Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Gentleman(Joice)


__ADS_3

Joi tengah mandi dibawah kucuran shower, Jovan melakukan nya hingga dua kali dan baru berakhir tadi subuh. Joi yang sudah sangat lelah malas beranjak membersihkan diri. Dan kini dia yang paling benci mandi pagi di hari libur, terpaksa berbasah ria di jam yang baru menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


Klek


Jovan menyeringai melihat gadis pujaan nya sedang mandi dalam keadaan naked.


Pria yang juga masih dalam keadaan yang sama itu, melangkah pelan lalu memeluk Joi dari belakang.


"Pak?" protes Joi kesal karena dirinya hampir terlonjak.


"Sayang Joi, sayang." Jovan pun tak kalah protes.


"Aku mau mandi juga, barengan aja biar cepat." ujar Jovan sambil mengusap busa sabun diperut Joi.


"Aku harap benihku segera tumbuh disini" Lanjut Jovan tersu mengusap.


"Aku belum mau punya anak, aku masih kecil. Takut" Joi jujur.


"Tapi aku mau yang, aku sudah tidak sabar melihat perut ratamu ini berisi bayiku. Kau bisa operasi, pilihan melahirkan tidak harus normal. Kau tetap akan menjadi seorang ibu seutuhnya." Jovan membalik tubuh Joi dan menatap netra gadis belia itu.


"Aku tau kau masih sangat muda, aku egois, ya. Aku hanya takut kau jatuh cinta pada pria lain, kau hanya milik ku, aku takut kehilanganmu yang. Mau ya, tidak apa-apa hamil saat masih sekolah, kau bisa mengambil ujian di rumah. Nanti kita buat alasan agar bisa diterima pihak sekolah." Mohon Jovan dengan wajah sendu.


Joi bingung, usianya secara teknis baru 16 tahun, karena akhir bulan depan baru 17 tahun. Dan dia dituntut untuk hamil, tentu saja dirinya ketakutan.


"Aku masih pengen main sama teman-teman, kalau punya anak ribet. Gadis dikampung sini yang nikah muda pada gendong anak dengan penampilan tidak karuan. Aku tidak mau seperti itu" Jelas Joi beralasan.


"Kita bisa sewa pengasuh yang, aku juga bisa bantuin jaga. Jadi mau ya, kalau sampai disini benih aku udah jadi. Jangan diapa-apain, dijagain biar sehat. Nanti aku bakal temanin terus walau belum dapat restu buat menikahi mu." Bujuk Jovan tak menyerah. Tangannya sudah bermain cantik disela paha Joi hingga membuat konsentrasi Joi buyar. Pikiran nya yang kalut menguap entah kemana.


"Aku mau lagi sayang, kita belum coba dikamar mandi" hingga kegiatan pembenihan kecambah pun kembali terjadi.


Biarlah Joi dikatakan murahan atau apa, jiwa remaja nya yang sedang dalam fase menggebu-gebu bukan kehendak nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jovan sedang ikut sarapan ala orang kampung, tidak ada roti selai atau sandwich. Yang ada hanya nasi goreng, dan makanan berat lainnya.


Namun justru membuat Jovan senang, makannya sampai nambah dua kali. Berkali-kali Joi menendang kaki jovan, namun pria itu seolah tak tau.


"Suka sarapan ala orang kampung?" tanya Daniel terkekeh lucu, melihat Jovan yang begitu lahap.


Jovan tersedak mendengar pertanyaan calon mertua nya. "Ya pa, suka banget. Di rumah jarang nemu makanan begini. Kecuali makan bareng mbok Ijah di dapur, beliau suka sekali masakin aku makanan kaya gini. Mami sama papi lebih suka makanan western" jelas Jovan. Dia sedikit malu dengan porsi makannya.


"Makanlah yang banyak, jangan sungkan disini. Biasa Dimas saja yang sering kemari." Ujar Kira tanpa sadar telah mematik api cemburu Jovan.


"Eh? maksud ibu..."

__ADS_1


Ucapan Kira terpotong oleh intrupsi Jovan "tidak apa-apa bu, maaf aku hanya sedikit cemburu saja" ujar Jovan jujur.


"Uluh uluhh... Pacarmu sweet banget sih Joi, yang kaya gini nemu nya dimana sih. Bagi info dong buat selingan" ucapan Debya mendapat kan pelototan tajam dari sang suami.


"Hehehe, becanda loh pak" Debya memanggil suaminya dengan sebutan bapak untuk panggilan nya dan anak-anak mereka. Yanto, yang notabene adalah orang asli kampung sana, lebih suka dengan panggilan yang merakyat.


