Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XC


__ADS_3

Drrtt drrtt drrrtt


"Ck, berisik banget. Ya Bintang, gue sibuk nelpon nya nanti aja." Klik. Reegan memutuskan sambungan, tanpa mendengar apa yang akan dikatakan oleh si penelepon.


Drrttt ddrrrtt drrrttt


"Astagaa, Bintang Bulan galaxy bumi matahari. Gue sibuk Bin..."


"Killa kecelakaan, Gan. Sekarang kami sudah dirumah sakit, lo kesini aja yang lain udah pada kesini. Telpon Sarah, gue gak berani." Klik


Reegan Mematung mendengar berita dari sahabat nya. Bagaimana bisa Killa kecelakaan, bukankah rumah Bintang tidak berada dipinggir jalan raya, yang padat lalu lintasnya.


Reegan tersadar dari lamunannya, lalu bergegas mengambil kunci mobil.


"Nindy kamu handle pekerjaan saya, killa kecelakaan." Seru Reegan tanpa berhenti, kata-kata itu dia ucapkan sambil berlari menuju elevator.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wajah Reegan begitu panik, pria itu berlari dari parkiran menuju IGD.


"Mana anak gue? Gimana bisa Killa kecelakaan, Bin? Gimana keadaan sekarang? Ya Tuhaannn, cobaan apa lagi ini." Reegan menarik kerah baju Bintang, membrondong nya dengan banyak pertanyaan.


"Udah gan, itu bukan salah Bintang. Bukan salah siapa-siapa, Killa butuh lo kuat buat dia. Bintang juga baru tau dan langsung berangkat kesini bareng gue." Bastian menarik pelan bahu sahabatnya itu, dia tau Reegan pasti terguncang sekarang. Namun menyalahkan Bintang, juga tidak akan mengubah keadaan.


"Sorry gan, gue juga belum tau jelasnya. Lo liat istri gue, dia masih syok berat dengan apa yang Killa alami." Bintang menunjuk ke arah istri nya, masih berlumuran darah dan terlihat masih menangis sesenggukan, sambil memeluk putranya, Daniel.


"Kejadian itu cepat banget, tepat didepan istri gue, yang berusaha mengejar Killa yang berlarian keluar rumah sambil menangis." Jelas Bintang seadanya, dia juga belum tau pasti Kenapa kecelakaan itu bisa sampai terjadi. Dia tidak ingin membuat istrinya tertekan.


Terdengar suara langkah kaki berlarian memasuki ruang tunggu IGD tersebut, ternyata Sarah dan anak-anaknya serta kedua orangtuanya.


"Gimana Killa, yah. Gak kenapa-kenapa kan?" Sarah bertanya dengan suara bergetar ketakutan, namun wajahnya masih berusaha untuk tenang.


"Belum tau, dokter belum keluar. Udah yang sabar, berdoa aja Killa gak apa-apa." Ujar pria itu berusaha menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Keluarga Anak Killara Resar Sudibyo?" Seorang Dokter keluar dengan tergesa-gesa.


"Kami dok, kami orang tuanya." Ujar Reegan cepat.


"Bapak dan ibu sudah pernah mengecek golongan darah anak Killara sebelumnya? Anak bapak butuh transfusi darah segera, minimal 1 kantung kalau bisa kami butuh lebih dari satu. Menurut hasil cek golongan darah, anak Killara butuh donor darah golongan O+, dan hanya dari golongan darah tersebut saja."


"A apa? Bagaimana bisa dok. Golongan darah saya B+ dan istri saya A+, jadi bagaimana bisa golongan darah anak kami nyasar jauh dari kedua orangtuanya." Ujar Reegan dengan nada penuh emosi.


"Gan, tenang. Biar gue yang ngomong." Ujar Revan menenangkan sahabat nya.


"Dok, maaf apa tidak ada kesalahan dalam pemeriksaan atau salah mengambil hasil nya barangkali." Ujar Revan seramah mungkin, bagaimana pun dokter tersebut, yang akan menyelamatkan nyawa keponakan nya.


"Maaf pak, itu tes langsung. Jadi tidak ada penumpangan berkas pasien lain. Dan hasilnya O+. Pasti." Jelas dokter itu lagi masih dalam mode sabar seorang dokter.


Reegan dan Sarah terpaku mendengar penjelasan dokter tersebut. Bagaimana ini bisa terjadi, inikah alasan dari kejanggalan hatinya selama ini. Sarah merasa kedua lutut nya lemas seketika.


"Sayang, hei. Duduk dulu sini. Kamu tenang ya, bagian laboratorium pasti salah dalam memberikan hasil nya. Aku yakin itu." Pria itu mencoba menenangkan kan istri nya yang tampak sangat syok.


"Maksud bunda, anak kita tertukar, begitu? Bagaimana bisa, waktu itu cuma kamu yang melahirkan pada malam itu, tidak ada orang lain. Jangan mengada-ada kamu!" Cecar Reegan dengan suara sedikit meninggi. Dia tidak rela, dengan apa yang dikatakan oleh sang istri, yang seolah sedang menyangkal putri mereka sendiri.


