Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 249 Teriakan yang dinanti


__ADS_3

Bulir bening tak terasa telah membasahi wajah Hani, rasa haru dan rasa syukur membaur menjadi satu. Tak hanya Hani, namun Brian juga tak berbeda jauh dengan istrinya.


senyum mengembang diujung bibirnya dan sorot matanya yang berkaca - kaca, bahwa masih dirasakan olehnya seperti sebuah mimpi yang indah.


Dilihatnya bayi mungil berjenis kelamin lelaki itu sedang tertidur pulas disebuah incubator. Untuk sementara bayi mereka berdua dimasuki kedalam kotak kaca tersebut.


Ayah dan ibu hari ini pun telah hadir pada persalinannya. Sebuah pelukan hangat mendekap tubuhnya.


"Selamat sayang..." Ucap ayah pada Hani yang tertidur diatas kasur seraya tersenyum menyambut kedatangan ayah.


Dicium punggung tangan lelaki tua tersebut, ada gurat kebahagian terpancar jelas diwajah lelaki paruh baya tersebut.


"Akhirnya dipenantian panjang kalian dan buah kesabaran kalian berdua, Tuhan memberikan kesempatan itu," ucap ayah kembali dengan membalas senyum.


Ibu yang semula berdiam diripun sekarang melangkah menghampiri putri keduanya itu.


"Selamat Nak... Sekarang kau telah menjadi ibu seutuhnya, " ujar ibu dengan senyum yang tak kalah bahagianya.


Ibu mengerti sekali bagaimana perasaan Hani disaat awal diponis dokter untuk sulit memiliki seorang anak. Namun buah dari usaha dan doa mereka, kini akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka berdua.


"Bu...Terima kasih juga atas bantuannya selama ini. Semua berkat ibu juga, kalau tak ada ibu, mungkin Hani tak sanggup melewati semua ini." Balas Hani seraya meraih tangan wanita paruh baya yang berdiri tepat disamping tempat tidurnya.

__ADS_1


Wanita disampingnya hanya tersenyum dengan mata berkaca, rasa haru dan bahagia tergambar jelas dikedua bola matanya.


Terdengar pintu ruang inap Hani diketuk, spontan ibu membukanya. Terlihat putri pertamanya beserta suaminya dan kedua cucunya telah berada tepat dihadapannya.


"Ibu..." Sapa Hanum dn Bram secara bersamaan.


Mereka bertiga spontan meraih tangan wanita paruh baya tersebut lalu mencium punggung tangannya secara bergantian.


"Apa kabar bu? Sapa Bram.


"Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat," balas mertuanya dengan tersenyum.


"Mari masuk Nak Bram," Sapa ayah seraya mendekati menantu tertuanya.


"Baru satu jam yang lalu," balas ayah seraya membelai lembut bahu menantunya.


Suasana didalam ruang inap berwarna putih tersebut penuh dengan kebahagian, sorot mata rasa syukur akan kehadiran anggota baru terpancar disetiap raut wajah setiap orang yang ada diruangan tersebut.


"Bunda...Dedek bayinya mana?" Celetuk Fairuz yang sedari tadi matanya mencari keberadaannya bayi mungil yang telah membuat semua orang berbahagia.


"Ada diruang khusus sayang..." Jawab Hani pada ponakan yang sangat disayanginya.

__ADS_1


"Tunggu om Brian ya...Baru Fay bisa pergi kesana," ujar Hani kembali.


Dengan wajahnya yang cantik Fairuz menganggukan kepalanya pertanda mengerti akan apa yang dikatakan oleh auntinya.


Tak berselang lama Brian telah hadir dihadapanya mereka dengan mendorong kereta bayi memasuki ruang inap Hani.


Kedatangannya disambut hangat oleh semua orang disana, terlebih Fay yang sedari tadi penasaran ingin melihat.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰ dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.


❀Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... 😍😍

__ADS_1


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©


Author tunggu ya...😊😊


__ADS_2