami mengerti." Balas Reegan pada dokter tersebut.


Reegan menatap miris putrinya diatas brankar, yang sedang didorong oleh perawat. Dipenuhi banyak balutan perban. Meski hati kecilnya sedikit terganggu, dengan kenyataan tentang golongan darah Anak nya yang berbeda.


"Maaf pak hanya boleh sampai disini saja, pasien tidak boleh dijaga didalam. Dikarenakan ruang tersebut adalah ruang steril. Bapak-ibu bisa menunggu disini saja, sesekali boleh masuk di jam besuk yang telah ditentukan. Namun harus bergantian, dengan menggunakan pakaian steril yang ada disebelah sana." Perawat jaga itu menjelaskan panjang lebar, aturan yang berlaku diruang NICU tersebut pada Reegan dan keluarga nya.


Meskipun rumah sakit tersebut milik keluarga itu. Aturan harus tetap ditegakkan. Semua aturan berlaku sama bagi setiap keluarga pasien.


"Baik, sus. Kami akan menunggu disini saja. Terimakasih banyak." Ujar Sarah ramah.


"Sin, bahu kamu coba kamu bawa ke IGD dulu, itu lukanya dalam, takut infeksi. Killa sudah gak apa-apa, kamu juga perlu memperhatikan dirimu juga. Daniel juga terluka, dibawa berobat sekalian. Kalian bisa langsung pulang aja, kamu sama Daniel juga butuh istirahat. Makasih banyak ya Sin, maaf untuk semua yang terjadi. Pulanglah, istrahat. Aku akan kabari lagi perkembangan Killa sama kalian." Sarah memeluk Sinta dengan perasaan penuh rasa bersalah.


Putrinya bukan hanya menghancurkan isi rumah keluarga itu, namun juga melukai penghuni nya. Entah apa yang dipikirkan bocah 6 tahun itu, sampai tega melakukan hal sekejam itu. Sarah masih tidak percaya, bukan itu didikannya selama ini. Namun kenapa hasilnya bisa seperti itu.


"Kami pulang ya, kabari apapun perkembangan Killa. Jangan merasa bersalah, kita tidak boleh saling mengalahkan di kondisi seperti ini. Saling menguatkan adalah hal yang harus dilakukan sekarang." Ujar Sinta bijak. Dia sendiri masih dalam kebingungan besar, dengan apa yang dilakukan gadis kecil kesayangan mereka itu. Namun bukan saatnya memperkeruh keadaan.


"Thanks Bin, sorry. Gue gak tau mau ngomong apa lagi. Gue malu sama lo, istri lo juga anak lo." Reegan memeluk sahabatnya dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Its ok, Gan. Kejadian seperti ini gak ada yang mau, semua akan baik-baik aja. Kabarin gue kondisi Killa kecil kita, jangan merasa sungkan. Gue gak mau itu, lo saudara gue. Gue sayang, Berhenti merasa bersalah lagi." Reegan tergugu diperlukan Bintang, rasa bersalah itu semakin menumpuk.


"Gue dipeluk juga dong, gue lemes ni. Ck, sahabat gak ada akhlak." Revan ikut nimbrung memeluk kedua sahabat nya.


"Lah, trus gue. Gak pengen dipeluk juga, ishh gak adil ini." Bastian pun tak mau kalah. Keempat sahabat itu saling berpelukan.


Teman sejati adalah teman yang akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi. Bersama mereka kamu bisa menjadi 100% dirimu sendiri, dan mereka akan tetap mencintaimu tanpa syarat. Persahabatan yang hebat tidak tergantikan oleh apapun. Mereka bisa menginspirasi mu, untuk tumbuh menjadi versi dirimu yang lebih baik.


Sahabat adalah orang yang mengerti arti dari air matamu, jauh lebih berharga daripada banyak teman yang hanya tau senyum lebarmu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Makan dulu yuk, ini aku ada beli nasi campur di kantin. Gak seenak masakan bunda sih, tapi lumayan buat ganjal perut." Ujar pria itu terkekeh hambar.


"Biasanya kalo orang lain yang masak pasti enak, karena mungkin udah bosan makan makanan buatan sendiri." Balas Sarah sambil membuka bungkusan nasi campur tersebut.


