
"Pak, bu, Mi. Ini Didi sama mimi aku, Kakak aku nyusul hari ini, paling nyampe nanti nyampe malam sama sepupu aku yang lainnya." Jason mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarga nya, pada keluarga Mina dan warga yang sudah datang berbondong-bondong. Karena ingin melihat orang-orang kota tersebut dari dekat.
Revan tampak berdehem, untuk mulai merangkai kata yang sudah dia susun dengan baik sejak dari rumah kemarin.
"Hmm.. Sebelum nya, Saya ingin minta maaf, jika cara melamar anak saya terkesan kurang sopan. Sebagai ayah nya saya sedikit malu sama bapak dan keluarga. Oleh karena itu saya mewakili keluarga besar saya, ingin meminang putri bapak, Mina. Untuk menjadi istri dari anak saya, Jason Belaric. Sekiranya lamaran ini di terima dengan tangan terbuka dan dengan hati suka cita. Oleh bapak dan keluarga." dan bla bla bla......
Hingga kepuncak acaranya itu tukar cincin, acara dipersingkat agar bisa langsung ke acara puncaknya. Mengingat mereka semua meninggalkan pekerjaan, juga anak-anak yang harus ijin dadakan dari sekolah nya.
Besok siang, setelah akad di masjid desa. Akan dilanjutkan dengan resepsi alakadarnya, namun tidak bagi warga desa tersebut juga desa-desa tetangga. Mereka menyambut dengan suka cita pernikahan tersebut. Pasalnya pernikahan itu adalah pernikahan termewah di desa mereka. Walau bagi Revan sekeluarga, itu tidak ada apa-apa nya. Namun mereka senang melihat antusiasme warga yang berbondong-bondong datang untuk membantu berjalan nya acara tersebut.
"Didi sama ayah ngapain?" Daniel duduk dikursi plastik kosong, diantar kedua orang yang pria yang sangat daniel sayangi itu. Terlihat keduanya sedang duduk melamun dan menatap kosong kedepan, tanpa ada yang membuka suara.
"Lagi nyantai, menikmati suasana asri ini. Di ibukota mana dapat udara yang masih sebersih ini, sekali ngirup, debu dan polusi pada nemplok di lubang idung." Ujar Reegan terkekeh pelan.
__ADS_1
Daniel hanya tersenyum tipis, dia tau bahwa kedua orang kesayangan nya itu, pasti sedang merindukan mereka yang dianggap sudah tiada.
Sementara Revan memilih diam, dia sedang dalam mode merindukan teman-temannya. Tiga setengah tahun telah berlalu tanpa mereka sadari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma, mama harus percaya sama aku. Kau benaran loh liat papa sama daddy tadi naik mobil item yang kaya punya kita tu, pas dibelokkan tadi. Mama sih bawa mobilnya kaya orang lagi ikut ujian, tegang banget. Jadinya kan gak liat papa sama Daddy." Celo trus memaksa sang ibu untuk mempercayai nya sejak didalam perjalanan tadi.
Membuat wanita itu kesal sendiri, jelas saja dia tegang, jalanan selicin itu. Dia sedikit menyesal mengajak serta anak bungsunya yang sedang dalam fase kritis. Banyak hal yang dia tanyakan, sampai Juned yang bertugas menjadi tour guide dadakan mereka sedikit kewalahan, menjawab semua pertanyaan remaja tanggung itu.
Selo seketika terdiam, ini kali pertama nya sang ibu berbicara dengan nada lumayan tinggi padanya.
"Loh loh, ini ada apa? Selo kenapa sayang, ayo sini cerita sama mimi, ada apa hmm? Kenapa mama bisa sampe marah sama Selo?" Nabila yang tak sengaja mendengar bentakan Dara bergegas masuk kedalam kamar tersebut.
__ADS_1
"Selo liat papa sama daddy waktu kami belok dijalan sana tadi, mama jadi marah sama Selo. Tapi Selo gak bohong mi, sumpah. Tadi papa sama daddy naik mobil item kaya punya kita itu, sama." Anak itu menatap Nabila dengan wajah memelas, berharap agar mimi nya tersebut mau mempercayai nya.
"Salah liat mungkin, barangkali mirip aja. Atau karena Selo kangen sama papa, makanya liat yang mirip dikit, langsung disangka nya papa sama daddy." Nabila tidak tau harus menanggapi apa lagi. Dia tau penderitaan wanita didepannya itu dalam membesarkan kedua anaknya sendiri tiga setengah tahun ini, tanpa berniat sedikit pun untuk menikah lagi. Padahal usianya masih cukup muda diantara mereka semua.
"Selo mandi gih, bau acem nih. Tar malam kita turun ke desa lagi, ada tong iblis nya, banyak permainan yang lain juga. Malam pasti rame, dari desa-desa tetangga juga pasti bakal datang. Selo pasti suka, yuk mandi."Wanita itu mengarah kan Selo ke kamar mandi, setelah mengambil kan anak itu handuk. Lalu kembali duduk di samping Dara yang tengah menatap kosong jari manisnya. Hanya cincin itu yang selalu dia lihat jika dirinya sedang merindukan sang suami.
Mata Nabila sudah berkaca-kaca, di raihnya bahu Dara dan memeluknya erat. Untuk menyalurkan kekuatan pada wanita itu.
"Udah gak usah dipikirin, Selo pasti lagi kangen sama papanya aja. Makanya gitu, jangan dimarahin, takutnya malah mentalnya kena. Dia masih terlalu muda, wajar jika pikiran nya belum bisa memahami kesedihan ibunya. Ada aku, ada Marissa. Jangan di pendem sendiri kalo ada apa-apa, kita keluarga kan, keluarga harus saling berbagi, suka maupun dukanya, hmmm?"
Dara hanya terdiam dengan tangis yang sudah mukai reda, setelah hatinya mulai tenang. Dara mengurai pelukannya. Kemudian mengusap air matanya.
"Makasih sudah selalu ada buat aku dan anak-anak. Kami mungkin jadi gembel karena anak itu jika tidak ada kalian. Makasih udah sayang sama anak-anak, memberikan kami kehidupan yang layak. Juga membuka usaha untukku. Aku belum pernah mengatakan nya bukan, selama ini aku seolah bisu bukan karena aku mau. Setiap aku akan membuka mulutku untuk mengatakannya, aku selalu tak mampu. Jika suamiku melihat dari atas sana, dia pasti akan sangat sedih melihat keadaan kami yang sangat menyedihkan. Oleh karena itu selama ini aku selalu diam dengan segala perkara dihidupku sendiri."
__ADS_1
Dara memang banyak berubah, jarang sekali wanita itu berbicara lebih dulu jika tidak ada yang memulai nya. Kehidupan mereka yang berubah drastis membuat wanita itu seperti kehilangan pegangan dan juga sandaran. Killa, gadis itu menjual rumah milik mereka, memanipulasi tanda tangan Satria untuk mengambil alih semua aset milik anak-anaknya. Baru saja kehilangan suami, kehilangan rumah beserta seluruh isinya disaat bersamaan. Siapa yang tidak stress berat.
Mereka tinggal di rumah Revan selama satu bulan, wanita itu ingin mengajak anak-anak nya pergi ke kampung halamannya. Namun Revan dan Reegan menentang nya. Bagaimana pun Dara dan anak-anaknya adalah tanggung jawab mereka mulai saat itu. Mereka membelikan Dara dan anak-anaknya sebuah rumah tidak jauh dari kediaman Revan, membukakan sebuah usaha toko pakaian. Agar Dara tidak merasa terbebani jika mereka selalu membantunya secara langsung.