
πΌπΌπΌ
SELAMAT MEMBACA.....
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Masih dengan menatap kearah depan, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut lelaki disamping Mayang.
Diliriknya dibagian spedometer menunjukkan keangka 90 rpm, Mayang menjadi cemas dan wajahnya berubah menjadi pucat. Tak berani mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
Dilihatnya kejalan, mobil tersebut melaju tak mengarah pada jalan untuk mereka kembali kerumah, namun mengarah kesebuah jalan yang tak biasa dilaluinya.
Hatinya semakin cemas, bahwa suaminya kini akan membawa dirinya kesuatu tempat yang tak biasa.
"Mau dibawa kemana diriku ini? " Batin Mayang didalam hati.
Jatung Mayang berdegub kencang, wajahnya telah menjadi pucat pasi. Sesekali dicurinya untuk melirik kearah Galang dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.
Berbelok kearah sebuah taman yang sangat asing bagi Mayang. Galang belum pernah mengajak dirinya ketempat ini sebelumnya.
Masih diam dan terpaku, ketika Galang memarkirkan mobilnya dan langsung keluar.
"Ayo... Turun!" Ucap Galang masih tanpa ekspresi.
Pintu mobil dibuka dan meminta Mayang turun dari dalam mobil, serta menarik pergelangan tangan istrinya menuju sebuah tempat ditaman tersebut.
"Apakah kau menyesal menikah dengan ku!" Ucapnya setelah menghentikan langkahnya.
Perkataan Galang seperti menyambar ditelinga Mayang. Wajah Mayang semakin pucat, ucapan yang dikatakan suaminya seperti petir disiang hari.
"Ke...Kenapa bicara begitu?" Ucap Mayang dengan suara pelan dan terputus - putus.
Galang tak memberikan jawaban, lalu beruntun menanyakan pertanyaan yang menurut Mayang sangat tak masuk akal.
__ADS_1
"Lihat ini!" Suaranya lebih tinggi dari sebelumnya.
Seraya melempar kearah Mayang obat yang ada digengamannya. Mayang semakin gelisah dan cemas. Dengan wajah pucat pasi diraihnya obat yang jatuh tepat diujung kakinya setelah mengena pada bagian bahu dirinya.
"Kak...Aku bisa jelaskan," ucap Mayang dengan tertunduk merasa bersalah.
Dicobanya melangkahkan kaki untuk kebih dekat dengan suaminya.
"Apakah ucapanmu waktu itu hanya kebohongan belaka!" Ujarnya dengan lantang.
Mayang masih beruntung, suasana taman itu sepi dan tak ada orang disekitar mereka berdua, sehingga tak takut menjadi pusat perhatian orang disekitar mereka berdua.
Galang semakin terpancing oleh amarahnya sendiri. Mayang berusaha memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya kembali dengan terbata - bata.
"Kak...Maafkan aku, please dengarkan alasan ku... " Ucap Mayang mengiba seraya meraih tangan suaminya.
Galang menatap wajah istrinya datar, dibiarkanya saja Mayang meraih tangannya.
Galang masih tak memberikan tanggapan, akan perkataan yang sesungguhnya sangat sulit diatur dan diucapkan sehingga tersusun menjadi rangkain kalimat oleh Mayang.
"Mengapa ku bawa kau kemari, agar mama tak mendengar perkataan mu, bahkan kau telah melanggar janjimu pada dirinya. Sekarang aku tak ingin dirinya menjadi sedih dan kecewa pada menantu kesayangannya, " balas Galang dengan tertunduk dan lirih.
Sentuhan Mayang membuat apa yang ada hatinya luluh, amarahnya berangsur - angsur berkurang. Dirinya kembali mengendalikan emosinya.
"Jawab jujur...Mengapa kau tak mengakuinya bahwa kau adalah seorang istri? Apakah kau malu dengan status itu? Jawabnya kembali.
Mayang dengan suara berat dan kepala tertunduk menjawab dengan kata "Tidak."
"Apakah kau menyesal telah menikah dengan ku? Apa harus kah kita ber.... " Pertanyaan yang sama diulangnya kembali.
__ADS_1
Secepat kilat Mayang menyetuh bibir suaminya dengan kedua jarinya, menghentikan Galang untuk bicara lebih lanjut.
"Ku mohon jangan dilanjutkan, Maafkan aku... Aku tak pernah menyesal menikah dengan mu kak, aku nyaman disamping mu. Namun terkadang aku masih tak terbiasa menerima bahwa diusiaku yang sangat muda telah menjadi seorng istri dan seorang ibu pula jika harus berbarengan hamil dikondisi saat ini, makanya aku putuskan untuk menundanya sementara sampai perkuliahan ku selesai, " balas Mayang seraya mencium punggung tangan suaminya.
Setelah mendengar perkataan istrinya, dirinya mulai dengan suara tegas berkata "Sayang...Aku tak ingin mama bersedih, dirinya sungguh sangat berharap segera mendapatkan cucu dari pernikahan kita, Apakah kau tak merasakan itu?"
Kembali Galang memberikan pengertian akan istrinya, bahwa sesungguhnya dirinya tak mempermasalahkan menunda memiliki buah hati, namun dirinya memikirkan perasaan seorang wanita yang telah melahirkan dirinya yang begitu sangat mengharapkan keturunan darinya.
Melihat suaminya yang begitu tulus dan sangat mengerti alasannya, maka Mayang menjadi begitu sangat bersalah. Tak pernah dipikirkannya bahwa Galang telah tertekan dengan kondisi orangtuanya yang begitu sangat mengharapkan anak dari hasil pernikahan kedua putranya.
"Baiklah Kak... Aku berjanji akan berhenti untuk tidak meminum pil ini, " ucap Mayang seraya melempar jauh obat yang masih digenggamannya.
Dengan senyum mengembang diujung bibirnya, Galang menatap wajah istrinya lalu memeluk erat tubuh gadis muda tersebut.
Balasan pelukanpun dilakukan oleh Mayang, bahwa sesungguhnya dirinya juga tak ingin kehilangan sosok lelaki yang begitu baik dan sangat pengertian akan dirinya.
Akhirnya mereka berdua larut dalam perasaan mereka masing - masing yang menari - nari indah dikepala mereka berdua.
πΏπΏπΏ
Jangan lupa like, dan komen serta votenya ditunggu yaaaa πππ
Ditengah usaha Author yang meluangkan waktu agar tetap meng-up episod selanjutnya...
Mari beri dukungan dan semangatnya Reader tercinta ππ
Ketuk tanda hati β€biar kita semakin dekat dan mesra ya...
Buat Reader baru ngebaca.... selamat yaaaa
KALIAN ngebaca DIA BUKAN SUAMI KU SEASONS 2.
__ADS_1
Salam hangat dan cinta dari Author...πππ