
"Aku suka tensi sama kelakuan Joice, pa. Anak itu udah seperti anak laki-laki saja kelakuan nya. Suka kelahi, kemarin kelahi sama cucunya pak RT. Ampun aku," aduk Kira berkeluh-kesah
Daniel hanya perlu memasang telinga nya, agar setiap curahan hati sang istri, bisa dia cerna dengan baik. Karena istri nya itu punya kelakuan ajaib, dia akan menanyakan kembali apa yang di keluhkan pada suaminya. Daniel tidak ingin kecolongan lagi, dan berakhir tidur di kamar tamu.
"Namanya juga anak-anak, Joi memukul cucu pak RT juga tidak sakit bener. Papa di sana lagi ngobrol sama pak RT. Si Loli itu yang lebih dulu meledek Joi, putri kita di katai cucu papa. Joi nya kesal, terus dorong, tidak kuat, sekuat apa sih tenaga anak 5 tahun. Sementara si Loli sudah 7 tahun, harus nya lebih kuat nahan badan. Tapi sengaja di jatuhkan agar Joi terlihat bersalah. Papa liat semua nya, pak RT juga liat. Jadi tidak salah-salah amat," jelas Daniel runtut.
Dia tidak ingin putra putri nya di katai nakal, kata-kata itu doa, itu yang selalu dia ingat. Joi tidak lah nakal, sesekali berbuat kesalahan bukanlah kesalahan besar yang harus dihukum dan di hakimi. Anak itu hanya terlalu tomboi saja, suka main dengan anak laki-laki. Jadi terlihat seperti nakal, karena penampilan nya yang suka setelan dari pada dress.
"Tapi ibu nya bilang, Joi dorong nya keras, anaknya sampe tidak bisa bangun saking sakit nya. Ibu jadi malu, ngomong depan ibu-ibu yang lain di sekolah." Keluh wanita itu masih berlanjut.
"Sudah, biarkan saja. Dari dulu mereka tidak pernah suka melihat kebahagiaan kita, sakit hati mungkin karena Kirel tidak mau menjadi pacar anak kakak sulung nya." Ujar Daniel menenangkan hati gundah istri nya.
Di usianya yang menginjak 51 tahun, wajar jika Joi sering di kira cucu nya, namun Daniel maupun Kira tidak pernah malu. Anak-anak merupakan anugerah terindah dalam hidup mereka.
Kepergian kedua orang tua Daniel juga Bastian, dan Nabila, benar-benar suatu yang sangat menyakitkan. Kini hanya tersisa Dara, di usianya yang sudah 67 tahun, wanita itu sering Daniel jemput untuk tinggal bersama mereka beberapa hari, hingga di jemput kembali oleh anak-anak nya.
__ADS_1
Keyra pun sudah berpulang di usia nya yang ke 53 tahun, 2 tahun lalu. Sang kakak Dean 1 tahun lalu, disusul sang istri 1 bulan kemudian. Hidup adalah tentang kelahiran dan kematian, seperti siklus yang terus berputar-putar.
Daniel berharap masih di beri kesempatan melihat putri bungsunya tumbuh hingga bisa mandiri. Keenam anaknya masih tinggal bersama mereka sesuai keinginan sang ibu. Jevi telah menikah dengan cucu nya Ujang, Safira, dan Jesen menikah dengan anak bungsu Jason, Maira. Lalu Jeslyn, menikah dengan Kirel. Keduanya baru tau mereka bukan saudara kandung saat kelulusan SMA, perasaan suka yang Kirel pendam pada adiknya akhirnya terbalaskan. Kini masih Delia dan Debya yang belum menikah, kedua masih kuliah.
Hidup Daniel sempurna, meski kehilangan orang-orang terkasih dari hidup nya. Daniel menyadari, itu hukum alam. Semua ada waktunya masing-masing. Entah kapan giliran nya tiba, namun Daniel berharap, dialah yang lebih dulu di panggil pulang. Karena dirinya tidak akan sanggup jika di tinggal lebih dulu.
