
Sarah tengah berkutat di dapur, tadi sang ayah memintanya untuk membuat kan sup ikan. "Ikannya sudah kamu potong belum, nak?".. Pak Ramdhan kembali dari kebun, membawa dua batang sereh dan tiga batang bawang prei, itulah untung nya punya kebun sendiri. Selain hasilnya bisa untuk dijual, bisa juga untuk konsumsi sendiri.
"Belum yah, belum sempat, masih bikin ini dulu." Tunjuk Sarah pada tumisan kangkung kesukaannya.
"Iya, sudah sini ayah yang motongin ikan nya. Kamu motong ini aja nanti kalau yang itu sudah selesai."
"Ayah semalam pulang jam berapa?".. Tanya Sarah hati-hati, dia tidak ingin ayahnya merasa di introgasi olehnya.
"Lupa, ayah nggak liat jam waktu pulang, tapi kamu udah tidur, ayah nggak tega bangunin, jadi ayah makan sendiri. Kamu tidur nggak makan dulu semalam? Ayah liat lauk yang kamu panasin masih utuh."
"lupa yah, abis masak Sarah mandi trus rebahan, jadinya ketiduran." Ucap Sarah nyengir. Berbohong demi keamanan bersama, begitu pikir Sarah.
"Lain kali jangan gitu lagi, kamu punya maag, nggak baik tidur sebelum perut di isi dulu. Nanti asam lambung kamu malah naik." Nasehat pak Ramdhan.
"Siap yah, nanti ada yang Sarah pengen omongin sama ayah, abis sarapan. Ayah nggak kemana-mana lagi kan?"..
__ADS_1
"Nggak kemana-mana, cuma mau temanin kang Sadin bikin bedengan dibelakang. Ini sudah selesai, ayah lagi rendam garam, nanti biarkan sebentar sebelum kamu masak. Biar lendirnya nggak terlalu banyak. Ayah mau mandi dulu." Ujar pak Ramdhan bergegas menuju kamar mandi yang berada persis disamping dapur.
"Baik yah, itu sudah ada air panas di termos, tinggal ayah tuang aja di ember." Seru Sarah pada ayah yang sudah berada di dalam kamar mandi.
"Iya, ayah lihat." Pak Ramdhan balas berseru dari dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarah dan ayahnya sedang duduk disofa diruang keluarga, Sarah meremas pelan kedua tangannya. Entah kenapa dia jadi sedikit takut mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kamu mau ngomong apa tadi sama ayah, nak?". Pak Ramdhan seperti mengerti dengan kegelisahan anak nya itu.
"Katakan pada Sarah, yah. Apakah keputusan yang Sarah ambil ini, sudah benar. Kemarin mas Angga datang ke rumah sakit, memohon agar Sarah kembali. Dia berjanji akan memperbaiki semuanya, termasuk sikapnya yang suka kasar pada Sarah selama ini. Hati Sarah sudah mati rasa pada mas Angga, namun melihatnya serapuh kemarin, hati Sarah iba. Bagaimanapun kami pernah bersama selama dua tahun di dalam rumah yang sama." Tiga bulan Sarah bertahan, menahan perih hatinya atas perselingkuhan sang suami, sekarang dia harus mendengar fakta lain langsung dari mulut suaminya. Kekasih gelap sang suami, kini tengah mengandung hasil hubungan terlarang mereka. Dia sudah tidak sanggup lagi, hatinya tidak selapang itu, biarlah dia yang pergi.
"Jika memang keputusan kamu sudah bulat, maka ayah akan mendukungnya. Ada tipe manusia yang memang layak untuk di beri kesempatan kedua, ada juga yang tidak. Mereka harus bisa memetik pelajaran dari apa yang mereka perbuat, lalu memperbaiki dirinya sendiri. Kamu tidak harus kembali pada Angga, hanya karna hatimu iba. Jika kamu sudah merasa terlalu sakit, maka lepaskan. Rasa iba, ibarat kamu menggenggam setangkai mawar, terlalu sayang untuk dibuang padahal membuat tanganmu terluka."
__ADS_1
"Kamu masih muda, lanjutkan hidupmu, temukan kebahagiaanmu dan buatlah dirimu bahagia. Tidak semua istri, bisa melapangkan dada untuk mengasuh anak hasil perselingkuhan suaminya. Jika Angga memang mencintai mu, dia tidak akan setega itu menyakiti hatimu. Tidak ada cinta yang melukai hati pasangannya dengan sengaja, itu bukan cinta, nak. Tapi serakah namanya." Ucap pak Ramdhan panjang lebar sambil mengusap pelan rambut Sarah. Dia tau seberapa besar luka hati putrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disinilah Sarah, duduk berhadapan dengan Angga di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor suaminya itu. Sudah beberapa menit sejak mereka tiba disana, belum ada yang yang memulai untuk membuka pembicaraan.
Angga menghela napas dalam sebelum dia membuka suara. "Kamu mau ngomong apa lagi, Sar. Kalau masih ngotot pisah, lebih baik aku pulang saja. Aku nggak mau pisah dari kamu, soal anak itu, biarkan Lusi sendiri yang merawatnya, aku akan tetap membiayai nya hingga anak itu mandiri." Ucap Angga tetap kukuh pada pendiriannya, dia tidak ingin berpisah dari Sarah. Dia sadar hatinya sudah terisi penuh oleh wanita itu, wanita yang secara sengaja telah dia khianati selama satu tahun ini.
"Dengar mas, selama kita menikah hanya aku yang memperjuangkan pernikahan kita, aku bertahan dengan segala rasa sakit yang kamu dan mama berikan. Bukankah selama ini aku hanya beban untukmu, hanya wanita mandul yang tidak bisa memberikanmu keturunan, bukankah itu yang sering kamu ucapkan sama aku jika kamu sedang marah. Aku tidak ingin menjadi beban mu lagi, mas. Mungkin jika bersama mu aku menjadi wanita mandul, namun tidak saat bersama dengan orang lain." Ucap Sarah tetap mempertahankan keputusannya. Dia tidak ingin terlihat lemah didepan suaminya.
"Tidak ingin kah kamu mempertimbangkan kebersamaan kita selama dua tahun ini, Sar. Aku sadar aku telah banyak berbuat kesalahan, menyakiti hati dan juga fisikmu, aku salah. Aku tidak menyangkalnya, tapi tidak layak kah aku mendapat kan kesempatan kedua." Ucap Angga dengan nada putus asa, pria itu terlihat sangat frustasi.
"Kamu layak, mas. Tapi bukan kesempatan dari aku yang kamu butuhkan sekarang, melainkan Lusi. Wanita itu butuh kamu, begitupun anak yang di kandungnya. Dia tidak hanya butuh pengakuan tapi juga tanggung jawab. Aku sudah memaafkan mu, mas. Tapi tidak untuk kembali bersamamu, menikahlah dengan lusi, bisa jadi itu adalah kesempatan terakhir yang kamu miliki, untuk bisa memiliki keturunan dari benih mu sendiri."
"Apa maksud kamu dengan kesempatan terakhir yang aku miliki itu, Sarah?" Ucap Angga bingung, pasalnya dia merasa kalau dirinya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kesehatannya.
__ADS_1
Sarah mengeluarkan amplop coklat dengan logo sebuah rumah sakit, kemudian menyerahkan nya pada Angga.
Dengan tangan gemetar Angga membuka amplop tersebut, dia membacanya dengan seksama. Kemudian kedua matanya membola saat matanya tertuju pada sebuah tulisan yang tertera di sana.