"Becanda mu bikin bapak gemas buk," ujar Yanto mencubit hidung mancung istri nya. Yanto adalah anak pak lurah disana, dan pria itu bekerja dikelurahan sebagai ASN bagian pemerintahan.


Namun keluarga Daniel yang tidak memilih menantu dari kalangan manapun, yang membuat nya bisa masuk dengan mudah ke keluarga itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Peluk dulu, aku mau pulang nih. Buat bekal, biar tidak terlalu Kangen, ketemu masih lusa. Aku jadi sebal sama aturan sekolah kok cuma 5 hari sih." Omel Jovan panjang lebar.


"Lah, situ kan guru bambang" balas Joi santai.


"Aku jadi guru sampai kau lulus saja, setelah itu aku akan jadi pengangguran. Supaya bisa ngintilin kemana kau pergi." Ujar Jovan enteng.


"Eh, tidak bisa begitu perguso. Biaya skin care adek mehong, biaya anak apalagi. Semua-semua butuh uang, uang sayang, uang." Sergah Joi tak terima.


"Hehehe, tabungan aku sudah banyak yang. Nganggur seumur hidup juga kebutuhan mu dan anak-anak kita nanti tak akan kekurangan." Jelas Jovan pamer.


"Idih, aku tidak mau tau ya, bapak harus kerja keras nyari duit yang banyak. mumpung usia masih produktif, bapak kan otw tua" balas Joi enteng.


"Cuma selisih 8 tahun yang, aku belum tua" ujar Jovan sewot.


"Biarin gih, jangan nakal ya, jangan ikut-ikutan mancing sama mandi di sungai lagi. Jauh-jauh dari yang namanya laki-laki, kecuali keluarga inti. Aku ini cemburuan, posesif dan galak. Tar temanmu aku kubur hidup-hidup kalau berani mengajak mu keluar rumah." Peringat Jovan setengah mengancam.


"Bapak ngeri banget sih, aku jadi nyesel udah kasih enak-enak kalau kaya gini." Omel Joi yang ditanggapi kekehan oleh Jovan.


"Kan sama-sama dapat enak yang, satu bulan lagi aku harap dapat kado disini. bulan depan kan ultah" ujar Jovan mengelus pelan perut Joi, membuat gadis itu kelabakan. Lalu menoleh kearah jendela.


"Ih, tar di liat gimana. Nanti dikiranya aku hamil lagi, udah sana pulang" Joi mendorong pelan Jovan ke arah mobil.


"Aku pulang ya, jangan nakal ingat. Aku punya banyak mata-mata di dalam rumah, love you yang" Jovan memutar kemudinya lalu mulai menjauhi rumah Joi.


Joi akhirnya merasa lega, dirinya ada janji untuk memancing di sungai dengan para sabitunya.


"Mau nyari apa Joi? pancingan? udah tidak ada, papa bawa ke sungai belakang, buat mancing di keramba." Ujar Jason menjelaskan, wajah Joi langsung menekuk.


"Itukan pancingan aku kak, gimana sih papa. Aku mau mancing sama Dodi, Bian sama Igor." Gerutu Joi kesal.


"No! tidak ada mancing-mancing lagi. Jovan udah pesan, kau tidak boleh keluar dengan teman laki-laki. Mending belajar masak yang benar', mau jadi istri kelakuan mu kaya laki-laki gini." Omel Jason geleng-geleng.


"Idih, siapa juga yang kau nikah. Serambangan aja kakak kalau ngomong" sanggah Joi mengelak.

__ADS_1


"Jovan noh yang bilang, dia mengakui semua perbuatannya nya pada papa semalam sehabis makan malam. Walau sempat kena bogem sama kak Kirel sama kak Jesen. Lumayan, buat bantu lambung mencerna makanan diperutnya." Kekeh Jason mengingat saat Jovan dengan suka rela menerima bogeman diperut nya. Akibat kejujuran nya telah meniduri adik tercinta mereka.


Mata Joi terbelalak, "Jadi Jovan ngomong nya apa aja kak? dasar tidak warasa!" umpat Joi kesal.


"Huss, tidak baik mengumpat calon suami. Jovan pria gentleman, jarang-jarang ada pria yang berani mengakui perbuatannya begitu. Dia malah berharap kalau kau hamil, agar punya alasan kuat untuk mengikat mu." Papar Jason enteng.


Joi tercengang, pantas saja Jovan begitu percaya diri kembali menabur benih nya, karena ada udang dibalik batu. Jovan pasti sedang kejar target agar dirinya hamil.


"Dasar Jovan sialan" maki Joi tanpa sadar, Jason sampai terjengkit kaget.


