Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 251 Kekota


__ADS_3

Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan Simbok, ketika esok dirinya bakal bertemu putri yang sangat dirindukannya.


Ada rasa gemuruh didada seakan tak sabar ingin segera memeluk dan mencium putri kesayangannya.


"Mbook... Apakah sudah disiap untuk dibawa besok pagi?" Ucap pak Darso membuyarkan lamunannya.


"Udah pak, saya bawa hasil kebun kita juga buat oleh - oleh disana," balas istrinya dengan wajah penuh bahagia.


"Bagus Mbok, biar besok kita tinggal menunggu jemputan saja, tidak ada yang tertinggal kalau disiapkan malam ini. Narsih bilang bahwa jam 09.00 kita akan berangkat kekota." Ujar pak Darso kembali.


"Ya pak, sudah tak pikir apa saja yang bakal kita bawa, " balas istrinya.


🌱🌱🌱


Perjalanan Kekota


Pak Darso tak hentinya melihat kiri kanan jalan, baru kali ini mereka berdua pergi kekota besar.


Menumpang sebuah mobil dengan bak terbuka. Suami dari adiknya yang membawa mobil kekota. Adik iparnya membawa barang dagangan yang ada dikota dan menjualnya kembali dipasar tradisional didesa mereka.


Berbekal alamat yang ada diamplop surat yang sering dikirim Mayang sewaktu dulu, mereka menuju kota ketempat kediaman Mayang.


"Dek, kira - kira berapa lama kita sampai kekota? " ujar pak Darso memecahkan keheningan diantara mereka.


"Ooo...Masih jauh Kang," jawab adik iparnya seraya tetap fokus mengendalikan roda empat tersebut.


"Ooo begitu...Perasaan ku sudah jauh kita meninggalkan desa..." Ujar pak Darso kembali.


Adik iparnya hanya tersenyum mendengar perkataan dari pak Darso. Terlihat sekali diwajah lelaki paruh baya tersebut tak sabar untuk sampai dikota.


Pak Darso kembali melihat kiri kanan dari perjalanan mereka melalui kaca mobil sedangkan istrinya telah terlelap tidur disampingnya sedari tadi, karena sebelum pergi telah meminum obat agar tak mabuk diperjalanan.


Cukup lama pak Darso dan adik iparnya berbincang selama perjalanan sehingga pembicaraan mereka berdua dapat menghilangkan rasa kantuk yang mendera adik iparnya.


Ada saja yang jadi pertanyakan lelaki paruh baya tersebut, selama perjalanan mereka dari kampung sampai matanya terlihat pada sebuah gapura yang tertulis dengan huruf besar dan jelas diatas gapura tersebut.


"SELAMAT DATANG DIKOTA X, apakah kita telah sampai dek?" Tanya pak Darso setelah membaca tulisan yang ada digapura tersebut.

__ADS_1


"Bentar lagi Kang, sekitar 30 menit lagi kita akan sampai pada pusat kota, oya untuk sampai pada alamat ini paling nambah sekitar 15 menitan lagi Kang," balas adik iparnya seraya menunjukkan alamat yang sedari tadi sengaja diselipkan didasbor mobil tersebut.


Senyum kembali mengembang diraut wajahnya, hatinya bergemuruh dengan hebatnya.


"Kenapa akhir - akhir ini Mayang tidak pernah terlihat pulang kampung Kang?" Ujar adik iparnya secara tiba - tiba.


"Entah lah Sur...Itulah yang membuat Mbakyu mu berniat untuk pergi kekota, aku takut dia jatuh sakit lagi seperti dulu, saat kepergian putra pertama kami yang sampai saat ini ndak kunjung pulang kekampung, beruntunglah saat ini kami menngetahui alamat Mayang...Kalau ndak entah apalah yang akan terjadi pada Mbakyu mu," Ujar Pak Darso dengan raut wajah yang berubah seketika menjadi sedih dengan mata berkaca - kaca.


Pada saat ini terlihat jelas kesedihan diwajah lelaki paruh baya tersebut, setelah menceritakan alasan sesungguhnya, sehingga mereka berniat besar untuk sampai kekota ini.


"Benar juga yang Kakang katakan, semenjak kepergian putra pertama kalian terlihat Mbakyu sakit - sakitan. Ada gurat rindu terlihat jelas diwajahnya pada putra dan putrinya," ujar Suryono.


Mobil tiba - tiba berhenti dibadan jalan, Suryono kembali mengambil alamat yang sengaja diselipkan didasbor mobilnya.


Membaca alamat pada secarik kertas tersebut, kemudian dengan wajah seperti sedang berpikir seraya menatap alamat yang tertera dikertas tersebut.


"Kang tunggu sebentar ya, aku mau tanya alamat ini pada warung disebarang jalan tersebut," ucapnya seraya turun dari dalam mobil dan berjalan menuju jalan besar diseberang kanan mereka.


Pak Darso hanya menganggukan kepalanya, serasa dirinya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu. Tak memakan waktu lama terlihat kembali Suryono berjalan kearah mereka berhenti.


