
Selama perjalanan, Lumina berusaha terus membuat senyum di bibir Kira terukir indah hingga ke rumah.
Dia tau Daniel sedang di rawat di rumah sakit akibat demam tinggi. Rupanya pukulan Dean berbuntut panjang, adiknya mengalami luka dalam di bagian perut cukup serius.
Meski terbersit penyesalan di hati Dean, namun dia merasa Daniel pantas menerima nya. Mungkin rasa sakit akan mengajar kan adiknya kata 'Jera' yang sesungguhnya.
Dia ingat bagaimana dulu Daniel memutuskan Kira hanya karena sebuah hasutan, itu menjelaskan, jika adiknya, tidak pernah benar-benar dewasa. Dan kini, demi seorang anak, Daniel melakukan kesalahan yang sama. Menyakiti hati Kira berkali-kali.
Bintang dan para sahabatnya, terlihat duduk diluar ruangan dimana Daniel di tangani. Mereka syok dengan apa yang Daniel alami, meski hati mereka kecewa pada Daniel. Namun melihat kondisi pria itu yang sedang kritis, hati mereka terenyuh sedih dan tak tega.
Dean berkali kali mengusap wajah nya kasar, Dewi tau seberapa besar penyesalan di hati suaminya. Namun juga tak bisa membiarkan Daniel begitu saja. Posisi Dean menjadi serba salah, namun tak satupun keluarga yang menyalahkan nya. Doni pun demikian, pria itu baru sampai subuh tadi dari Swiss. Langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kan kabar dari art nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kira dan Lumina tidak langsung pulang, keduanya mengunjungi pusat perbelanjaan. Ponselnya keduanya pun di matikan.
"Mina? apa ini cocok untuk ku?" tanya Kira mematut sebuah dress di tubuh nya.
Lumina menelisik penampakan dress bermotif bunga-bunga itu dengan wajah serius.
Kira memutar bola matanya malas, "aku hanya bertanya pendapat mu, kenapa menatap ku seolah aku sedang mengikuti sebuah kontes peragaan busana."
Lumina terkekeh pelan, "aku rasa kau akan terlihat seperti anak SMA dengan dress itu." Ujar Lumina jujur, sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku mau yang ini saja, bayarkan untuk ku. Pakai uangmu saja," titah Kira memeluk dress pilihan lalu kembali memilih beberapa dress lain.
Lumina berdecih kesal, "aku jadi menyesal memujimu tadi," kemudian mengeluarkan kartu saktinya.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kau beli, pilihlah cepat. Aku bisa bangkrut kalau lama-lama disini," gerutu Lumina menekuk wajahnya.
"Aku ambil yang ini, boleh?" Kira bertanya sambil menunjuk Dress yang ada di patung manekin di samping nya. "Harganya hanya......2,7jt, tidak mahal bukan?" Kira menunjukkan wajah imutnya, yang sama sekali tidak imut menurut Lumina yang terlanjur dongkol.
"Ya sudah, ayo kita segera pergi dari sini. Atau toko ini akan aku bakar habis," omel Lumina meraih kedua gaun dari tangan Kira, lalu menuju kasir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiara mondar-mandir dalam ruangan putrinya, sejak semalam Daniel tidak bisa di hubungi. Dia takut jika pria itu benar-benar menyerah untuk merawat, Misha.
"Ayolah Daniel, aktif kan ponsel mu
.." gumam Tiara berkali-kali mencoba mendial ulang nomor Daniel.
Klek
Wajah Tiara langsung cerah, dia pikir Daniel lah yang datang. Namun senyum cerahnya perlahan memudar, saat melihat siapa yang datang.
Dengan langkah elegan, Kira menghampiri boks bayi. Matanya berembun, saat melihat makhluk kecil tak berdosa sedang terlelap. Wajahnya, duplikat Daniel versi wanita. Bisa di bayangkan bagaimana perasaan nya saat ini. Tentu saja luka itu semakin menganga.
"Putrimu cantik," puji Kira menahan sesak di dadanya.
"Ya, dia sangat mirip seperti daddy nya." Balas Tiara bangga. "Daniel sangat menyayangi nya bahkan sejak di dalam kandungan. Hampir setiap hari, Daniel mengunjungi ku hanya untuk mengelusnya didalam perut ku." Ujar Tiara sengaja. Sudah saat nya dia mempertahan Daniel di sisinya bagaimana pun caranya.
Putrinya lebih berhak untuk mendapatkan Daniel seutuhnya, hubungan darah lebih kental dari air. Begitu lah pikirnya.
"Pantas saja dia sangat mengkloning wajah suamiku, ternyata hubungan nya dengan ayahnya sudah sedekat itu. Wajar saja, Misha adalah putri kandungnya. Mau dia terlahir dari seorang j*al*ang sekalipun, anak tetaplah anak. Bukan begitu, Tiara?" Kira berbalik menatap Tiara yang terlihat pias mendengar kalimat menohok tersebut.
