
"Berani-beraninya kamu...!!" Tunjuk pria itu tepat di wajah Sarah, namun tidak membuat Sarah gentar.
"Aku sudah mengikuti syarat mu, sekarang ikuti syarat kecil dari wanita lemah ini, dan turunkan telunjuk mu dari wajah ku. Aku mual melihatnya." Tukas Sarah dengan penuh keberanian, disisa kesadarannnya, sang ayah kembali dibuat terkejut oleh perubahan sikap putrinya itu.
"Jika kau tidak dibutuhkan dalam keadaan hidup, bisa ku pastikan, aku akan dengan senang hati menghabisi mu. Mencincang-cincangmu dan memberikan setiap potongan tubuhmu, untuk hewan peliharaan ku." Pria itu di buat kesal bukan main, seorang wanita berani memerintah sekaligus mempermalukan nya.
"Bagaimana, waktu dua jam tidak akan menunggu perdebatan kita selesai, bukan?" Suara Sarah kembali menguar, membuat pria itu mau tidak mau menuruti nya.
"Urus orang-orang ini sekarang, berikan satu mobil pada mereka. Sekarang apa lagi yang kau inginkan nona, aku sudah tidak sabar untuk mengeksekusi mu, setelah urusan tuan Reegan dan tuan Prayoga selesai." Pria itu tersenyum sinis pada sarah.
"Pertanyaan bagus, pastikan semua antek-antek pasar malam mu itu berjalan didepan kita, jangan ada satupun yang tinggal." Sarah menarik sudut bibirnya penuh kemenangan.
"Baiklah, kalian duluan." Lalu pria itu menatap tajam pada Sarah. "Kita lihat masih sebesar inikah nyali mu setelah ini." Pria itu menarik kasar tangan Sarah menuju keluar. Pria itu trus mendorong kasar tubuh Sarah hingga kepalanya membentur pintu mobil.
Setelah duduk dijok belakang dengan cara yang tidak manusiawi, pria itu kembali menodongkan senjatanya pada Sarah.
"Ck, banci. Bahkan saat sanderamu sudah tertangkap pun, kamu masih menodongkan nya senjata." Sarah lalu melirik ke punggung tangan pria itu, melihat bekas luka yang cukup besar. Bekas luka yang sangat dia kenali, Sarah menatap netra pria itu dari samping.
Dapat dia lihat dengan jelas, tanda lahir yang sama di tengkuk pria itu. Sarah tersenyum miris, dulu dialah yang selalu mendorong pria itu, untuk menjadi seorang yang pemberani. Kini pria itu telah mempraktekkan, arti kata pemberani versi dirinya, dengan menyandra seorang wanita. Yang bahkan pernah berjasa dalam hidupnya.
"Berhenti menatap ku, aku tidak tertarik padamu. Dan kau bukan seleraku, jadi jangan berharap aku tergoda olehmu dan membiarkan mu lolos begitu saja." Pria itu berkata tanpa menoleh sedikit pun pada Sarah.
"Aku juga tidak tertarik padamu, jadi tidak perlu GR seperti itu." Ucap Sarah tak kalah ketus.
__ADS_1
perjalanan kurang lebih 4 jam itu membuat Sarah terlelap, saat dia terbangun, dia berada di ruangan serba putih, dan terbaring disebuah brankar.
Apakah ada orang yang sudah menolong nya, seketika dia merasa senang, sekarang dia mencari ayahnya. Saat Sarah hendak bangun, dia merasakan tubuhnya susah untuk diangkat. Lalu dia melirik pada perutnya, ternyata dia dalam keadaan terikat satu tangannya diborgol.
"Tolong, tolong.. Siapa pun, tolong... " Sarah berteriak berkali-kali, namun tak ada satupun orang yang masuk kedalam ruangan itu. Hingga suaranya hampir parau.
klek
Sarah menoleh pada pintu yang mulai terbuka itu, dan seketika kedua matanya membulat. Pria yang dia rindukan itu berdiri tepat di samping, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kamu puas dengan hasil pencapaian mu, telah berhasil menipuku, mempermain kan perasaan ku dan menghancurkan hidupku, hah!" Reegan berteriak didepan wajah Sarah, sambil mencengkram kedua pipinya. Kemudian pria itu menampar bolak balik pipi sarah, untuk menyalurkan kekecewaan nya pada wanita itu.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku? Tidak puaskah kamu dan ibumu merebut ayahku, hah?" Lalu tatapan Reegan beralih pada perut Sarah, yang sudah terlihat membuncit. Membuat hati Sarah was-was.