"Benar Kang dengan jalan pada alamat ini, tadi aku ragu saja dengan jalan ini karena ada banyak perubahan dengan cepat pada saat terakhir aku lewat jalan ini, " ujar adik iparnya seraya kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Kang bantu aku untuk mencari sebuah gapura yang dikiri dan kanan jalan ini, gapura tersebut terdapat patung kuda," ujar Suryono meminta bantuan pada ayahnya Mayang.


"Baiklah Dek..." Jawab spontan pak Darso.


Cukup lama mereka melihat kiri dan kanan jalan agar mendapatkan gapura yang dimaksud oleh penjaga warung yang ditanya oleh Suryono.


"Berhenti Dek....Apakah yang dimaksud itu? " teriak pak Darso setelah melihat ciri - ciri gapura yang dikatakan oleh suryono.


Pandangan Suryono mengarah pada jari telujuk pak Darso yang menunjuk kearah seberang jalan. Terlihat gapura tersebut sangat megah dengan taman yang menghiasai dikiri dan kanan gapura, terdapat patung kuda yang besar sebagai sebuah tanda dari perumahan elite dikota tersebut.


Mobil berhenti didepan sebuah pos yang menjaga pintu masuk menuju perumahan tersebut. Suryono kembali turun dari mobil dan membawa alamat digengamannya yang ada pada secarik kertas.


"Permisi pak... Saya mau tanya, apakah benar alamat pada kertas ini?" ujarnya pada penjaga keamanan yang bertugas dipos tersebut.


"Benar Pak, alamat yang ada dikertas ini, silahkan bapak masuk kedalam setelah itu belok kanan lalu lurus dan ketemu rumah pada sisi sebelah kiri. Urutan rumah blok D no 21," ungkap penjaga keamanan tersebut dengan sangat ramah.

__ADS_1


"Sepertinya bapak dari perjalanan jauh..." Ujar pak penjaga keamanan tersebut setelah melihat bawaan mereka dibagian belakang mobil.


Terlihat pisang, jagung dan beberapa sayuran hasil kebun pak Darso juga dibawa kekota. Penjaga keamanan tersenyum seraya berpikir didalam hatinya "Ini perumahan elite, apakah mau yang dikunjungi dibawakan bawaan hasil kebun seperti itu."


Suryono memperhatikan penjaga keamanan tersebut menatap bawaan mereka yang ada dibagian belakang mobil itu. Terlihat diwajah lelaki tersebut heran dan bingung dengan bawaan mereka.


"Terima kasih pak atas penjelasannya," ucap Suryono membuyarkan lamunan penjaga tersebut seraya menaiki kembali mobil dengan bak terbuka itu.


"Mbok bangun...Kita telah sampai, ayo lihat rumah - rumah ini, " ujar pak Darso seraya mengoyangkan tubuh istrinya.


Dengan punggung tangannya mengucek - ngucek matanya yang tak terasa gatal. Istrinya telah terbangun dan telihat kaget melihat rumah - rumah yang dimaksud suaminya.


Perumahan tersebut didesain dengan halaman yang luas dan antara rumah yang satu dengan yang lainnya memiliki jarak yang jauh. Sehingga terlihat seperti bukan sebuah perumahan.


Menandakan ini perumahan terlihat dari konsep rumah yang sama antara rumah yang satu dengan bentuk rumah yang lainnya.


"Sepertinya ini rumah yang dimaksud petugas tadi, " ujar Suryono menghentikan mobilnya tepat pada sebuah rumah dengan bernuansa sofh pada cat dinding rumah tersebut.


"Kang kita harus melapor dulu pada petugas disana karena ada satpam yang menjaga pintu masuk rumah tersebut," ujar Suryono kembali.


"Biarkan aku kali ini yang turun Dek," balas pak Darso.


Suryono menganggukan kepalanya pertanda mengerti akan apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu.


Pak Darso berbicara pada satpam tersebut, terlihat perbincangan mereka cukup lama.


"Tuan muda sama nyonya muda lagi keluar pak, yang ada hanya nyonya besar," ujar satpam setelah pak Darso menanyakan siapa yang menghuni rumah ini.


"Maaf pak, silahkan tunggu disini terlebih dahulu, biar saya laporkan pada nyonya besar," ucap satpam itu kembali.


Satpam tersebut menekan sesuatu kotak yang menempel pada salah satu dinding pos penjaga rumah tersebut lalu terlihat sebuah layar disebuah kotak tersebut.


Pak Darso diminta satpam itu untuk menghadapkan wajahnya kelayar tersebut. Dirinya dapat melihat seorang wanita paruh baya dilayar tersebut, wajah wanita yang dulu pernah kerumah mereka.


Dengan melempar senyuman kearah layar dikotak kecil tersebut lalu berkata "Nyonya... Saya Darso, ayahnya Mayang."


Terlihat wanita itu membalas senyum lalu menganggukan kepalanya. Satpam membuka pintu pagar tersebut dengan menekan sebuah tombol pada sebuah remot yang ada digengaman penjaga pos tersebut.

__ADS_1


"Mari silahkan masuk pak, biar bawaan bapak dimobil itu saya yang turunkan," ujar pak satpam itu kembali.


Istrinya yang sedari tadi ada didalam mobil, hanya menatap rumah tersebut penuh takjub. Terlihat heran dan kaget, dirinya tak menyangka bahwa Mayang tinggal disebuah rumah yang sangat besar dan megah.


__ADS_2