
Satu bulan telah berlalu, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Namun tidak bagi wanita yang sedang duduk dikursi roda, dibawa pohon ceri Tersebut. Waktu baginya berjalan begitu lama dan lambat.
Setiap harinya, hanya bisa melakukan aktivitas diatas kursi roda, membuat wanita itu merasa sedikit frustasi. Dia hanya berharap, kedua anaknya tetap kuat dan sehat, hingga tiba waktu persalinan tiba. Mengingat dirinya harus kembali ke kota, membuat Sarah merasa gelisah.
Bayangan buruk akan kehilangan anak-anaknya, masih menghantuinya di ingatan nya. Bagaimana jika Reegan menemukan mereka, atau bagaimana jika pengikut setia tuan Prayoga menemukan dirinya.
"Non, Sarah? Kenapa, melamun. Lagi mikirin si dedek utun ya." Suara Ifah membuat lamunan Sarah buyar.
"Eh, ifah. Kamu udah pulang, tadi jalan sama Rojak kemana?" Tanya Sarah kepo, pasal nya Ifah dan Rojak sedang menjalin hubungan, sejak satu bulan yang lalu.
"Itu, non. Jalan-jalan ke air terjun, yang ada di belakang desa. Tempat nya bagus, ada di buat kan pondok-pondok kecil untuk bersantai. Tadi ada turis lokal dari kota, lumayan rame." Ifah terdiam, setelah menyadari reaksi majikannya.
"Nanti kalau dedek utun udah lahir, gedean dikit, neng juga udah kuat. Kita bisa piknik disana, udaranya seger banget, bagus buat non sama dede utunnya." Ucapnya lagi untuk menghibur majikannya Tersebut.
"Ya, nanti kalo udah lahiran, ajak aku kesana ya, sama si kembar." Ucap Sarah menimpali, wajahnya tidak tampak murung lagi.
"Ya, non. Nanti yang lain juga di ajak semua. Biar rame." Ujar gadis tersebut sumringah.
"Auww, ssshhh..." Sarah merasakan mulas diperutnya, namun kemudian menghilang. Sarah mengusap lembut perutnya, untuk meredakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang nya.
"Kenapa non, ini apa sudah mau lahiran apa gimana?" Gadis itu terlihat sangat panik. Lalu berteriak memanggil semua orang didalam rumah.
__ADS_1
"Kenapa kamu teriak-teriak gitu, ada maling? rampok? penjahat?" Seru Bahtiar pada Ifah, sambil berlari dari teras rumah menuju ke arah mereka berdua.
"Ada bayi, Tiar. Bayi.!" Tunjuk Ifah pada perut Sarah.
"Mana? Ngelindur kamu, Fah. Kebanyakan ngirup asap rokoknya si Rojak ini, makanya jadi kaya orang ngigo gini." Ucap pria berbadan besar tersebut kesal.
"Bahtiar... Tolong panggil ayah, aku seperti nya mau melahirkan." Ucap Sarah di sela-sela rasa sakit, yang hilang timbul tersebut.
Seperti dikejar banci, Angita, waria pemilik salon didekat pasar yang sangat ditakuti oleh Bahtiar. Pria itu berlari masuk kedalam rumah, dengan kecepatan supersonik miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu tenang ya, ada aku di sini, ada Lusi diluar masih urus administrasi. Jangan panik, kalau sakit, kamu bisa jambak rambut aku sampai botak, gak apa-apa. Aku ikhlas, tar kalau anak kamu udah besar, jodohnya sama anak aku, aku gak maksa juga, tapi harus ya. Aku gak mau lamaran anakku nanti di tolak. Aku tuntut kamu, karna udah pernah jambak rambut aku." Ucapan penuh kengauran itu, terucap lancar dari mulut Angga, pria itu juga dilanda kepanikan. Kondisi Sarah sebenarnya tidak memungkinkan, untuk melakukan persalinan secara normal, tapi wanita keras kepala itu, sudah membuat semua orang berada dalam kecemasan yang luar biasa.
