
Seluruh tubuh Hanum terasa sakit karena beberapa hari tenaganya diporsir untuk kegiatan panti sampai acara selesai sore tadi. Kini tinggal rasa lelah dan ngantuk yang dirasakan Hanum.
Beruntung pulang bisa bersama dengan Bram kalau tidak harus menunggu dihalte bus untuk sampai kerumah.
Bram melirik Hanum terlihat wajahnya yang lelah dan mata yang sayu karena kurang tidur. Putri kecilnya pun telah tertidur sedari tadi dipangkuannya.
"Han tadi udah dititip belum kunci rumah ama bude? biar dihidupkan lampu rumah karena kita pulang malam", tanya Hanum.
"Udah kak", jawab singkat Hani yang duduk disamping sopir.
Tak lama berbicara Hanum telah tertidur pulas dibahu Bram. Dibiarkan saja kepala Hanum menempel dipundaknya.
"Kelihatan sekali kau lelah sayang", besit Bram dalam hati.
Kaki dan bahu Bram mulai merasa keram karena terlalu lama dalam posisi yang tak leluasa bergerak.
Dibiarkannya asal kedua perempuan yang sangat dicintai tak terbangun dari tidur.
Mobil berhenti tepat didepan halaman rumah dan kedua perempuan kesayangannya belum juga terjaga.
__ADS_1
"Pak tolong angkat Fay kedalam", ucap Bram karena tak mungkin ia bergerak dengan kondisi seperti itu.
Sopir pribadi Bram sangat berhati-hati menggendong putri tuannya agar tak terjaga dari tidur. Dengan perlahan ia rebahkan tubuh mungil Fairuz yang masih terlelap tidur.
Bram membangunkan Hanum dengan cara menyentuh bahunya tetapi Hanum masih juga belum terjaga dari tidurnya.
Diangkatnya tubuh Hanum masuk kedalam rumah dan dibaringkannya ketempat tidur. Hanum masih juga belum terjaga dari tidur pulasnya.
"Letih sekali sampai ku angkat kemari kau masih tertidur. Walaupun keletihan dan dalam keadaan tidur paras wajah mu masih terlihat cantik", ucap Bram dalam hati seraya menyentuh lembut pipi Hanum.
Bram tak kuasa menahan nafsunya untuk mencium bibir merah Hanum yang menggairahkan hasrat lelakinya.
****************************************
Dering ponsel masih dengan nomor yang sama. Hanum jadi penasaran siapa yang menelponnya sepagi ini.
Terdengar suara wanita dari seberang sana lalu memberi salam dan memperkenalkan dirinya.
Hanum baru teringat bahwa wanita yang bertemu terakhir dengannya bersama ibu Galang dilorong kamar mandi sebuah resto
__ADS_1
" Intan istri dari Galang buat apa menelpon ku sepagi ini", besit hati Hanum dengan tanda tanya.
Hanum mengiyakan saja permintaan wanita yang barusan mengakhiri pembicaraannya melalui telpon.
"Apa yang ingin dibicarakannya padaku, apakah sudah mengetahui masa lalu ku terhadap suaminya?, ungkap Hanum seraya penasaran dan rasa khawatir.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Hanum terhadap istrinya Galang. Tertera nama Bram dalam panggilan itu.
"Kita bertemu malam ini? ada yang ingin ku sampaikan mengenai wanita dan lelaki yang kemarin ingin kau tahu informasinya", ucap Bram dengan serius.
"Baiklah ntar jemput dicafe tempat biasa setelah aku selesai bertemu seseorang disana", jawab Hanum.
"Bertemu dengan siapa? apakah lelaki?, tanya Bram dengan nada cemburu.
"Emang perlu tahu ya?, ledek Hanum dengan sengaja untuk mengetahui seberapa besar rasa cemburu Bram.
"Jangan main-main denganku! , aku akan datang melihat mu bertemu dengan seseorang itu", ancam Bram pada ku.
Hanum tertawa dan Bram menjadi bingung dengan sikap Hanum. Ia baru tersadar kalau Hanum sengaja mempermainkan emosinya.
__ADS_1
" Baiklah aku kan menjemput mu jam tujuh malam dicafe itu", ucap Bram mengakhiri panggilannya.