
Teringat 7 bulan yang lalu, Justin datang padanya dengan wajah kusut. Kemeja yang pria itu pakai sudah kumal tak berbentuk, rambutnya berantakan dan matanya terlihat bengkak, habis menangis.
Justin memohon padanya hingga bersimpuh di kakinya, membuat Bryan terkejut bukan main. Siapa pria gila yang datang padanya dengan tampilan putus asa.
Hingga wanita pujaan hatinya datang dan mengatakan, jika Justin adalah pria masa lalu yang pernah merusak sahabat nya. Namun kini, pria malang itu tengah menebus dosa-dosa nya dengan merawat Kira, adik kecilnya. Yang tengah terpuruk oleh pernikahan Daniel dan mantan istri Bryan, bahkan sidang terakhir belum di gelar.
Bryan akhirnya membantu Justin, meski diam-diam dia tidak mengakuisisi perusahaan milik Daniel. Namun hanya mengubah nama kepemilikan nya saja, menjadi nama Kira. Bukannya apa, dia merasa berhutang segala nya pada wanita malang itu. Karena mantan istrinya yang gila dengan segala obsesi nya, hidup Kira hancur berkeping-keping.
Dia tau jika perusahaan Daniel sedang berada di titik terendah, perusahaan itu hampir bangkrut. Maka dengan sengaja, Bryan menginvestasikan dana dalam jumlah fantastis. Mengingat Daniel sudah memberikan kan seorang bayi cantik, juga dia melakukan nya untuk Kira.
Dia ingin perusahaan Justin yang dia kelola, bisa setara bahkan melebihi perusahaan milik Daniel juga miliknya. Dia ingin Daniel menyesal hingga tak punya muka lagi, dihadapan wanita sebaik dan setulus Kira.
"Pasti menyenangkan bisa mendapatkan sekaligus 3 orang bayi, rumahmu pasti akan sangat ramai." Seloroh Bryan ikut senang.
"Kau benar, aku sudah merenovasi kamar Kira, agar lebih luas. Aku ingin bayi-bayi kami, tidak tidur terpisah. Menjadi orang tua adalah momen yang sangat berharga, aku ingin menikmati setiap fase pertumbuhan mereka, tanpa melewati satupun proses nya. Termasuk terbangun tengah malam, mengganti kan popok dan menghangatkan asi. Aku sungguh tidak sabar." Bryan menatap wajah penuh rona kebahagiaan di wajah Justin. Dia tau pria ini sangat tulus pada sahabat colon istri nya itu.
Untuk itu, Bryan tidak pernah ragu untuk membantu apapun yang dibutuhkan oleh Justin dan Kira selama tinggal di pulau. Bukan tanpa alasan, Bryan membeli private jet. Yang kini menjadi ajang pamer oleh kekasih nya, walau dia tau, Lumina dan Kira memang suka saling meledek dan ketus satu sama lain. Namun keduanya saling menyayangi tanpa bisa terpisahkan.
"Anak-anak mu akan sangat beruntung, bisa menikmati air kehidupan itu. Kau harus bersyukur, bisa menikahi wanita luar biasa seperti Kira. Sayangi dan hargai dia seperti kau menyayangi dirimu sendiri, dan bagaimana kau ingin di hargai oleh orang lain. Penyesalan tidak akan pernah bisa menghapus rasa bersalah, dan kata maaf tidak bisa membuat kesalahan mu di lupakan. Meski untuk waktu yang lama." Nasihat Bryan pada pria yang tiga hari lagi, akan menjadi seorang suami dan calon ayah tersebut.
Berkaca dari pengalaman pernikahanya yang tak berjalan mulus, Bryan ingin Justin menghargai apa yang dia miliki.
"Kau benar. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan, kini hidup ku sudah sempurna. Kira dan anak-anak kami, adalah hadiah terindah yang Tuhan kirim untuk diriku yang penuh dosa ini. Aku tidak tau, kebaikan mana yang pernah ku lakukan dimasa lalu, hingga aku bisa seberuntung ini sekarang. Namun disetiap bait doaku, aku tidak pernah lupa melafalkan banyak kalimat syukur. Atas berkahnya yang tak terhingga ini." Justin berujar panjang dengan mata berkaca-kaca.
Sesekali pria itu menghapus sudut matanya yang berembun. Dia sedang sangat bahagia akan hidup nya, kemurahan Tuhan padanya sungguh luar biasa hebat. Di sela-sela doanya, dia berharap dapat menyaksikan anak-anak nya tumbuh dengan baik dan sehat. Serta tak kekurangan satu apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lihatlah para pria ini, pasti mereka sedang membicarakan para calon istri mereka yang cantik paripurna ini. Benarkan sayang?" Lumina dan Kira datang dengan beberapa cemilan dan dua gelas minuman.
Seperti biasa, Lumina sangat pandai merusak suasana.
__ADS_1
"Ck! Cantik juga calon istri ku, sini sayang, duduklah. Jangan terlalu lama berdiri, kalau dia biarkan saja, perutnya kan kerempeng, tidak berat seperti mu." Ujar Justin lembut, setelah baru saja pria itu berbicara, yang membuat mulut pedas Lumina komat kamit tak jelas.
Andai saja dia tidak sedang menggendong Ryana, pasti akan dia balas perkataan laknat calon suami sahabat nya itu.
"Sayang duduklah, kau pasti lelah menggendong Ryana. Sayang, sini sama daddy, mommy mu pasti cape menggendong mu." Bryan tak kalah lembut dan perhatian memperlakukan Lumina, membuat wanita itu merasa di awang-awang.
