
Hanum masih tak percaya perubahan lelaki yang ada dihadapannya. Tutur katanya sangat lembut dan setiap sentuhannya terasa penuh kasih sayang. Berbeda sekali dengan yang ia jumpai pada saat tragedi kelam itu.
"Sorot matanya terlihat tulus dan penuh harapan", besit Hanum yang masih terdiam memperhatikan setiap tingkah laku Bram.
Angin malam berhembus terasa semakin dingin. Hanum menyilangkan kedua tangannya didada. Tubuhnya mulai terasa kedinginan karena hanya memakai shortdress berlengan pendek tanpa cardigan yang menutup tubuhnya.
Melihat Hanum seperti itu Bram bereaksi cepat. Melepaskan jas yang dipakainya lalu menutupi tubuh Hanum.
"Maafkan aku tanpa permisi telah menyentuh perut mu", ucap Bram yang baru sadar kalau Hanum memperhatikan tingkah lakunya.
" Aku terbawa perasaan sehingga tanpa sadar tangan ku bergerak mengelus perut mu", ucap Bram dengan sorot mata bersalah.
Hanum masih terdiam tak ada kata sepatah pun yang keluar dari mulutnya. Dia juga tidak menolak tindakan Bram yang menyentuh perutnya dan bahkan kini sedang menggenggam tangan.
__ADS_1
"Kita masuk kedalam, mama dan papa ingin bertemu dengan mu. Mereka juga ingin melihat cucunya yang ada diperut mu ini".
Ucap Bram seraya mengajak Hanum berdiri dan berjalan memasuki rumah.
Hanum hanya mengikuti saja setiap gerakan Bram. Terlihat dua orang yang sedang menatap mereka berdua dengan wajah tersenyum.
Genggaman tangan Bram masih terasa ditangan Hanum pada saat mereka berada didepan pintu dan semua yang ada didalam ruang tamu menatap secara bersamaan.
Wanita separuh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi berdiri menghampiri Hanum. Matanya yang berseri seakan menggambarkan rasa bahagia bertemu dengannya. Dipeluknya Hanum seketika dan seraya berkata: "Hanum mau ya menjadi menantu mama? " .
Pandangan mata orang tua Bram tak lepas melihat Hanum yang duduk disamping ayah.
"Hanum maksud kedatangan orangtua Bram adalah ingin menjadikan mu menantu mereka. Bram akan bertanggung jawab seutuhnya terhadap mu atas apa yang telah ia lakukan". ungkap ayah.
__ADS_1
Hanum membuka mulutnya dan semua orang menunggu rangkaian kalimat yang akan keluar pada mulutnya.
"Maaf aku tak bisa memutuskan sekarang, beri aku waktu untuk menentukan masa depan ku bersama bayi ku tanpa ada yang menekan ku". Ucap hanum dengan suara sendu dan mata berkaca-kaca.
Mama Bram mendekati tempat duduk Hanum seraya menggenggam tangan Hanum dengan lembut lalu berkata: "Sayang, mama akan menunggu keputusan yang akan kau ambil. Beri kesempatan pada mama untuk menjadi mertuamu ya". Ujar mama Bram seraya mengelus perut Hanum kembali dan mencium keningya.
***************************************
Setelah kepulang orangtua Bram, keluarga Hanum masih tidak beranjak dari ruang tamu.
Mereka masih berdiam dengan pikiran seputar perkataan orang tua Bram.
"Nak semua ayah serahkan keputusan pada mu, ambillah keputusan yang nantinya akan membuat mu bahagia. Siapa pun nantinya yang akan kau pilih pastikan itu tidak menjadi penyesalan seumur hidup mu". Ucap ayah memecahkan kebisuan yang terjadi.
__ADS_1
Ibu dan kedua adiknya menatap Hanum seakan memberikan kekuatan melalui sorot mata mereka. Mereka percaya bahwa Hanum akan mengambil sebuah keputusan yang tepat baginya dan janin yang masih didalam rahimnya.