
Pintu ruang bersalin terbuka, seketika suster keluar dari ruangan tersebut sambil menggedong seorang bayi mungil yang masih merah.
Matanya masih belum terbuka seutuhnya, bayi itu berusaha membuka matanya perlahan-lahan dan bayi itu memiliki mata bulat yang sangat indah.
"Selamat ibu cucunya perempuan", ucap suster itu dengan tersenyum dan memperlihatkan bayi yang digendongnya kepada ibu.
Senyum ibu mengembang ada rona kebahagian diwajah ibu melihat cucu pertamanya yang telah lahir.
Kulit bayi itu putih dan bersih sekali dengan bulu mata yang lentik dan rambut yang hitam serta lebat. Bola matanya berwarna biru bak batu permata yang indah dengan hidung yang mancung.
Ibu kaget karena bola mata berwarna biru dan hidung mancung bukan lah milik putrinya.
"Ini tanda bahwa ia memang anak lelaki itu". besit ibu dalam hati.
Ibu melamun sembari memandang wajah cucunya. Tak disangka suster sedari tadi meminta ijin untuk membawa bayi yang digendongnya keruang khusus anak.
__ADS_1
"Apa ibunya dalam kondisi baik-baik saja suster? , tanya ibu seketika teringat akan putrinya yang telah berjuang antara hidup dan mati didalam sana.
Wajah ibu menjadi pucat mendengar penjelasan suster, rona yang penuh kebahagian tadi seketika lenyap dari wajah ibu. Kini muncul gurat kesedihan dan kecemasan yang mendalam pada wajah ibu.
Hanum dalam kondisi kritis, ia banyak kehilangan darah dan segera membutuhkan donor darah secepatnya.
Ibu terduduk lemas, tubuhnya gemetar dan pikirannya membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpa putrinya jika tak mendapatkan donor darah secepatnya.
Kesedihan bercampur kecemasan yang ibu rasakan saat ini. Ibu sadar tak sanggup menahan beban berat yang sedang terjadi saat ini.
Suster yang membawa cucunya sudah berlalu sedari tadi, kini hanya tinggal ibu yang masih kebingungan dan gelisah mencari pendonor darah yang akan diberikan ke Hanum.
Ibu mendatangi bagian labor dan menanyakan stok darah atas golongan A, petugas mengatakan bahwa stok yang dicari kebetulan kosong. Ibu semakin panik kemana ia akan mencari sedangkan ia jauh dari keluarga.
ibu datangi beberapa keluarga pasien yang sedang berkumpul.
__ADS_1
"Maaf bapak ibu bisa tolong bantu anak saya yang sedang kritis dan butuh bantuan donor darah golongan A. Apakah diantara bapak ibu memiliki golongan yang sama? , ungkap ibu dengan kesedihan dan air mata yang membasahi pipinya.
Melihat dan mendengar perkataan ibu salah satu laki-laki tersentuh hatinya lalu berdiri dan bersedia memberikan darahnya pada Hanum.
"Mari ikut saya pak", ungkap ibu seraya menuju ruangan.
Hanum banyak kehilangan darah pada proses persalinan sehingga membutuhkan darah tiga kantong. Ibu sudah kesana kemari mencari pendonor darah tapi hasilnya nihil.
Hanya satu orang yang cocok dan layak mendonorkan darahnya ke Hanun. Butuh syarat tertentu bagi yang ingin mendonorkan darah tidak semua orang bisa mendonorkan darah.
Ibu terduduk dikoridor setelah mengantarkan lelaki yang ingin mendonorkan darahnya. Ditengah kegelisahan dan kecemasan ibu mendengar seseorang memanggilnya.
Ibu menoleh kearah suara dan dari kejauhan ia melihat dua orang pria dan satu orang wanita. Ketiga orang itu mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai pada posisi ibu yang terduduk dikoridor.
Ibu perhatikan dengan seksama dan betapa terkejut nya pada salah satu dari ketiga orang tersebut yang sedang menuju kearahnya.
__ADS_1