Justin mencebik, melihat Lumina menatapnya penuh kemenangan.
"Bagaimana persiapan nya, apa mereka itu sedang bertengkar atau bagaimana?" Tanya Bryan mengalihkan perseteruan kedua insan itu, sambil menunjuk kearah orang-orang yang terlihat berdebat tidak jauh dari arah mereka.
"Mereka sedang berdebat soal dekorasi, biarkan saja, itu sudah tugas mereka. Kita tinggal tau beres nya saja," ujar Lumina acuh.
"Oya, kue pengantin nya akan aku bawa pagi di hari H nya saja. Aku khawatir Justin menghabiskan nya jika aku bawa lebih awal." Ujar Lumina kembali mencari perkara.
"Enak saja, aku tidak serasuk itu. Memangnya siapa yang suka asal comot makanan orang lain," timpal Justin tak terima, lalu melirik pada tangan Lumina yang sedang mengambil kue milik Kira.
Lumina terkekeh cengengesan, lalu melahap potongan cake vanilla kesukaan nya itu hingga mulutnya penuh. Bryan hanya menggeleng kepala melihat tingkah kekasihnya, namun itu yang dia sukai. Lumina bukan tipe wanita yang jaim, jika dia lapar, makan dia akan makan seperti orang kelaparan. Itulah yang membuat cintanya semakin besar pada Lumina, bahkan lebih besar dari rasanya pada Tiara. Mantan istri sakit jiwa nya dulu.
"Tidak ada, kami tidak mengundang banyak orang. Terimakasih." Potong Kira cepat. Dia tau Justin akan mengatakan sesuatu.
Justin hanya bisa menghela nafas pasrah. Apapun asal wanita itu bahagia, dia cukup menurut saja.
"Baiklah, kebetulan sudah sore. Temanku bertanya, kami akan menginap di mana besok malam" tanya nya lagi dengan wajah tak enak.
"Yang jelas tidak disini, kami sudah menyewakan penginapan yang ada di perkampungan. Hanya perlu berkendara 30± menit dari sini," jawab Lumina cepat. Matanya menatap tajam, pada wanita yang terlihat menyibukkan diri dengan binder di tangannya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Oya, sementara menunggu kita kembali, apa kami boleh bermain di pantai?"
"Silahkan, pantai nya boleh di pakai asal tidak di bawa pulang saja." Seloroh Kira tersenyum ramah. Dia tidak ingin mulut pedas sahabat nya, kembali mengeluarkan kata-kata nyelekit.
Pria itu mengangguk sopan lalu permisi.
__ADS_1
Wajah Justin berubah muram, pria itu terserang wabah cemburu buta.
"Kenapa wajahmu mendung, padahal hari masih cerah begini" tanya Lumina kura-kura dalam perahu pura-pura tidak tahu.
"Aku gerah melihat mu, bisakah kau berhenti makan. Aku kasihan pada makanan yang kau makan, mereka pasti tersiksa di cerna oleh lambung kurusmu." Suara Justin tiba-tiba ketus membuat Kira mengernyit heran.
"Halahh.. bilang saja kau sedang cemburu buta, melihat senyum manis sahabat ku pada pria tadi. Ck! ternyata kau takut pesona mu yang pas-pasan terkalahkan," ejek Lumina puas.
Justin salah tingkah, "mana ada seperti itu. Kau ini suka sekali mengada-ada," elak Justin melirik Kira melalui ekor matanya.
"Apa kau cemburu pada ku?" tanya Kira dengan wajah datar, membuat Justin semakin gelisah dikursi nya.
"Tidak, sayang. Lumina selalu berbicara sembarangan, jangan dengar kan dia." Lagi-lagi Justin mengelak.
Wajah datar Kira berubah muram, Justin jadi di buat bingung sendiri.
"Maaf," hanya kata itu yang dia rasa paling tepat sekarang, entah apa salahnya.
"Padahal aku berharap kalau kau tadi benar-benar cemburu," ujar Kira dengan suara rendah, Sambil mengaduk-aduk minumannya.
Justin terkesiap mendengar penuturan Kira, hatinya bersorak senang.
"Ya, aku cemburu. Jangan tersenyum terlalu manis pada pria lain, aku tidak suka." Akhirnya pria itu bisa berkata dengan jujur dan merasa lega. Justin menatap Kira dengan perasaan yang membuncah.
"khemmm..!" Deheman Bryan membuat Justin segera menegakkan duduknya kembali ke mode cool.
"Ingat, dua dua hari lagi. Ayo sayang, kita temani putri cantik kita tidur." Ajak Lumina pada Bryan, keduanya masuk ke dalam meninggalkan kedua calon manten tersebut.
Justin berpindah disamping Kira lalu mengambil tangan Kira dan menciumnya. "Aku cemburu kalau kau terlalu ramah pada pria lain, sayang." Justin menatap Kira dengan wajah sendu.
"Terimakasih, karena sudah mencintai ku sedalam ini, tidak peduli apa yang sudah kau tinggalkan untuk bisa bersama ku. Aku menghargai nya, sangat. Jangan meragukan ku, bohong jika selama kita tinggal bersama, perasaan ku tak tersentuh. Nyatanya, aku pun menyukai apa yang kau lakukan. Aku juga menyukai mu, mungkin masih sebatas itu. Tapi aku harap, hatiku bisa menerima mu sepenuh nya."
__ADS_1
Ungkapan hati Kira membuat air mata Justin bagaikan anak sungai. Pria itu menangis haru, memeluk kira dalam dekapan nya dengan perasaan membuncah bahagia.