Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Tangis pilu I


__ADS_3

"Ini punya aku, siniin!" Seru seorang anak perempuan berusia 3,2 tahun, pada anak laki-laki yang lebih tua darinya setahun lebih.


"Tapi ini punya aku, papa beliin ini buat kado ulang tahun aku, Raya!" Serunya tak mau kalah. Hingga terjadilah perebutan mainan antara kedua balita itu.


"Apa-apaan ini!" seru Tiara yang baru saja tiba di rumah, dengan kasar wanita itu mendorong Kirel hingga terjatuh di lantai.


"Dasar anak tidak tau diri, anak pungut saja belagu. Kau itu numpang di sini, Raya yang lebih berhak, karena dia anak kandung Daniel suami saya!" Teriak Tiara pada Kirel yang sudah berdiri sendiri, sambil menepuk bokong nya yang terasa sakit.


Bukan sekali dua kali Kirel di katai seperti itu, namun berkali-kali juga, Daniel meyakinkan nya. Jika dia adalah anak kandung ayahnya juga ibunya, Kira. Yang foto pengantin orang tuanya terpajang indah di kamar Kirel dan ayahnya.


Anak itu sudah kebal, hingga tak pernah menanggapi ucapan ibu tiri nya yang ngawur menurut nya.


"Hei kau mau kemana itu? dasar anak tidak punya sopan santun, dasar sampah!" seru Tiara kesal karena Kirel berjalan menuju kamarnya acuh tak acuh.


"Yang sampah itu kau, Tiara!" seru Daniel dari arah tangga, " kau dan anak mu itu yang sampah di rumah ini," ucap Daniel berlalu melewati punggung Tiara menuju kamar putranya.


"Daddy" suara manja Raya tidak di gubris oleh Daniel, membuat anak itu menangis kejer.


"Daniel!" teriak Tiara kesal " Lihat Raya menangis ingin bersamamu, dia itu anak yang lahir di pernikahan kita, otomatis dia juga anakmu. Jadi perhatian lah sedikit padanya!" seru Tiara tak terima putri nya di abaikan begitu saja.


Daniel berbalik dan menatap Tiara dengan tajam, "dia anakmu, hanya anakmu. Sama seperti Kirel, hanya anakku bukan anakmu!" Sanggah Daniel merasa jijik, mengakui anak yang entah benih milik siapa yang tertanam di rahim liar wanita itu.


Bukannya dia tidak tau, jika Tiara sering tidur dengan pria yang berbeda-beda. Hanya saja dia diam, agar wanita itu tak mengusik dan berusaha menjebak nya lagi.


"Urus anakmu sendiri dan aku akan mengurus anakku sendiri!" Daniel berbalik menuju kamar anaknya, namun berhenti sejenak tanpa menoleh.


"Jauhkan anak haram mu itu dari putraku!" selesai dengan kalimat kejamnya, Daniel membuka kamar putranya, kemudian menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Tiara menatap nyalang pintu kamar Kirel yang seharusnya menjadi kamar putrinya. Sehingga putri nya malah mendapat kamar yang lebih kecil di lantai atas itu.


"Dasar parasit!" Maki Tiara kesal dengan suara keras. Tentu saja Daniel dan anaknya tak mendengar, karena kamar keduanya sengaja daniel pasangi peredam suara. Sejak Raya lahir anak itu sangat cengeng, dan seiring berjalannya waktu, Raya mulai menunjukkan sifat berkuasa nya pada Kirel. Sering menggedor dan berteriak di depan pintu kamar putranya jika dia menginginkan sesuatu, atau barang baru milik Kirel.


"Tadi di apain sama wanita jahat itu, hmm?" tanya daniel lembut. Sambil mengusap kepalanya sang anak.


"Di dorong kelantai aja, pa. gak apa-apa, Kirel kuat." Jawabnya tersenyum polos. Namun terlihat ketulusan dari kedua matanya.


"Maafkan papa ya, gak bisa jagain kakak" ujar Daniel merasa bersalah.


Tiara sangat licik, dia mengambil surat berharga perusahaan atau lebih tepat nya mencurinya. Hingga Daniel masih belum bisa menceraikan wanita ja*l*ang itu. Namun Daniel juga tak bodoh, untuk mengurus pernikahan mereka hingga sah di mata hukum.


