
Plakk
"Kalo ngomong itu di saring dulu, enak aja kita di sangka setan. Ayo masuk dingin ini." Suara intrupsi Satria membuat suasana haru biru Revan buyar, kata-kata perpisahan dikepalanya seketika lenyap.
"Tuh kan mi, Setannya bisa nabok, udah dua kali loh didi di tabok, tadi juga tulang kering didi di tendang. Jadi setan aja jahat banget, untuk sahabat, kalo gak aku laporin dukun dengan kasus penganiayaan. Mi......"
"Diam didi, diam!" Bentakan sang istri kembali membuat Revan terdiam, jahat banget pikir nya, tadi di tabok setan sekarang di bentak istri. Untung sayang.
Tatapan mata Nabila, Dara dan juga Marissa tertuju pada tiga orang yang mereka sangka sudah tiada. Kini berdiri tegak, tepat di hadapan mereka.
"Dara? Marissa?" Nabila menoleh pada kedua sahabat nya, lalu mengangguk pelan. Rupanya otak Nabila lebih cepat tanggap dari pada sang suami.
"Pah?" Hanya itu yang mampu Dara ucapkan. Kemudian berjalan cepat lalu memukul-mukul dada bidang pria yang sangat dia rindukan tersebut. Tangisan sudah tak bisa bendung lagi. Wanita itu meraung dalam pelukan sang suami.
Begitupun Marissa, wanita itu sudah berjalan mendekati suaminya atau apapun itu. Dia hanya ingin bisa memeluk nya lagi, tidak peduli jika itu adalah setan atau arwah gentayangan.
Bastian berjalan pincang menuju ke arah istri nya, di tatapnya wanita itu dengan penuh kerinduan. Lalu mengulurkan tangan menarik Marissa dalam pelukan nya. Keduanya nya sama-sama menangis, tangisan yang membuat semua orang pun ikut meneteskan air mata.
Sementara Reegan dan Revan mulai mencerna situasi, lalu menatap para pria muda yang seolah acuh dengan tatapan mereka.
"Masuk dulu yuk, dingin di luar. Takut Asha kebangun trus liat kita pada kaya gini di luar. Takut nanti di malah syok." Daniel mengintrupsi momen mengharu-biru itu dengan mengajak mereka masuk.
Mereka sengaja berkumpul di villa Varel dan sang istri, yang di situ juga Bram ikut tinggal. Karena di villa utama, ada Asha, Mereka tidak ingin gadis itu kebingungan dengan situasi yang terjadi.
__ADS_1
"Yuk, masuk dulu nanti papa ceritain semua. Takut princess kita lihat, gak akan baik buat dia dan kita semua." Mereka masuk kembali kedalam rumah.
Setelah situasi kembali tenang, Bintang berdehem nampaknya pria itu yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Emmm... Baiklah, sebelumnya maaf jika situasi nya jadi seperti ini, ini di luar perkiraan, karena akibat otak tua kedua sahabat kita ini. Mereka sampai melibatkan para wanita, betapa berbahayanya menyetir dalam keadaan panik seperti itu. Maaf Nabila, andai suami mu dan pria tua ini tak lemot mencerna situasi dan bicara ngelantur, kalian tidak perlu sampai kemari. " Bintang menjeda Ucapan nya, lalu menghela napas panjang.
kemudian pria itu mulai bercerita, cerita yang sama yang pernah mereka sampai kan pada pada anak-anak mereka terlebih dulu.
"Ini salah Daniel, Kavin Sama Alfan nih. Salah siapa gak ngasih tau dulu tujuan kita di ajak mau kemana, didi malah mau di adopsi kan sama singa. Mi." Bela pria itu tak mau di salah kan.
"Itu karena Didi lemot, kebanyakan makan daging ya gini. Otak banyak cacing nya.Lelet." Bukan nya mendapat pembelaan, Revan malah di marahi oleh wanita cerewet itu.
Revan hanya mencebik kesal, salah siapa gak kompromi dulu, kan gak gini jadinya.
"Ck, kenapa jadi nyalahin aku gitu. Yang ngoceh ngelantur panjang lebar kan kamu yang lebih banyak." Keduanya sama-sama saling melempar bola api, agar tak meledak di tangan mereka.
"Udah, ini salah kalian semua. salah anak-anak juga, harusnya kalian kasih tau kami soal ini. Tau ayah sama didi kalian itu udah pada tua. Mana sanggup cerna situasi dadakan kaya gini." Kali ini Nabila kembali membuka suara. Dari nada suara nya, kelihatan sekali jika wanita itu sedang dalam mode kesal maksimal.
"Ya, ini salah kami, mi. Maaf." Lebih baik menyelamatkan diri dari pada melawan, begitu lah istilah mereka jika berhadapan dengan Mimi mereka yang cerewet itu. Niat hati ingin memberikan kejutan pada kedua pria lemot itu malah berakhir tragis dan miris.
Jadilah malam itu, mereka menghabiskan malam hanya untuk berbagi cerita yang mereka lewati kurun waktu tiga setengah tahun ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Astaga, anak-anak. Udah didi geser dikit ih, aku mau telpon Sila dulu. Itu Selo nya gimana semalam."
"Mimi ini, orang masih ngantuk juga. Didi tidur jam 5 subuh loh, kalo mimi lupa."
"Trus apa kabar aku yang di tinggal ngorok duluan sama didi, heh? Ini anak gak pake di angakt sih." Gerutu wanita itu pada keponakan nya.
"Eh, ya halo Ken, itu Selo udah bangun? semalam tidur sama siapa dia? Sila gak pacaran sama Juned sampe subuh kah?" Pertanyaan beruntun Nabila membuat Keenan hampir tersedak ujung bantal nya.
"Mimi, pagi-pagi udah bising kaya kenalpot resing." Gumam Keenan yang celaka nya di dengar jelas oleh Nabila.
"Woi, mimi denger ya. bangun kamu. Ini jam berapa sudah, ingat anak kamu itu baru setahun, Arumi jangan kamu eram trus."
Keenan terlonjak kaget, lalu membenarkan posisi duduk agar tak oleng. Semalam diri nya tidur larut malam, mana enak meninggalkan acara di saat orang tua malah menghilang entah kemana.
"Ya ,mi. semalam aku tuh mewakili keluarga besar kita, buat nutup acara. Secara aku yang paling tua, paling bisa di andalin, di saat para orang tua malah pergi entah kemana rimba nya." Jelas Keenan dengan menekan setiap kata dalam kalimat penuh makna sindiran nya itu.
"Kamu gak usah nyindir-nyindir mimi, ini masih pagi. Mimi jangan di ajak berantem dulu. Durhakim kamu tuh sama mimi." Omel wanita itu tak terima di sindir telak oleh Keenan.
Sedangkan Keenan hanya bisa mendengus kasar, mendengar ocehan wanita yang sialnya sangat dia sayangi tersebut.
"Ya, mi. Udah dulu ya. Anak aku rewel nih minta dodot. Dah mimi." Keenan segera menutup panggilan dari mimi nya itu, dia masih sayang jantung nya, berhadapan dengan wanita itu dalam kondisi tidak siap. Bisa-bisa Keenan pulang dalam keadaan tertidur pulas dan tak bangun-bangun.
"Mimi, bi? Ngomong apa? Kaya kesal gitu, pake bawa-bawa anak-anak segala. Tar rewel beneran baru kapok." Arumi yang sejak tadi memperhatikan sang suami, yang melipat wajahnya dengan sempurna. Yakin jika yang menghubungi adalah mimi tercinta mereka.
__ADS_1