
Brukkk
Buku berhambur di atas lantai, membuat Ana kesal bukan main. Sudah susah payah dirinya mengangkat buku yang tidak sedikit itu, tiba-tiba saja dirinya di tabrak tanpa aba-aba.
"Jalan pakai mata dong! Lihat buku-buku ini jadi berhamburan dan kotor" Omel Ana tanpa melihat siapa yang dia marahi.
"Maaf" satu kata, singkat padat dan jelas. Ana mendongak dan betapa terkejut nya dia saat melihat siapa yang sudah dia omeli tadi. Susah payah gadis itu menelan ludahnya yang terasa kaku.
"Ini. Sekali lagi maaf kan aku, aku tidak sengaja. Sini aku bawakan separuh nya" tanpa menunggu persetujuan Ana, Rick mengangkat separuh buku tersebut dan sisanya dia letakkan di atas tangan mungil Ana.
Keduanya berjalan beriringan menuju kelas, membuat semua siswi menatap Ana dengan tatapan penuh permusuhan. Sungguh Ana ingin menghilangkan dirinya saat ini juga. Bukan soal takut, namun dia tidak ingin bermasalah di sekolah baru nya. Yang sudah susah payah dia masuki melalui jalur prestasi.
"Terimakasih, Rick" ujar Ana tulus, lalu keduanya menuju meja setelah meletakkan buku tugas yang mereka bawa di atas meja guru.
"Hmm" jawaban Rick memang selalu sesingkat itu. Dan Ana sudsh mulai terbiasanya. 3 bulan bersekolah di sana membuat nya sedikit banyak memahami karakter siswa-siswi di sekolah tersebut. Dan dia tidak pusing lagi dengan segala bentuk intimidasi yang dia Terima setiap hari nya.
Jam istirahat pun tiba seperti biasa, Ana akan nongkrong cantik di samping gudang sekolah untuk menikmati makan siang sederhana nya.
Brukkk
Kotak bekal Ana jatuh di ubin dengan menyedihkan. Ana menatap miris kotak bekalnya, ini untuk ke sekian kalinya Ana mendapatkan perlakuan seperti itu. namun dia masih berusaha sabar menghadapi nya.
"Apa kau tuli atau bodoh, sih? sudah ku peringatkan, jangan suka mencari perhatian kekasih ku. Masih saja kau melakukan nya, benar-benar ingin ku beri pelajaran, ya!." ujar Maura sedikit berteriak.
"Maaf kak, aku tidak pernah mencari perhatian Rick. Tadi hanya kebetulan saja Rick membantu ku, sungguh" Ana benar-benar ingin menangis sekarang bukan karena dirinya takut atau merasa terintimidasi oleh ancaman tersebut. Namun karena perut nya yang sudah lapar maksimal. Kepalanya pun berdenyut hebat akibat asam lambung sialan.
"Kau berani menantang ku, ya? sudah punya nyali rupanya" Maura menekan kedua pipi Ana dengan kencang, sambil menekan kuku lentiknya hingga membuat Ana meringis menahan perih.
"Jika kau sekali lagi berani mendekati kekasih ku dengan berbagai alasan, kau akan tau akibatnya." Maura mendorong wajah Ana hingga kepalanya membentur tembok cukup keras, tidak puas Maura menamparnya kemudian pergi tanpa peduli akan nasib malang gadis itu.
__ADS_1
Ana merasa kan pusing di kepala nya semakin menjadi, belum lagi rasa panas yang menjalar di pipi kanannya. Matanya mulai berkunang-kunang, lalu tak lama kesadaran Ana pun menghilang. Gadis itu pingsan tanpa satupun orang tau.
Eeuugghhh
Lenguhan Ana membuat Rick segera menghampiri nya.
"Ha..us.." ujar Ana lirih, Rick segera memberikan gelas air minum pada Ana. Gadis itu meminumnya hingga tandas tak bersisa, antara rasa haus juga lapar yang melanda.
"Terimakasih" cicit Ana pelan, tanpa berani menoleh ke arah Rick. Karena pria inilah dia harus berakhir entah di mana sekarang.
"Kenapa bisa sampai pingsan?" suara datar Rick membuat Ana terkejut, lalu reflek menoleh. Netra keduanya saling bertautan, hingga Rick memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku bertanya, kenapa kau diam saja. Apa pingsan membuat kinerja lidahmu bermasalah?" ketus Rick menutupi kegugupannya.
"Aku kelaparan, kekasihmu menumpahkan kotak bekal ku lagi hari ini." Ana reflek menutup mulutnya. Dasar mulut lemes batinnya merutuki kecerobohan nya.
Rick menyipitkan matanya, pantas saja kotak bekal gadis itu tergelak tidak jauh dari letak Ana pingsan.
"Kak? mau kemana lagi? sebentar lagi didi jemput, suka riweh tuh kalo kelamaan nunggu." Omel Lea melongokan kepalanya melalui jendela mobil.
"Bentar! ada yang tertinggal" balas Rick beseru dari gerbang sekolah. Untung saja sang ayah belum datang, baru sopir pribadi mereka yang muncul lebih dulu.
Rick masuk kembali ke dalam kelas namun tidak mendapati siapapun. Hanya tas Ana yang masih tersusun rapi di dalam laci meja. Rick mulai terlihat gelisah. Sialnya dia bahkan tidak memiliki nomor ponsel Ana, karena selama 3 bulan ini Rick bahkan tidak pernah melihat gadis itu bermain ponsel.