"Dek, mulut mu itu" omel Jason kesal, untung jantung nya sehat. Kalau tidak, alamat berakhir di peti mati.


"Aku kesal kak, dasar guru cabul"


"Cabul tapi suka, tadi pake acara elus-elus perut segala. Otw jadi teta lagi nih aku" sambung Jeslyn yang kebetulan melewati gudang membawa sebaskom jemuran. Walau ada art, anak-anak Daniel itu sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri. Kecuali bagian membersihkan rumah besar itu, mereka serahkan sepenuhnya pada art. Daniel dan Kira ingin anak-anak mandiri dan tidak asal memerintah art dengan seenaknya.


"Dasar tukang ngintip, tar bintitan baru tau rasa" balas Joi tak mau kalah.


"Joi! Pakaian mu itu di cuci dulu." Teriak Kira dari arah pintu dapur.


"Ya bu, ini lagi rapiin gudang" balas Joi tak kalah nyaring.


"Ilihh, rapiin konon. pasti nyari pancingan nya itu," cibir Jeslyn sambil menjemur pakaian.


Joi mendelik sebal "Dasar ibu rumah tangga, kerjaan kepooo aja kalau liat anak muda happy dikit." Setelah mengatakan itu, Joi berlari masuk. Alamat dilempar baskom kalau sudah marah itu ibu dokter.


"Jooiiii!" teriak Jeslyn kesal.


"Jemuran sudah, itu anak-anak ngajak main ke taman samping keluhan." tegur Jason yang sejak tadi memperhatikan perdebatan kakak dan adiknya.


"Astaga! aku sampai lupa, bantuin gih biar cepat kelar" cengir Jeslyn, membuat Jason menggerutu, namun tetap membantu sang kakak menjemur pakaian anak-anak di hastok bulat.


Begitu lah anak-anak Daniel dan Kira, dididik luar biasa, meski Joi yang akhirnya bablas. Bukan berarti akibat pergaulan bebas, hanya saja seorang pria dewasa yang kadung cinta mati pada gadis belia itu, hingga menghalau segala aturan yang ada. Cinta mengalah kan logika dan nalar, begitu lah yang terjadi pada Jovano.


Seorang CEO muda yang berakhir menjadi seorang guru untuk menjalani hukumannya. Akibat kelakuan nya yang doyan keluar masuk hotel dengan wanita berbeda-beda. Sang ayah mulai geram, dan mencabut semua kekuasaan Jovan diperusahaan serta pasilitas nya. Serta diancam akan dimutasi ke Afrika, mengurus cabang perusahaan mereka disana. Jovan menolak, dan memilih menjadi seorang guru sesuai pilihan yang diberikan oleh sang ibu.


Namun kini dia akan berterimakasih pada ibu dan ayahnya, hukuman nya malah mendatangkan banyak keuntungan. Dapat perawan tingting yang sangat dicintainya. Gadis muda yang membuat Jovan si Casanova, jadi bucin gila yang memang tergila-gila pada Joice Justin Wardhani.


**∆Jeslyn Daniel Drew, Jesen Daniel Drew, Jason Daniel Drew, Delia Justin Wardhani, Debya Justin Wardhani, Joice Justin Wardhani.


∆Nama Justin diselip kan pada nama Joice atas keinginan Daniel. Sebagai pengingat, jika pria baik hati itu, pernah begitu berjasa pada anak-anak dan istri nya dimasa lalu. Sama seperti ketiga anak kembarnya, yang memakai nama keluarga Justin, begitu juga kedua anak kembar Justin yang memakai nama keluarga Daniel.


∆Cerita ini hanya hasil karangan dan imajinasi othor, apapun yang tertuang didalam alurnya. Tidak untuk dicontoh, dan tidak juga menggambarkan kehidupan siapapun. Silahkan berkomentar apapun, othor tidak akan merasa marah. Setiap pembaca punya hak untuk berkomentar, tentang alur cerita yang menurut mereka kurang mendidik. Hanya saja, bijaklah membaca dan mencerna isi bacaan. Alur yang datar, akan dikatakan "ah, alurnya lempeng, gak bikin emosi tertantang" selalu ada saja pendapat berbeda-beda. Dan itu kembali lagi pada pembaca masing-masing.


∆Semoga cerita ini bisa menghibur, ambil sisi positifnya, ambil hikmahnya buang hal buruk nya, dan jadikan pembelajaran.

__ADS_1


∆Cerita Joice aku gak buat panjang lebar, makanya alurnya terkesan agak ngebut. Aku mau fokus ke novel ~Maaf, untuk lukamu~ dulu**.


__ADS_2