__ADS_1
"Aku bukan ja*l*ang!" seru Tiara tak terima.
"Tentu saja. Aku yakin itu, untuk itu aku ingin berterimakasih padamu. Karena sudah mau mengandung putriku dan suamiku, aku akan mengambil nya nanti, saat kau sudah siap menyerahkan nya secara suka rela padaku." Kira masih terlihat tenang, tidak sedikit pun menunjukkan emosi apapun.
Dengan tubuh bergetar Tiara berteriak pada Kira, "putriku tidak akan aku serahkan padamu! Daniel akan menjadi milikku juga anakku, kau yang harus suka rela melepaskan Daniel untuk kami. Akulah yang bisa memberikan kebahagiaan sempurna untuk Daniel, lihatlah. Daniel bahkan rela berbohong padamu, hanya agar bisa menemani ku di masa-masa kehamilan ku. Hampir setiap hari, Daniel menghabiskan separuh waktunya, untuk memastikan aku baik-baik saja. Apa kau pernah dengar sebuah istilah, cinta ada karena terbiasa."
Kata-kata Tiara membuat kuping Lumina panas, mulut juga tangannya sudah gatal ingin memberikan wanita itu sedikit tamparan.
"Apa kau tidak merasa jika suami mu mulai berubah, pulang larut malam hampir setiap hari sejak beberapa bulan terakhir ini. Ah ya, apa hubungan ranjangmu masih seindah pengantin baru. Terimakasih sudah berbagi kehangatan suami mu padaku, dokter menyarankan hubungan intim untuk memperlancar persalinan. Daniel ternyata sangat perkasa di tempat tidur, aku sering kewalahan melayaninya hingga berkali-kali." Kalimat panjang Tiara dihadiahi elusan panas dipipinya, Lumina benar-benar berada di puncak emosi yang mulai tak terkendali.
Sementara Kira masih bertahan dalam sikap tenang dan diamnya. Dapat dia lihat bercak darah di sudut bibir Tiara, namun Kira masih bergeming.
"Siapa kau, berani nya kau menampar ku!" Tiara kembali berteriak, pipinya terasa panas, ujung bibir nya perih, telinga nya bahkan sedikit berdengun.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa, jadi berhati-hatilah padaku nona. Bahkan menyebut namamu saja, aku jijik." Jawab Lumina sadis.
"Kau bisa menolak kenyataan, nyatanya Daniel menikmati tubuhku dengan begitu bernafsu. Bahkan berkali-kali menggagahi ku di setiap kesempatan, apa itu kurang menjelaskan, jika Daniel sudah jatuh cinta padaku." Tiara membeberkan argumen nya dengan suara lantang.
Dibalik pintu kamar ruangan itu, ada berapa hati yang terluka mendengar pengakuan Tiara. Niat hati ingin berbicara baik-baik pada wanita yang melahirkan anak Daniel tersebut. Ada rasa iba saat tau jika Tiara hanya anak yatim-piatu. Namun kini rasa iba itu lenyap tak bersisa. Wanita seperti itu, tidak layak di kasihani.
"Kau benar, wanita hamil memang menggairahkan. Entah karena nafsu atau perasaan suka, namun laki-laki dapat melakukan nya hanya dengan menggunakan naluri." Ujar Kira dengan suara datar, tanpa ekspresi apapun.
"Aku kasihan padamu, pasti kau sangat kewalahan menghadapi nafsu liar suamiku. Syukur nya putrimu baik-baik saja. Kau wanita sempurna, menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita. Sayangnya, tidak semua wanita seberuntung dirimu." Kira menatap nanar wanita yang meracuni pikiran nya sejak tadi.
"Andai ada yang bisa ku lakukan, akan aku lakukan untuk mu. Termasuk memberikan suami ku secara suka rela padamu. Sayangnya, Daniel begitu mencintai ku, pria bodoh itu bahkan rela menukar nyawanya, agar bisa kembali padaku. Dia sedang kritis sekarang, untuk menebus segala dosanya padaku. Aku harap dia segera terbangun, agar aku bisa menyerahkan sampah itu padamu. Aku lelah mendaur ulang barang bekas, sampah akan selamanya menjadi sampah. Tidak peduli bagaimana dia di permak sedemikian rupa." Lanjut Kira dengan senyum mengejek.
Deg!
__ADS_1
Jantung Tiara berdetak tak karuan mendengar ayah dari putri nya sedang sekarat, lalu apa kabar dengan nya dan Misha. Jika pria itu sampai kenapa-kenapa.
"Dimana Daniel sekarang, apa yang kau lakukan padanya, hah! dasar ja*la*ng mandul!" Teriak Tiara hampir menampar wajah Kira. Namun tangannya terhenti di udara, semua mata tertuju pada orang yang sudah menghentikan aksi Tiara tersebut.