"Kemana sih! Nyusahin aja" omel Rick meraih tas Ana setelah menyimpun isinya ke dalam tas.
Saat keluar, Rick teringat, jika Ana selalu menghabis kan jam istrahat nya di belakang sekolah. Segera Rick bergegas menuju ke sana, saat berbelok menuju ke arah gudang sekolah. Mata Rick melotot dengan apa yang dia lihat. Ana tergelak dengan pipi memar dan di sudut bibir nya ada bercak darah. Saking paniknya, Rick menggendong Ana tanpa sempat mengambil kotak bekal Ana yang tergeletak menyedihkan di samping gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Rick berdecak kesal mendengar ucapan Ana "Siapa yang kau sebut kekasihku? bicaramu jadi ngawur gara-gara kau pingsan tadi." Rick berlalu dari hadapan Ana dengan wajah tak enak di lihat, Ana jadi bingung sendiri melihat nya.
"Memang benarkan? bukti nya hidup ku kacau hanya gara-gara Rick membantu ku mengangkat buku tugas tadi pagi." Gumam Ana kembali menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Kepalanya masih terasa sakit dan dia sangat butuh makan sekarang. Tapi mengingat dia bahkan tidak tahu berada dimana sekarang, membuat nya terpaksa harus menahan rasa pedih dilambungnya.
"Ini, makanlah! setelah itu aku akan mengantarmu pulang" ucap Rick membuyar lamunan Ana. Hampir saja liurnya menetes mencium aroma makanan di dalam piring tersebut.
"Untuk ku?" tanya Ana dengan mata berbinar.
"Hmmm... dasar bodoh, jelas untuk mu, habiskan!" titah Rick tak ingin di bantah.
"Terimakasih, aku akan menghabiskan nya." Ujar Ana bersemangat, lalu meraih piring tersebut dan beranjak turun dari ranjang.
"Kau mau kemana?" suara dingin Rick mengalihkan perhatian Ana dari piring nya.
"Ya?" ujar gadis itu cengo.
"Kau mau kemana membawa piring mu? makan saja di ranjang, kau masih lemah. Menurut lah, jangan menyusahkan orang lagi." Ana menatap Rick tak berkedip, antara senang ada yang memberi nya perhatian sekaligus takut. Suara bariton Rick selalu membuat bulu kuduk Ana meremang ngeri. Suara Rick terdengar galak di telinga nya. Pria itu sering mengomeli nya di sekolah, hanya karena hal-hal kecil yang Ana sendiri bingung, apa kesalahannya.
"Aku mau makan di lantai, tidak mungkin aku makan di kasur. Nanti kotor" Ana tetap melanjutkan gerakan kemudian duduk meleseh di karpet di samping ranjang besar itu. Tangan mungilnya mengambil sendok lalu melahap makanan tersebut dengan sangat rakus. Terang saja, Ana belum makan sejak semalam. Kebiasaan Ana memang tidak Pernah mengisi perut nya jika malam hari, dia hanya akan makan sisa kue yang tidak laku hari itu. Namun karena peminat kue nya banyak, jarang sekali ada sisa. Sehingga Ana harus rela menahan lapar dengan air putih lalu cepat tidur. Tidak heran jika dirinya menderita penyakit lambung parah.
"Pelan-pelan saja, aku tidak akan meminta nya." Celetuk Rick saat melihat bagaimana Ana makan dengan sangat lahap, tidak ada satupun butir nasi yang dia biarkan berserakan di dalam piring nya.
Perkataan Rick sontak membuat Ana tersedak, "aku sudah bilang, pelan-pelan saja. Tidak ada yang akan berebut makanan mu itu. Dasar ceroboh!" omel Rick menyerahkan gelas minum ke arah mulut Ana. Selesai minum Rick mengelap bibir mungil Ana dengan tisu.
Membuat Ana sedikit salah tingkah di buat nya "Emm.. aku bisa sendiri..maaf, aku sangat lapar.." cicit Ana jujur, dia bukan tipe gadis yang jaim soal mengisi perut nya. Karena dia tau, bagaimana susahnya agar bisa tetap makan 3 kali sehari. Meski itu sangat jarang sekali, dia lebih sering makan sekali sehari.
Rick menatap Ana dengan tatapan tak terbaca, yang Ana lihat hanya wajah datar tanpa ekspresi. Sungguh menakutkan, untung tampan. Batinnya menjerit tak tau diri, karena sudah berani memuji kekasih orang lain.
"Di dapur masih ada, kau bisa tambah lagi jika masih lapar. Aku keluar dulu, ada sedikit urusan. Jangan kemana-mana, aku tidak ingin kerepotan lagi mengurusmu." Oceh Rick tanpa perasaan. Ana melongo mendengar kalimat nyelekit tersebut. 'Siapa juga yang suruh dia repot-repot mengurus ku jika dia malah mengomel begini.' Batin Ana menjerit protes namun hanya bisa di dalam hatinya saja.
__ADS_1
"Maaf" hanya itu yang bisa Ana katakan. Dirinya jadi tidak enak hati karena sudah merepotkan orang lain.
Rick keluar setelah mengambil jaket dan kunci mobil nya, meninggalkan Ana yang masih mematung memainkan sendok. Terdengar suara pintu terbuka lalu kemudian tertutup. Ana Kembali melanjutkan makannya, perut tak tau dirinya masih merasa lapar. Setelah kenyang dia akan pergi dari sana, begitu lah pikiran sederhana nya.