"Ree, dengerin aku dulu, kamu salah paham. Aku...."
"Ree, ini..."
"Diam! Jangan pernah sebut namaku dengan mulut ****** mu itu. Cukup dengarkan aku saja, aku tidak sudi anakku tumbuh dirahim mu, aku juga benci dengan anak-anak sialanmu itu. Akan ku keluarkan mereka dari sana, lalu memberinya sebagai makanan hewan. Mereka lebih cocok menjadi potongan sampah, berasal dari sampah akan tetap menjadi sampah, selamanya akan tetap seperti itu." Kemudian dengan tanpa perasaan, Reegan menekan perut Sarah hingga wanita itu menjerit kesakitan.
"Ree... please... Mereka anak-anak kita, aku bukan ad...."
"Diam!" Reegan kembali menampar wanita malang itu tanpa belas kasih.
__ADS_1
"Satriaa! Panggil dokternya, keluarkan bayi-bayi sialan itu dari perut wanita ****** itu. Dan ya, siksa dia hingga tak berdaya, jangan memberinya bius. Biar dia tau, apa arti sakit yang sesungguhnya." Setelah berkata dengan tak berperasaan, pria itu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tinggal pria yang bernama, Satria tersebut dan Sarah yang sudah sangat lemah. Perutnya sakit luar biasa, tekanan yang Reegan berikan sangatlah kuat.
"Tolong... aku.. tolong... Bayi.. bayiku..." Suara lemah Sarah tak digubrisnya, pria itu fokus membuka ikatan dan borgol di tangan wanita itu. Entah kenapa ada perasaan tak tega dihatinya. Dan ini baru pertama kali dia rasakan. Namun ini tugasnya, dia harus profesional, perasaan itu akan hilang seiring waktu.
Setelah ikatan yang melilit perut Sarah terlepas begitu juga borgolnya, pria itu memanggul Sarah seperti karung beras. Membuat rasa sakit di perut Sarah semakin bertambah.
"Lepaskan... aku.. kasiani.. anak-anak ku.."
Setelah sampai di sebuah ruangan, pria itu menghempas kan tubuh Sarah ke lantai keras itu. Seketika darah segar keluar dengan sangat deras dari sela paha Sarah, wanita itu tidak mampu meski hanya sekedar berteriak pelan. Dia hanya memeluk erat perutnya, dengan sisa tenaga yang dia punya.
Lalu tanpa perasaan, pria itu menendang perut Sarah, berkali-kali hingga kesadaran Sarah sudah diambang batas. Setelah selesai dengan kekejaman kejinya, pria itu kembali mengangkat tubuh Sarah ke atas brankar diruanga itu, tak lama datang beberapa orang berpakaian hijau, dengan tutup kepala dan masker medis. Bisa dipastikan mereka adalah dokter dan para personil nya.
"Keluarkan bayi itu dari perut nya, tanpa dibius apapun. Itu perintah mutlak dari Tuan Reegan. Aku akan mengawasi kalin disini."
Orang-orang yang bertugas untuk menggugurkan janin Sarah itu pun, mulai mempersiapkan peralatan yang mereka butuhkan. Dimulai mengangkat kedua kaki wanita itu dan melepaskan pakaian dalamnya, membuat pria itu melengos kesembarang arah.
"Wanita ini mengalami pendarahan hebat, jika seperti ini trus dia akan mati, tuan. Ijinkan kami memberikan obat bius pada nya, setidaknya jika dia mati, tidak dalam keadaan menanggung rasa sakit." Ujar salah ssorang dokter itu pada Satria.
"Itu lebih bagus, kematiannya sangat diharapkan oleh tuan mu, pemilik rumah sakit ini. Ingat nasib kalian ada ditangan tuan Reegan. Kerjakan saja jangan banyak protes, kalian dibayar mahal untuk ini, jangan munafik!" Seru Satria pada mereka.
Merek saling bertukar pandang, lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka kembali.
__ADS_1
"Aku.. senang.. kamu..sudah..bisa.. mengobati..lukamu sendiri, Tria..." Senyum itu perlahan memudar, mata sayunya mulai tertutup rapat. Membuat jantung Satria seperti ditarik keluar dari dadanya.
"Tidak mungkin! Ara?!"...