
"Maksud kamu apa apaan, pake mau jabat tangan dokter sialan itu?".. Kini mereka berdua sedang berada di dalam mobil Angga, tadi Sarah di paksa ikut oleh suami nya.
"Udah deh, mas. Bisa nggak kita nggak bahas masalah itu terus. Kepala aku sudah pusing mikirin ayah, sekarang mas lagi yang berulah."
"Loh? Kamu kok jadi nyalahin aku gitu? Kamu nggak dengar dia ngomong apa tadi, heran aja kok ada rumah sakit mau nerima dokter gadungan seperti itu." Ucap Angga membela diri.
"Asal mas tau, dia itu dokter jantung terbaik yang ada di rumah sakit itu. Dan dia juga, dokter yang akan menangani prosedur pasang ring ayah." Ucap Sarah lagi.
"Pasang apa kamu bilang? Kamu tau, itu berapa biaya nya? Jangan ngawur kamu! Aku udah pernah bilang, apa yang berhubungan dengan ayah kamu, itu bukan urusan dan tanggung jawab aku." Seru Angga tidak terima, jika biaya pengobatan ayah mertua nya, dia yang harus menanggung.
"Kamu tenang aja, mas. Biaya pengobatan ayah, sudah di cover oleh BPJS." Ucap Sarah menahan perih di hati nya, tega sekali suami nya berkata se lantang itu tentang ayah nya.
"Bagus lah, jangan sampai kamu mohon mohon lagi sama aku, soal apa pun yang berhubungan dengan ayah mu. Aku bukan bank, kamu saja tidak bisa memberi ku keturunan. Masih untung kamu tidak aku cerai kan." Ucap Angga tanpa perasaan.
"Stop di depan, pak." Ucap Sarah pada pak Mamat, sopir pribadi suami nya, sambil menunjuk ke arah sebuah toko roti di depan mereka. Dia sudah tidak tahan lagi, berada dalam satu ruang yang sama, dengan suami nya yang tidak punya hati nurani itu.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain, turun di sini? Biar orang ngeliat kamu kasian gitu, di turunin di pinggir jalan kaya gini. Udah pak, turunin aja, saya ada urusan yang jauh lebih penting di kantor selain ngurusin dia. Angga berbicara pada sopir nya, seolah orang yang dia bicarakan tidak ada di samping nya.
Sarah keluar dari mobil suami nya, lalu menutup pintu mobil dengan keras, Kemudian berjalan menuju toko roti.
Kringg...
Lonceng pintu toko roti itu berbunyi, dan seorang pegawai toko datang menghampiri Sarah, yang kini sedang berdiri di etalase. Sarah memesan beberapa buah roti dan cake untuk ayah nya, Sarah tau ayah nya sangat suka makanan manis.
"Ada tambahan lain, mbak?".. Tanya pegawai toko itu ramah.
"Udah, mbak Itu aja. Eh, ini cake apa, mbak?".. tunjuk Sarah, ke arah cake yang kelihatan nya sangat enak itu.
"Iya, yang itu." Ucap Sarah lagi.
"Yang Ini blueberry cheese cake kalau yang di sebelelah nya ini moka cake." Jelas pegawai itu dengan sabar, menjelas kan cake yang di maksud oleh Sarah.
__ADS_1
"Owh, oke. Aku mau dua dua nya, masing masing 4 slice ya. mbak."
"Baik, mbak. Silahkan di tunggu di kasir" Ucap pegawai itu ramah.
Kringg...
"Loh, Sarah. Akhir nya, tante ketemu lagi sama kamu, kemarin waktu kita ketemu di sini, tante malah lupa minta nomor ponsel kamu. Kamu apa kabar, nak?".. Ucap bu Maya, dengan mata berbinar dan wajah nya terlihat sangat bahagia. Begitu pun dengan Sarah, dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan bu Maya. Wanita paruh baya itu, mengingat kan nya pada sang ibu.
"Baik, tan. Tante juga, gimana kabar nya?".. Sarah ingat. Terakhir kali pertemuan mereka, wanita paruh baya itu bercerita tentang penyakit gula darah yang di derita nya.
"Seperti yang kamu liat, tante semakin tua saja setiap hari." Ucap nya terkekeh pelan.
"Kamu buru-buru nggak, Sar?.. Temani tante belanja yuk, mau ya?".. Ucap nya lagi dengan wajah penuh permohonan.
Sarah jadi tidak enak untuk menolak nya, melihat bu Maya membuat Sarah jadi merindukan ibu nya yang telah lama tiada.
__ADS_1
"Tapi Sarah nggak bisa lama, tan. Gimana?".. Ucap Sarah tak enak.
"Iya udah, nggak apa apa deh. Asal kamu bisa temani tante, yuk." Ucap bu Maya bersemangat.