
"Ck, segitu nya sama gue. Pinjamin baju lo lagi, gue mau mandi." Ujar Reegan seenak jidat.
"Dasar tamu gak ada akhlak, giliran bahas Nindy aja lo langsung ngacir mau mandi." Sungut Angga kesal sendiri.
"Sembarangan lo kalo ngomong, alamat di gorong Abdi nih gue, kalo dia denger." Dumel pria itu tak terima. "Nindy itu tameng gue dari kakek, waktu gue mau di jodohin sama si micin. Hati dan raga gue selalu buat Sarah seorang dan anak-anak gue tentunya." Ucap pria itu sendu. Mengingat kekejaman nya beberapa waktu lalu, pada wanita pemilik hati nya itu.
"Pemilik hati dan raga konon, Sarahnya lo buat hancur berkeping keping sampe gak bersisa. Cinta apaan lo." Omel Angga mencibir. Kemudian dia tersadar akan ucapan nya sendiri, bukankah mereka seri, angga jadi salah tingkah sendiri.
"Buruan sana mandi, lo bau! Tuh ada gue tarok baju di kamar tamu, khusus buat orang yang suka numpang mandi dan makan di rumah gue. Ck, kasian gue. CEO kere lo." Kata-kata Angga tidak membuat Reegan sakit hati. Dia memang pria bajingan, menyedihkan, kere dan sekarang sering numpang makan dirumah pria yang pernah menjadi suami dari wanita yang dicintainya.
"Sarapan tungguin gue!" Seru pria itu dari balik pintu kamar tamu, yang tidak tertutup rapat.
"Lama-lama gue kasih racun serangga juga tu orang."
"Siapa yang mau mas racun? Aku? Apa tukang kredit panci aku? Kok datang, ini kan hari minggu." Cecar wanita berdaster motif bunga-bunga itu, menghampiri Angga dengan membawa sepiring kue buatannya. Angga terkesiap mendengar suara sang istri, dengan senyum sejuta pesona, Angga menghampiri istrinya lalu mencium ujung kepala wanita itu. Tercium aroma GPU krim hot di rambut Lusi, namun tidak menyurutkan cinta dan hasrat nya, pada wanita yang sudah memberi nya dua anak tersebut.
"Kamu sakit kepala lagi, kita cari baby siter aja ya. Biar kamu gak cape, siang malam urus si kembar sendirian." Angga sering merasa kasihan melihat istrinya itu, jika dia bekerja dan bi Siti sibuk dengan pekerjaannya, Lusi akan mengurusi anak-anak mereka sendirian.
__ADS_1
Kadang jika istrinya harus ke kamar mandi, wanita itu akan membuka pintunya lebar-lebar, agar tetap bisa mengawasi kedua anaknya. Jika keduanya menangis bersamaan, istrinya akan menggendong keduanya sekaligus. Menyusuinya bersamaan, karna masing-masing tidak ada yang ingin mengantri.
"Cari yang paruh baya aja, kalo masih muda. Aku malah khawatir, kamu yang di kelonin, bukannya anak-anak." Ujar wanita itu tampak cemas, apalagi melihat penampilan nya semenjak hamil hingga sekarang, tampak kurang menarik menurut penilaian nya sendiri. Lalu apa kabar dengan suaminya.
Melihat raut kecemasan di wajah sang istri, Angga langsung peka. "Jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi, takutnya malah kejadian. Aku gak sebodoh dulu, yang mau jatuh ke lubang neraka yang sama. Atau ke lubang-lubang lainnya." Seloroh Angga menggoda istrinya. Tangan terampilnya, menoel dada sang istri yang terlihat menggoda di balik daster nya.
"Iishh, awas ya kalo berani macam-macam. Aku kebiri kamu mas." Ucap Lusi penuh peringatan.
"Tenang aja, Lusi. Ada aku yang pantau, sekali berbuat akan langsung aku tindak." Ucap tamu tak di undang tersebut bak pahlawan kesubuhan.
"Ck, sama-sama buaya jangan saling mengigit." Cetus wanita berdaster itu, kemudian berlalu pergi menuju dapur.
"Loh, salah gue apa. Di belain bukannya terimakasih." Bela Reegan tak terima, tindakan kepahlawanan nya di salahkan.
Kemudian pria itu menyusul pasangan suami istri tersebut, tak lain tak bukan adalah untuk ikut menumpang sarapan. Bukannya Reegan sudah sebegitu miskinnya, hanya saja dia terlalu malas pulang kerumahnya, apalagi ke apartemen yang penuh dengan kenangan akan kebersamaan nya bersama Sarah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Maaf bos, kami masih belum menemukan wanita itu. Tempat terakhir yang kami datangi, ternyata hanya sebuah rumah kecil tak berpenghuni pinggir kota."
Sudah dua bulan ini, mereka mencari informasi tentang wanita, yang bos mereka cari. Beberapa kali mereka mengikuti, mobil orang yang di duga adalah orang-orang nya tuan Adnan. Namun selalu gagal, tiap tempat yang mereka datangi selalu zonk. Terakhir tempat yang mereka kira adalah tempat persembunyian tuan Adnan, ternyata hanya sebuah rumah kecil, yang tak berpenghuni diperbatasan kota itu.
"Baiklah, apa kalian sudah selidiki, apa yang sedang Resgan lakukan saat ini." Pria itu tampak seperti sedang berpikir. "Jika ada pergerakan yang mencurigakan,ikuti dia, jangan lakukan apapun jika dia sudah berhasil menemukan nya. Cukup pantau saja dari jauh, jika dia melakukan hal buruk. Tembak, tepat di kepala." Ujarnya dengan suara datar.
"Baik bos. Maaf, bos. Itu...apa boleh saya kasbon dulu, istri saya mau melahirkan. Jadi kalau bisa, saya mau pinjam sekalian untuk beli kebutuhan bayi dan ibunya." Ucap pria itu takut-takut. Pasalnya dia baru saja menerima gajinya, dari pria itu dua Minggu yang lalu. Namun semua terpakai, untuk membayar biaya berobat sang mertua dan juga biaya lainnya.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang, berapa yang kamu butuhkan. Nanti kamu ambil sama Tono." Meski selalu berbicara dengan suara datar, pria itu cukup perhatian pada semua orang yang bekerja padanya.
"2juta saja bos, nanti potongannya, kalau boleh saya minta cicil 4 kali tidak, bos?" Ucap nya lagi dengan suara rendah, di ujung kalimatnya.
"Tidak perlu kamu ganti, anggap itu hadiah kecil dari saya untuk kelahiran anakmu. Nanti Tono saya kasih tau, supaya tidak perlu dicatat dalam kasbon."
"Terimakasih banyak, bos. Terimakasih!" Ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk orang yang dia panggil bos tersebut, namun dia tidak punya keberanian untuk melakukan nya.
"Sama-sama, kabari saya jika istri mu melahirkan, saya akan usahakan untuk datang." Semenjak peristiwa dua bulan yang lalu, Satria banyak berubah, meski sikap dingin dan datarnya masih sama. Namun dia mulai memberi perhatian lebih, pada semua orang yang bekerja padanya, termasuk juga keluarga nya.
__ADS_1
Didunia ini memang tidak ada satupun manusia yang sempurna, manusia adalah tempatnya dosa dan khilaf. Dan itu manusiawi. Namun akan menjadi sangat tidak manusiawi, jika manusia itu menolak diri untuk berubah, menjadi manusia yang lebih baik.