Namun tanpa dia tau, sang istri selalu berdoa, agar dirinya lah yang lebih dulu di panggil. Hidup tanpa suami untuk kedua kalinya, Kira tidak akank mampu lagi bertahan. Meski ada Joi diantara mereka.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suara teriakan anak-anak bersahutan di ruang makan keluarga Daniel. Selain putrinya Joi, ada dua cucunya. Anak Kirel dan Jeslyn, anak Jevi dan Safira. Kedua nya selisih satu bulan saja, kini umur keduanya menginjak 3 tahun beberapa bulan lagi.
"Loh, cucu papo kenapa hmm? ini kok rambut nya nasi semua. Kan cantiknya kurang nih kalau begini. Joi kenapa nak? Ayo kita duduk di sana yuk, pinggang papo encok nih" bujuk Daniel akhirnya ketiga bocah itu menurut.
Setelah duduk Daniel mulai mengintrogasi ketiganya,. "tadi kenapa rebutan sendok dibelakang kan banyak, coba ceritakan sama papo. Adakah yang menarik dari sendok ini?" Daniel mulai memasang telinga nya, untuk mendengar celotehan kedua cucu tentang pembelaan mereka. Dengan bahasa yang meyambung kesana kemari, akhirnya Daniel memberanikan kesempatan pada putrinya untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Tadi kan mereka berdua yang berebut sendok, terus Joi pisahin. Sekarang nanak kok jadi keroyokan salahin teta nya sih. Ishh sebel Joi jadinya" sungut anak itu tak terima, jadi dari penjelasan kedua cucunya, dikatakan bahwa. Teta(tante) mereka berusaha merebut sendok keduanya, dan mereka bersekutu untuk melawan sang tante untuk mempertahankan sendok tersebut.
Daniel terkekeh, dan para orang tua anak itu sejak tadi bersembunyi di balik pembatas ruang makan. Orang tua laknat itu tertawa terbahak-bahak, mendengar cerita konyol adik serta anak-anak mereka.
"Kalian ini, adik sama nanak nya berkelahi malah sembunyi" omel Daniel. Meski dia tidak lah marah, dia hanya tidak ingin ketiganya bermusuhan. Belum lagi anak Jesen lahir, Daniel sudah menghela nafas berkali-kali. Dia dan istrinya meminta agar cucunya tidak di jaga pengasuh, mereka saja sudah cukup. Daniel takut cucu-cucu di sakiti tanpa mereka ketahui, itu tidak baik untuk mental anak-anak.
"Kami baru datang, pa. Sungguh" Jeslyn mengangkat dua jarinya lalu tersenyum nyengir. Daniel hanya menggeleng pelan.
"Ayo kita lanjutkan makan siang nya, kalian duduk duluan. Papa mau bersihin rambut Luna dulu" Daniel masih duduk di sofa yang tadi, dengan telaten pria itu membersihkan sisa nasi yang menempel di rambut cucunya.
"Lain kali jangan berebut sendok lagi ya, di dapur ada banyak, Luna sama Lula bisa pilih yang mana saja untuk di pakai atau di mainkan. Oke?" anak-menantunya menatap kegiatan itu dari meja makan, yang hanya berjarak 4 meter. Hati mereka menghangat, tidak di pungkiri, Daniel lah yang selalu bisa mengatasi anak-anak mereka, jika berebut apapun. Itulah kenapa kedua cucunya itu lebih dekat dan menurut pada sang kakek. Ketimbang orang tua mereka masing-masing.
"Ya popa, teta natan tuh. Lebut tendot atu," adu nya masih menyalahkan sang bibi. Joi mendelik tak suka dan bergumam tak jelas. Kira tersenyum melihat bagaimana Daniel, begitu menyayangi anak-anak dan cucu-cucu mereka tanpa pilih kasih.
"Ya, nanti popa tegur. Sekarang sudah selesai, ayo lanjut makan lagi." Daniel menggendong cucunya menuju kursi khusus, di samping orang tua gadis kecil itu.
__ADS_1
"Kalian ini bagaimana, anak-anak kenapa dibiarkan makan sendirian tanpa di temani. Bagaimana kalau ada yang panas, kan bahaya." Omel Daniel.
"Maaf pa, tadi kira anak-anak nungguin, eh taunya sudah ambil start duluan. Lain kali bakal diperhatiin lagi," Kirel yang menjawab, pria itu juga merasa bersalah. Telah teledor menjaga anak-anak super aktif itu.