Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LIX


__ADS_3

Disebuah villa, diruang bawah tanah, terlihat seorang pria tua sedang duduk di kursinya, menyaksikan bagaimana orang-orang nya, menyiksa seorang pria paruh baya yang tampak sangat kurus. Hanya kulit yang membaluti tulangnya, tubuhnya di penuhi dengan bekas luka dan juga luka baru, yang baru saja orang-orang jahat itu lakukan padanya.


"Katakanlah, Ramdhan. Maka akan segera ku akhiri penderitan mu ini." Ucap pria tua itu.


"Bahkan sampai maut menjemput ku, aku tidak akan mengatakan apapun pada anda, tuan Prayoga!" Ucap Ramdhan dengan suara bergetar, tubuhnya sudah terlalu lelah, selama belasan tahun hidupnya hanya penuh dengan siksaan-siksaan keji, dari orang-orang suruhan tuan Prayoga.


"Ternyata kamu masih se angkuh kemarin, baiklah." Tuan prayoga menghela napas kasar. "Bungkam lah selama yang kau inginkan. Kita lihat, masih berapa lama hidup yang kau punya, untuk menyaksikan putrimu kuserah kan pada mereka, untuk dinikmati beramai-ramai." Tidak ada gunanya terus memaksa Ramdhan, meski nyawanya sudah hampir lepas dari raganya sekalipun. Pria paruh baya itu tidak akan mau mengatakan, dimana keberadaan Adnan dan putrinya.


"Jangan berani anda menyentuh putriku, tuan Prayoga!" Seru Ramdhan di sisa-sisa tenaganya, mendengar putri nya disebut oleh pria tua itu, membuat emosinya terpancing, melampaui rasa sakit dan lelah pada tubuhnya yang rikuh.


"Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh ringkih mu ini, Adnan bersenang-senang dengan istrimu diluar sana, mengambil peranmu sebagai seorang ayah bagi anakmu dan menjalani hidup dengan baik dan bahagia. Tanpa peduli, pada nasib malang yang kau alami, karena berusaha untuk melindungi nya."


"Ckckck, aku kasihan sekali padamu. Katakan, Ramdhan. Dimana Adnan sekarang, maka putrimu akan ku pastikan aman. Dan jangan lupa, semua bukti yang berhubungan dengan kematian beberapa orang penting itu, serahkan padaku. Maka putrimu tidak akan ku sentuh." Tuan Prayoga masih berusaha membujuk, sekaligus memprovokasi Mental Ramdhan.


"Tuan Adnan tidak akan melakukan hal serendah itu, aku percaya padanya, jadi sia-sia saja anda berniat memprovokasi ku." Ramdhan masih kukuh pada pendiriannya, tidak ada jalan keselamatan jika sudah berada di tangan tuan Prayoga. Dia hanya menunggu, kapan Tuhan akan mengangkat jiwa dari tubuh rikuh nya. Sembari terus berdoa, agar anak, istri dan tuan nya selamat dan baik-baik saja diluar sana.


"Kau sungguh keras kepala, Ramdhan." Tuan Prayoga pergi meninggalkan ruangan, yang penuh dengan aroma amis darah dan juga aroma tidak sedap lainnya.


Seorang pria bertato menghampiri tuannya. "Tuan, kami menemukan keberadaan putrinya, Ramdhan. Gadis itu menikah dengan seorang pengusaha properti, bernama Angga Farhaz Agam. Nama gadis itu, Sarah Sudibyo." Pria tua itu menarik sudut bibirnya, berita ini sungguh membuatnya bahagia.


Pantas saja selama ini, orang-orang suruhannya tidak pernah berhasil menemukan anak perempuan itu, ternyata nama belakangnya telah di ubah. Dia merasa konyol, telah dipermainkan oleh mantan menantunya itu. Selama ini dia sibuk mencari anak gadis yang bernama, Sarah Herlambang. Dan tidak menemukan nya dimana pun.


"Baik, katakan pada orang-orang mu, aku akan segera mentransfer kan uangnya pada mereka." Ucap pria meninggalkan villa tersebut, namun sebelum mencapai pintu tuan Prayoga berbalik. "Toto, katakan pada orang-orang suruhan mu, tugaskan dua orang untuk mengawasi cucuku, Reegan. Kabari apapun yang dia lakukan, dan dengan siapa saja dia bertemu." Pria tua itu berbalik kembali dan benar-benar meninggalkan tempat itu.


Villa tuan Prayoga berada disebuah pedesaan yang cukup jauh dari kota, dia sengaja membangunnya untuk dijadikan markas. Selain menjadi seorang pengusaha sukses, tuan Prayoga juga menjalankan bisnis bawah tanah, yang tidak diketahui oleh khalayak dan juga keluarganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sarah sedang bersiap-siap pulang, tadi Nabila sudah mengabarinya, dia akan menjemput Sarah satu jam lagi.


"Yakin nggak mau tungguin aku sampe pulang, kerjaan aku tinggal dikit lagi loh padahal." Reegan duduk disamping Sarah yang sedang memoles wajahnya, setelah dua kali mengulang kegiatan panas mereka tadi, Sarah tertidur hingga hampir 2 jam. Saat bangun Reegan sudah tidak ada di sampingnya.


"Yakin, kerjaan kamu malah nggak selesai-selesai kalo aku masih di sini. Nanti kamu minta nambah lagi, aku nya udah cape, lutut aku sampe lemes gini nih." Omel wanita itu masih kesal, pasalnya Pria itu tidak ada lelah-lelahnya menggempur dirinya.


Reegan terbahak, saat mengingat kekasihnya itu memintanya menyudahi kegiatan penuh gelora mereka. Dia hanya memberi jeda sebentar pada Sarah, kemudian melanjutkan kembali ronde berikutnya.


