
Hanum bertemu dengan kepala panti yang sangat ramah. Wanita yang tidak muda lagi, terlihat jelas pada garis-garis wajahnya.
Usia tuanya ia habiskan bersama anak-anak dipanti asuhan ini. Anak yang rata-rata terbuang dari keluarga.
Keterpaksaan orangtua karena biaya hidup yang berat atau bahkan sengaja diletakkan didepan panti tanpa alasana.
Ada juga anak yang terlahir dari korban pelecehan dan pemerkosaan yang oleh pihak keluarga merupakan sebuah aib yang harus dibuang jauh.
Lebih tragis lagi kebanyakan anak hasil dari hubungan terlarang yang dilakukan tanpa dasar hukum, yang jelas dari sepasang yang hanya mengikuti nafsu setan.
Baru saja pertama kali bertemu wanita dihadapan, Hanum merasa seakan sudah mendapatkan keakraban yang telah terjalin lama.
"Nak Hanum bisa membantu kami disini, bisa mengajar kan anak panti untuk membaca ataupun menulis bagi yang belum memasuki sekolah begitu juga yang telah bersekolah", ucap ibu kepala panti.
__ADS_1
Hanum merasa sangat beruntung ia dapat diterima disini. Apalagi ia bisa membawa putri kecilnya pada saat bekerja di panti.
"Nak untuk masalah gaji yang ibu berikan mungkin tak sebesar mengajar disekolah lain, panti ini mendapatkan biaya dari donatur dan menjual hasil kerajinan yang anak-anak panti buat. Jadi panti tidak mempuyai cukup uang jika harus membayar gaji yang besar", ungkap ibu Panti.
Hanum tersenyum seraya berkata: " Saya sudah bersyukur ibu sudah menerima saya. Selain uang yang ingin saya dapatkan tetapi juga jiwa saya yang ingin membatu semampu saya untuk mengajar mereka semua demi kemajuan panti".
Mendengar perkataaan Hanum ibu kepala panti tersenyum dengan bahagia. "Moga menjadi amal jariyah buat kita kelak", ungkap ibu kepala panti.
Panti ini memiliki satu orang donatur besar yang setiap bulan rutin mengirim tidak hanya dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk barang.
Jarang sekali pengusaha itu terjun langsung. Paling pada saat moment tertentu yang diundang panti untuk pengusaha tersebut, maka ia akan menghadiri acara panti tersebut.
Setelah cukup lama ia mengobrol dengan ibu kepala panti maka Hanum meminta untuk pamit dan besok akan segera bekerja dipanti.
__ADS_1
Ia bertemu kembali diluar panti dengan pak satpam yang memberikan saran bertemu dengan kepala panti.
"Terima kaaih ya pak, bapak telah membuka rejeki bagi saya tidak rezeki dunia tapi juga diakhirat. Saya dapat menyalurkan ilmu saya dan saya mendapatkan pahala dari apa yang saya lakukan", ungkap Hanum dengan senyum manis dan mata berkaca-kaca.
Pak satpam membalas senyuman Hanum. Ada perasaan lega dihatinya bisa meringankan beban wanita yang baru saja ditemuinya.
Hanum permisi pulang dan besok pagi ia akan kemari untuk membatu mengajarkan anak-anak panti.
Dering dari ponsel nya terdengar dari dalam tas. Segera Hanum raih ponselnya tersebut dan tertera Hani dalam panggilan itu.
"Kak besok Hani akan ketempat kk, untuk mempersiapkan administrasi kampus. Saya diterima kuliah disana", ucap Hani dengan suara bahagia.
Hanum sangat bahagia mendengar kabar dari adiknya yang dapat lulus disebuah perguruan tinggi yang ternama dikota ini. Sama seperti Hanum mendapatkan beasiswa sebagai mahasiswa undangan dari siswa berprestasi.
__ADS_1
Rasa bangga terlihat diwajah Hanum dan tentunya dirasakan juga oleh kedua orangtuanya. Memiliki putri-putri yang cerdas serta mengerti akan keadaan orang tuanya.