
"Kok sepi sih!" gerutu Joi saat kakinya melangkah masuk ke restoran yang dijanjikan oleh sang kakak. Joi menoleh ke kiri-kanan untuk mencari letak meja yang sekiranya menunjukkan keberadaan sang kakak yang katanya sudah di tempat, namun nihil. Semua meja tidak berpenghuni, hanya beberapa ada piring, sendok dan gelas yang tertata rapi di atas meja-meja tersebut. Apakah restoran itu sedang di booking oleh seseorang, sehingga sang kakak terpaksa pindah tanpa sempat memberitahu kan padanya.
Joi meraih ponselnya dalam tas, lalu menekan nomor sang kakak. Dan nihil, Delia tidak menjawabnya meski tersambung. Apakah kakaknya sedang dijalan menuju restoran baru, pikir nya mencoba menebak.
"Permisi mbak? mbak Joice ya?" seorang waitress menghampiri Joi yang terlihat kebingungan.
"Heh? ya mba? aku ada janji sama kakak ku di sini, tadi dia bilang sudah di tempat. Artinya tadi kakakku sudah ke sini, tapi sekarang tidak ada. Apakah tadi ada wanita menitipkan pesan atau apa gitu?" Joi Kembali mengedarkan pandangannya keseluruh sudut restoran. Seperti nya memang ada acara di tempat ini, di lihat dari setiap meja yang sudah di tata sedemikian rupa.
"Oh? mbak Delia ya?" tanya waitress tersebut tersenyum ramah.
"Ya, benar." Joi menjawab cepat pertanyaan tersebut agar segera pergi dari sana, sungguh memalukan pikir nya. berada ditengah-tengah pesta orang lain.
"Tadi mbak Delia nya berpesan, jika ada adiknya datang kemari, dipersilahkan untuk...." Bleppp
"Heiii! ini lampu nya kenapa padam gini sih! restoran sekelas bintang 5 tapi lupa bayar listrik? oh my God! Accounting nya pasti korupsi, ini. pasti!" Joi menggebu-gebu, pasalnya dia sangat paranoid terhadap gelap.
__ADS_1
"Mbak? mbak? kok diem, mbak tolong dong, listrik nya di bayar dulu. Saya takut gelap ini, becanda nya tidak lucu!" Joi mulai kehilangan image nya, masa bodoh pikir nya, apalagi mengingat kondisi restoran yang tadi sepi, dan hanya ada satu orang kasir dan seorang waitress yang kini entah kemana.
Klik, suara tombol on lampu dan suasana jadi terang benderang, Joi masih dalam mode syok. Apalagi terlihat semua anggota keluarga nya berada di sana. Suaminya yang seharian tidak ada kabar, lalu anak-anak yang bersikap acuh padanya hari ini. Sungguh Joi ingin berteriak histeris karena terlalu bahagia.
"Happy birthday, mimi!" seru ke sembilan anak-anak Joi seraya berebut saling mendahului siapa yang lebih dulu mencapai sang ibu.
Joi hampir limbung saat mendapati serangan pelukan dari anak-anaknya. Air matanya luruh tak terbendung lagi, mulut nya kelu. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan, betapa bahagia dan sempurna nya kehidupan seorang Joice Justin Wardhani. Menikah di usia dini dan memiliki 9 orang anak, bukanlah impian nya. Terpikir pun tidak, namun takdir Tuhan yang sungguh luar biasa, membawa Joi berdiri pada puncak kebahagiaan nya yang tiada tara.
"Terimakasih!" hanya kata-kata itu yang bisa dia ucapkan. Kata sederhana yang mewakili segala rasa, kata sederhana yang memiliki banyak makna dan kata sederhana yang mampu mengubah persepsi dunia. Dunia kecil Joi berpusat pada kehidupan anak-anak dan juga suaminya. Hingga dirinya tidak pernah punya sedikit pun alasan, untuk tidak merasa bahagia.
"Gantian dong, istri nya didi nih." Ujar Jovan sewot. Seketika suasana haru tersebut berubah menjadi adu sengit-sengitan, antara Jovan dan anak-anak nya. Joi terkekeh geli, kemudian melerai pelukan dari kungkungan anak-anak nya.
"Maaf. Selamat hari jadi yang, sehat selalu, makin sayang anak-anak terutama didi. Jangan pernah berpaling ke lain jantan, cintai suamimu ini hingga akhir hayat. I love you, istri cantik ku" Jovan mencium kening Joi sambil menitikkan air mata. 19 tahun menjadi pasangan suami istri, tidak membuat cinta Jovan susut. Bahkan semakin bertumbuh subur setiap harinya.