"Abis, siapa suruh kamu nya nikmat gitu. Gurih, legit-legit gimana gitu. Akunya kan jadi ketagihan, salah kamu itu." Ujar pria itu terkekeh.


"Ck, bilang aja kamu suka, kan. Pake nyalahin aku segala." Sungut Sarah pada kekasihnya.


"Suka, suka banget malah. Jadi nggak sabar tunggu kamu ketok palu, biar aku bisa tiap hari kasih kamu enak. Nggak apa-apa deh cape, demi kamu loh, apa sih yang nggak aku lakuin." Ucap Reegan lagi kembali terbahak, melihat ekspresi cibiran dari sang kekasih.


"Demi aku, konon." Cibir Sarah pada Reegan.


"Sarah ku yang malang, kamu nggak apa-apa kan?" .. Nabila memutar tubuh sahabatnya, sampai membuat Sarah merasakan pusing dikepalanya. "Aku kepikiran kamu terus tadi. Takut kamu di apa-apain sama buaya rawa ini." Sarkas Nabila melirik tajam pada Reegan.


"Ck, terserah akulah. Minggir." Reegan menggeser tubuh Nabila dari kekasihnya itu. "Kamu pusing sayang? Sampe pucat gini. Ke dokter ya, aku antar?".. Reegan menatap cemas pada kekasihnya.


"Eh, nggak. Aku cuma pusing dikit, abis diputar-putar kaya gasing barusan." Kelakar Sarah untuk menghibur kekasihnya itu. Meski sebenarnya, dia merasakan pusing yang lumayan hebat di kepalanya, mungkin karna terlalu kelelahan akibat aktivitas mereka tadi pikirnya.


"Maaf, ya Sarah soyongkuh. Aku cuma khawatir tadi, udah nggak apa-apa kan? Kita balik sekarang yuk, udah sore. Nanti aku di warning sama ayah, bawa anak jandanya pulang kesorean." Ujar Nabila terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Enak aja janda, aku masih hidup." Ucap Reegan tak terima.


"Hidup memang, tapi sayangnya, situ bukan suaminya." Nabila menjulur kan lidahnya pada Reegan, membuat pria itu ingin sekali melempar Nabila, dari lantai 30 ruangannya.

__ADS_1


"Ck, ribut mulu. Ayo pulang, Ree aku pulang dulu ya." Pamit Sarah pada kekasihnya itu.


"Nggak usah pamit-pamit segala, kaya mau pergi sekolah aja." Cibir Nabila pada sahabatnya itu.


"Iri lo, nggak pernah di pamitin sama Revan, kasian." Ucap Reegan dengan senyum mengejek. "Sini sayang, peluk dulu, kasih aku vitamin. Tadi udah abis kamu kuras, sampe air nya juga abis semua aku tumpahin ke perut kamu." Ucap pria itu frontal, membuat Sarah menghadiahi perut Reegan dengan cubitan mautnya.


Wajah Sarah sudah memerah menahan malu, lalu melirik Nabila sekilas, sabita nya itu melengos kura-kura dalam sangkar pura-pura tidak dengar.


"Kamu itu, udah ah, aku mau pulang dulu." Sarah melerai pelukan kekasihnya, lalu mengambil tasnya di sofa.


"Aku antar sampe depan, ayo." Reegan menggandeng tangan Sarah, melewati Nabila begitu saja. Membuat gadis itu menggerutu tidak jelas.


"Hati-hati ya, jaga mata, jangan lirik-lirik cowok lain, fokus ke aku aja, sama kecambah kita di dalam sini." Ucap Reegan seraya mengelus perut kekasihnya itu dengan sayang.


"Iiyyuuhhh, Si muka datar mau coba ngeromantis, nggak cocok banget. Para kecambah lo juga bakal pada sawan, punya bapak mukanya kaya kanebo kaku." Membuat Reegan menatap tajam wanita rese itu.


"Udah ah, yuk Bil. Aku pulang ya, kamu ati-ati nanti pulangnya. Mbak, makasih ya, titip Reegan, di ingatin kalau udah jam pulang. Saya permisi dulu." Ucap Sarah tersenyum ramah pada sekretaris kekasihnya itu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju elevator, yang tak jauh dari ruangan Reegan.


"Yang gini nih baru cocok jadi calon istri bos, dukung mah aku." Gumam Nindy pelan, namum masih terdengar jelas oleh telinga Reegan.


"Nindy!" Seru Reegan pada sekretaris nya yang masih menatap elevator yang sudah tertutup rapat itu.


"Iya, pak. Gimana, gimana?" Jawab wanita itu gelabakan.


"Nanti minta bonus kamu sama Abdi." Ucap Reegan berlalu dari hadapan Nindy, sebelum menutup pintunya Reegan kembali berkata. "Dia memang yang paling cocok untuk menjadi istri saya, kamu tandai wajahnya baik-baik, Nindy. Hanya dia yang boleh bebas masuk keruangan saya." Setelah berkata begitu Reegan kembali menutup rapat pintu ruangan nya.


Nindy masih melongo, namun detik berikutnya dia jingkrak jingkrak kesenangan, lalu merogoh ponselnya.

__ADS_1


"Halo Asisten Abdi, tadi tuan Reegan menyuruh saya meminta bonus pada anda, tidak banyak hanya.... hanya... Mungkin 20 eh kebanyakan. 10Juta saja, tapi kalau anda ingin menambahnya saya tidak keberatan." lalu Nindy mematikan ponsel, kemudian kembali bekerja dengan hati senang riang gembira. Tidak masalah jika harus lembur, membayangkan 10juta otw ke rekening nya, membuat semangat Nindy begitu membara.


__ADS_2