Plakk


"Sekarang kamu mengerti Reegan, bahwa naluri seorang ibu, tidak akan pernah salah. Berani-beraninya kamu meninggikan suara mu didepan menantu mama." Seru wanita itu tidak terima.


"Bukankah mama juga mengatakan hal yang sama waktu itu, kamu lupa. Mama bilang tidak ada satupun kemiripan antara kalian dengan Killara. Kamu malah mengatakan, candaan mama garing, gak banget disaat bahagia malah bahas soal drama sinetron. Kamu lihat sekarang." Ujarnya lagi dengan suara tinggi namun dibalut tangisan.


"Dokter, golongan darah saya O+, apakah bisa diperiksa Sekarang." Ujar Revan tiba-tiba, melihat pertengkaran keluarga sahabat nya, membuat dia berinisiatif untuk mengambil tindakan lebih dulu.


"Bisa pak, silahkan ikut perawat ini." Ujar dokter yang juga merasa tidak enak, karena perbedaan golongan darah tersebut. Telah membuat keluarga itu bertengkar.


"Tan, udah dulu ya. Kita masih harus fokus sama Killa dulu. Gimanapun sekarang, Killa tetap cucu tante. Kasian Sarah jadi tertekan dengan keadaan ini." Ujar Bastian melerai pertengkaran tersebut. Melihat Sarah yang seperti orang linglung, membuat hatinya tidak tega.


Reegan Menatap istri nya, yang sedang menatap kosong pada pintu ruangan IGD tersebut. Lalu menghampiri nya.

__ADS_1


"Maaf sayang, ayah sudah bentak bunda. Ayah hanya panik, situasi ini tiba-tiba dan langsung menghantam tepat di jantung. Aku gak bisa diajak berkompromi sekarang, aku pusing banget. Tolong ngertiin, ya." Ujar Reegan dengan tatapan mengiba, dirinya juga berada dalam situasi yang sulit mencerna, apa yang sedang terjadi sekarang.


"Bun." Suara Keenan mengalihkan atensi Reegan.


Keenan memeluk sang ibu dengan penuh kasih sayang, kemudian menatap tajam padada sang ayah. Dia tidak terima jika ibunya teriaki hanya karna masalah Killa, yang bahkan saat mengetahui kecelakaan itu terjadi. Hatinya masih baik-baik saja, ketakutan nya malah terhadap sang ibu. dia tidak ingin wanita itu sampai kenapa-kenapa, karena mendengar berita kecelakaan tersebut.


"Sar, maafin aku. Aku udah lalai jaga Killa kita, ampuni aku Sar." Sinta berlutut dihadapan Sarah dengan berurai air mata, wanita itu Merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Killa.


"Sin, hei jangan gini. Gak itu bukan salah kamu, harus nya aku yang jaga Killa. Jangan seperti ini. Ayo bangun. Ceritakan padaku, apa yang terjadi kalau kamu sudah siap." Sarah mengangkat tubuh Sinta yang bergetar menahan tangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Flashback


prrang prrangg...


Suara gaduh diruang keluarga rumah Bintang, terdengar sampai ke halaman belakang rumah tersebut.


Membuat wanita yang sedang duduk bersantai, membaca buku tersebut berlari masuk ke dalam rumah. Dia teringat Killa yang sedang bermain bersama Daniel, dia takut keduanya berkelahi dan saling melukai.


Sinta menganga melihat dua Gucci besar diruang keluarga itu pecah berhamburan, lalu beralih menatap televisi besarnya dengan tatapan miris. Kemudian ekor matanya tanpa sengaja, melihat lemari kaca besar yang berisi banyak ornamen dan benda berharga lainnya, yang juga ikut hancur berkeping keping didalamnya.


Sinta Menatap putranya yang terluka di bagian keningnya, Sinta segera menuju arah sang anak untuk memeriksa nya.


"Daniel, ini kenapa nak. Kenapa bisa begini, kamu berantem sama Killa, hhmmm?" Tanya wanita itu lembut kemudian beralih menatap Killa dengan tatapan yang sama.


"Killa kenapa nak, berantem sama abang Daniel ya. Ada apa cerita sama mami yuk, sini." Sinta mengulurkan tangannya agar Killa menghampiri nya. Dia sedikit ngeri melihat tongkat besi, yang biasa digunakan sebagai pengait, sudah ada ditangan kecil gadis itu.


Killa menghampiri Sinta perlahan, setelah sinta hampir meraih tangan kecil yang menggenggam besi itu. Tanpa aba-aba, gadis kecil itu memukul bahu Sinta sampai wanita itu mengerang kesakitan, ujung pengait itu menembus baju dan kulit mulus nya hingga berdarah. Setelah melakukan itu Killa berlari keluar, disela rasa sakitnya, Sinta berusaha untuk mengejarnya.


Dan saat keluar dari pagar rumah Bintang itulah kecelakaan itu terjadi. Pengemudi yang tidak siap dengan rintangan didepannya tidak sempat mengerem. Killa terpental berkali-kali, hingga akhir berhenti setelah menghantam tembok pagar rumah tetangga Bintang.


Sinta berteriak histeris, hingga mengundang kerumunan para tetangga, yang juga tak kalah histeris melihat kondisi Killa, yang saat itu berlumuran darah hampir di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2