"Makasih, didi sayang. I love you more" saat akan beradu bibir, suara intrupsi para pengacau mulai bersahutan.
__ADS_1
"Bisa tidak momen romantis nya di tunda dulu? laper nih, ini lilinnya juga udah padam sendiri, saking sebelnya nunggu di tiup tidak juga." Oceh Dimas merusak suasana. Jovan mendelik kesal.
"Dasar tukang ganggu! Asisten tidak ada akhlak! Bulan ini tidak ada bonus, gajih di potong 10 persen." Ujar Jovan sewot maksimal. Dimas menjadi asisten nya sejak 15 tahun lalu. Namun meski begitu, kedua nya selalu terlibat adu mulut setiap kali bersama dalam satu ruang. Joi dan Iren hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan labil kedua pria yang tak pernah dewasa mengiringi umur masing-masing.
Dimas seolah tidak dengar, tangan kreatif nya sibuk mencomot buah yang ada di atas kue ulang tahun Joi tanpa segan apalagi malu.
"Selamat ulang tahun ya dek, gimana? berhasil kan ide aku" ujar Delia bangga, dan berhasil mendapat cubitan kecil di hidung mancung nya oleh suami yang tak kalah bucin dari Didi Jovan.
Acara sederhana versi keluarga Jovan tersebut, berlangsung hingga tengah malam. Mereka hanya mengundang beberapa teman dekat, selebihnya keluarga inti saja. Edwin dan Amelia telah di panggil pulang, dalam sebuah kecelakaan maut 5 tahun yang lalu. Mobil keduanya tertabrak truk dan terdorong masuk ke dalam jurang hingga meledak. Duka lara tersebut begitu membekas dalam ingatan seluruh keluarga, terutama saat mereka hanya bisa memakamkan jenazah, yang cuma berupa potongan tubuh yang tidak untuh. Sejak saat itu, tidak ada perayaan apa pun lagi yang mereka rayakan, kecuali hari raya natal dan lebaran yang dilakukan sekedar nya, untuk saling bersilaturahmi dan berkumpul bersama. Selebihnya, hanya akan ada ucapan selamat ulang tahun, juga tiup lilin bersama keluarga masing-masing jika ada yang berulang tahun.
Amelia dan Edwin berpulang, sesaat setelah merayakan hari jadi pernikahan juga ulang tahun Amelia di puncak. Keduanya ingin mengenang momen masa muda, dengan memaksa untuk berkendara tanpa sopir. Namun siapa sangka, kata pulang yang di ucap kan keduanya ketika akan melakukan perjalanan pulang ke kota. Benar-benar definisi kata pulang yang sesungguhnya. Pulang menuju keharibaan kekal dan tidak pernah kembali, pada keluarga yang menanti dalam genangan duka hati dan air mata luka.
Ini adalah momentum pertama setelah kejadian naas itu, sudah cukup waktu 5 tahun untuk menyembuhkan luka hati masing-masing. Kini saatnya melangkah ke depan menjemput kebahagiaan. Di mulai dari seorang Joi, lalu di susul oleh perayaan kebahagiaan-kebahagian lain dalam keluarga besar mereka.
Kirel, Jeslyn, Jevier, Jesen dan Debya masih tinggal di rumah peninggalan kakek dan ayah mereka, bersama anak cucu masing-masing. Rumah peninggalan Daniel tersebut menjadi semakin besar saja, karena terus di tambah, baik ke belakang maupun ke atas. Sementara Delia ikut bersama sang suami di kota, namun masih berdekatan dengan kediaman sang adik, Joi.
__ADS_1
Hubungan kekeluargaan mereka terjalin begitu erat, anak cucu dari saudara orang tua mereka, masih terhubung kuat dan tak terpisahkan. Seberapa pun jarak yang terbentang antara garis keturunan mereka, namun rasa saling menyayangi, melindungi dan rasa peduli satu sama lain tetap terjaga begitu teguh.
Sama halnya dengan anak cucu Keenan, Keyra, Kalla dan Kavin. Juga Dean dan yang lainnya, tidak pernah ada jarak dalam hubungan kekerabatan mereka. Kebiasaan saling mengunjungi, berlibur bersama juga komunikasi yang tidak pernah putus, membuat hubungan mereka jauh dari kata canggung dan acuh.