"Kamu jangan ngomong gitu, Sar. Aku gak suka, kamu pasti kuat. Kamu lupa perjuangan kamu hingga bisa sampe kesini, liat anak-anak kamu, bahkan udah gak sabar pengen lahir. Bertemu dengan bunda mereka yang hebat." Angga sudah menangis, dia tidak tahan lagi, dia harap keputusan nya ini tidak salah. Reegan harus mendampingi Sarah, agar pria yang brengsek nya sebelas dua belas dengan dirinya itu tau, jika untuk membawa kedua anaknya lahir kedunia ini. Sarah harus bertaruh nyawa.
"Halo brengsek, lo Sekarang datang kerumah sakit bersalin kasih bunda, Sarah disini, kondisi nya tidak baik. Tolong bujuk dia untuk mau di operasi. Biar lo bisa sedikit berguna." Angga mematikan panggilannya Secara sepihak. Dia harap pria itu cepat tanggap.
"Mas... siapa..yang kamu..suruh..kesini.." Suara lemah Sarah, semakin membuat Angga tidak tahan.
Dengan suara serak dia mengatakan jika dia menyuruh Reegan kerumah sakit, dan bilang jika Reegan selama tiga bulan ini selalu mencari nya, karna pria itu sangat menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Raut wajah takut Sarah berubah sedikit lega, dia juag tidak punya kekuatan untuk berdebat atau menolak.
"Mas... Dingin.. Selimut mas.." Suara Sarah semakin lemah, Angga semakin panik.
"Ya Sar, ya. Ini selimut nya udah dua, mau aku peluk, gak apa-apa, Lusi gak akan marah. Mau?" Hening! Tak ada suara, kedua mata wanita itu terpejam sempurna.
"Sar! Gak lucu ya, hei! Bangun Sar, jangan becanda kamu!" Tak ada jawaban, tatapan Angga beralih kebawah brankar Sarah, genangan darah memenuhi lantai itu. Seketika Angga berteriak histeris memanggil dokter, dia sadar sekarang kenapa Sarah bilang jika dirinya Kedinginan. Wanita itu pendarahan.
Para dokter dan perawat bergerak cepat, mendorong brankar Sarah menuju ruang operasi. Bertepatan dengan Reegan yang baru datang, napasnya ngos ngosan. Matanya tertuju pada brankar Sarah, membuat rasa lelahnya langsung raib.
Reegan mendekati brankar itu dengan napas tercekat, digenggam nya tangan lemah Sarah yang sudah seputih kapas. Saat sampai diruang operasi, Reegan memaksa untuk ikut masuk menemani Sarah didalam. Dokter tidak punya pilihan, pasiennya harus cepat ditangani, ketimbang harus meladeni pria keras kepala itu berdebat.
Satu setengah jam sudah berlalu, kedua bayi merah itu sudah lahir, dan sedang berada dalam inkubator. Reegan masih setia menggenggam tangan Sarah sejak tadi, hatinya diliputi oleh kecemasan luarbiasa. Dokter baru saja berhasil menghentikan pendarahan yang Sarah alami, namum kondisi wanita itu malah semakin memburuk.
"Pak, sudah selesai. Kami akan memindahkan ibu keruang ICU sekarang." Reegan masih belum melepas kan genggaman nya, dia berada dalam ketakutan, takut pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Mereka melewati lorong dari ruang operasi itu, menuju ruang ICU, tanpa harus memutar dari luar.
"Pak silahkan tunggu diluar, biarkan perawat yang memantau disini. Bapak bisa tunggu, diruang tunggu yang ada diluar ruangan ini, silahkan melewati pintu itu." Ujar dokter itu Ramah.
"Tidak, aku akan tetap disini. Aku tidak akan kemana-mana." Pria keras kepala itu menolak keras, untuk keluar dari ruang ICU. Membuat dokter ingin sekalian membiusnya, agar berhenti membuat pekerjaan mereka bertambah, dengan melayani pria itu berdebat. Pikiran dan tenaga mereka, sudah terkuras sangat lelah dengan pendarahan hebat yang wanita itu alami.
__ADS_1
Dokter itu keluar, dia berharap ada seseorang diluar, yang bisa membuat pria itu mau keluar. Kalau tidak, dia benar-benar akan membiusnya dengan dengan senang hati.