Nyatanya status Tiara masihlah istri siri hingga sekarang, Daniel mengancam akan membeberkan pada media, jika Raya, bukanlah anak kandung nya beserta bukti yang ada di tangannya. Namun Tiara tetap kukuh menahan surat-surat perusahaan Daniel, jika sampai Daniel menceraikan nya. Maka perusahaan Daniel akan dia akuisisi kan pada perusahaan lain, mengingat suratnya sudah Tiara alihkan atas namanya. Hasil mengancam akan melempar Kirel dari atas balkon.


Kini di rumah itu hanya tinggal mereka saja, Bintang dan Sinta memutuskan tinggal di desa kelahiran Sinta. Di Kalimantan timur, loa kulu. Sinta tidak sanggup mendengar pertengkaran, dan melihat amukan Tiara yang sering tak terkendali.


Belum lagi para sahabat yang sudah tak mau tau lagi tentang mereka. Keduanya benar-benar merasa kan hari tua yang tak menyenangkan. Sementara para sahabatnya perlahan mulai membenahi hidup pasca kehilangan Kira, namun mereka masih terkungkung dalam karma yang tak berujung.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Sayang, jangan sekarang, aku mohon. Aku tidak sanggup," isak Reegan sambil mengangkat kepala sang istri ke pangkuan nya. Tangannya bergetar meraih ponsel dan menghubungi Ujang di sebelah rumah mereka.


"Kang, Sarah kang. Kemarilah ajak anakmu, Lukas. Aku tidak kuat menggendong Sarah ke mobil," ujar Reegan dengan suara serak.


Tak lama suara pintu di buka dari luar membuat Reegan menoleh, "Sarah pingsan, Jang. Pingsan," ujar nya meyakinkan kan diri, jika istri nya hanyalah pingsan.


Ujang menatap tubuh pucat Sarah dengan miris dan iba. "Kas, kau gendong bunda mu ya, bawa ke mobil. Bapak mau siapkan mobilnya dulu." Ujang memberi titah pada anak keduanya untuk menggendong Sarah ke mobil.

__ADS_1


Lukas dan kakaknya memanggil Sarah dengan sebutan bunda sejak kecil, atas permintaan wanita itu. Juga Reegan yang mereka panggil ayah.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Terdengar suara beberapa pasang kaki melangkah lebar ke arah Reegan, yang masih menunduk kan kepalanya didepan ruang UGD.


"Yah? bunda gimana? sudah diperiksa didalam?" cecar Keyra tak sabar, Al hanya bisa mengelus pelan bahu sang istri.


"Yah?" Keenan duduk di samping ayahnya yang terlihat begitu tertekan.


"Bunda akan baik-baik saja, percaya lah. Bunda itu hebat," Keenan merangkul bahu sang ayah yang berguncang, dia pun ketakutan. Namun tidak ingin menambah kepanikan ayahnya.


Klek


"Keluarga ibu Sarah?" nampaknya itu adalah dokter baru, karena tidak mengetahui jika keluarga itu adalah pemilik rumah sakit tersebut.


"Kami dok. Gimana keadaan bunda? baik-baik saja kan?" Keyra bertanya tak sabar.


"Maaf dokter Keyra, kami sudah berusaha. Tapi Tuhan punya kehendak," Ujarnya dengan wajah bersalah juga iba.


Dia tidak tau jika pasien nya adalah ibu dari pemilik rumah sakit ini, Keyra menjabat sebagai direktur rumah sakit tempat nya bekerja.


Tubuh Keyra limbung, Al langsung membawanya ke dekapan. Begitu juga yang lain, Kavin dan kalla yang baru tiba dengan istri masing-masing. Terlihat syok dan lemas.


Secepat itu ibu mereka pergi, Gendis yang bahkan baru hamil 4 bulan anak kedua mereka, Atun yang baru saja melahirkan anak keduanya.


Tangis pilu memenuhi koridor rumah sakit itu, para sahabat yang baru datang langsung peka. Tangis mereka pun luruh seketika. Wanita baik hati itu telah pulang, membawa setumpuk luka yang bahkan belum sembuh sempurna.

__ADS_1


Disudut lorong itu, seseorang meremat dadanya yang sesak. Tadinya dia akan menjenguk sahabat nya yang baru saja melahirkan, namun saat melewati koridor itu, dia mendapati pemandangan yang menyayat hati.


Ibunya telah pergi, hati nya seakan tak terima. Baru saja dia kehilangan suaminya, kini ibunya pun ikut Meninggal kan nya.


__ADS_2