"Tapi aku gak pernah bosan makan masakan bunda, enaknya beda. Pake bumbu cinta ya kalo masak." Kelakar Reegan berusaha menghangatkan suasana.


Beberapa hari ini, Sarah jarang berbicara padanya. Hanya sesekali menjawab jika dirasa perlu untuk dijawab, selebihnya hanya menggeleng atau mengangguk. Membuat Reegan semakin tertekan. Namun dia sengaja memendamnya, ternyata sesakit itu memendam segala sesuatu sendirian. Tanpa satupun orang yang bisa memahami mu, kini dia mengerti benar, apa yang selama ini sang istri alami.


Tekanan batin itu, pasti menumpuk dan terasa menyakitkan. Sikap diam dan lembut Sarah, telah membuat dirinya seolah selalu berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Meski sejatinya, selama ini istri nya itu, menyimpan semua rasa sakitnya sendirian. Berusaha membalut dan menyembuhkan setiap lukanya sendiri, tanpa ada satupun orang yang tau.


"Aku masak pake micin, makanya enak." Seloroh Sarah, membuat Reegan terkekeh.

__ADS_1


"Sengaja ya, ngingetin aku sama si Micin. Apa kabar ya dia sekarang, udah gak jadi model, perusahaan keluarganya juga bangkrut." Ujar Reegan pura-pura bersimpati. Padahal dialah yang membuat wanita itu dan keluarga nya hancur.


"Ck, kangen. Cariin gih." Balas Sarah dengan nada sewot.


"Gak lah, kebanyakan micin nanti aku tekanan. Cukup bunda aja, udah bisa bikin aku tegang." Seloroh pria itu nyaris terbahak, jika tidak mengingat dimana mereka berada sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat lain, seorang wanita sedang memarahi seorang gadis kecil.


"Astagaa, Kiraaa. Otak kamu itu bisa dipakai gak sih, uang segini cukup buat apa, hah!" Wanita itu berteriak marah pada anak perempuan nya.


"Keluar lagi, cari yang banyak. Ingat ya kalo belum banyak, kamu jangan pulang seperti biasa. Tidur dijalanan sana, itu cocok buat kamu." Ujar wanita itu tanpa perasaan. Didorong nya tubuh kurus Kira hingga keluar pintu, kemudian menguncinya dari dalam.


"Bu, Kira takut bu. kira laper, boleh ya masuk ya. Besok Kira kerja lagi, nyari uang yang banyak buat ibu. Bu buka bu, Kira takut." Suara memelas Kira tidak membuatnya hati wanita itu tersentuh.


Kira kecil berjalan menyusuri gang sempit dan kumuh itu menuju ke arah jalan raya, sepertinya malam ini, dia akan tidur dijalanan lagi.


Kira sebenarnya tidak merasa lapar, siang tadi seorang remaja memberikan banyak roti pada nya, dan juga sebungkus nasi. Dia memakan nasi dan roti itu, bersama teman-teman nya sesama pengemis. Pekerjaan mengemis itu sudah Kira lakoni sejak umur 2 setengah tahun, seorang anak yang kebetulan tinggal dirumah kardus, tak jauh dari rumahnya sering mengajak nya mengemis.


Walau awalnya Kira hanya ikut-ikutan dan belum paham apapun, karena umurnya yang masih batita. Namun otak cerdas anak itu, menyerap cepat apa yang terjadi disekitar nya. Dirinya sering ditinggal dirumah sendirian oleh sang ibu. Sejak bayi, Kira sering dijaga secara acak, oleh teman-teman ibunya dirumah petak, diarea tempat hiburan malam.


Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur, disebuah tempat pelacuran tidak jauh, dari daerah kumuh tempat tinggal mereka. Telinga suci Kira kecil, sudah kenyang dengan suara-suara laknat sang ibu, bersama teman kencan nya. Wanita tak berakhlak itu, sering membawa pulang pelanggan nya kerumah petak tersebut.

__ADS_1


Kira kecil akan dikurung dikamar sempit, yang lebih cocok disebut, gudang. Kecerdasan anak itu membuat nya tidak banyak bertingkah, apapun yang dia dengar dan lihat. Akan dia pendam sendiri, lalu berusaha melupakannya dengan bekerja seharian, sebagai pengemis dan juga pemulung.


__ADS_2