
Cahaya rembulan bersinar terang dan bintang pun tak mau kalah mengeluarkan cahayanya. Langit malam ini begitu bersinar terlihat dari jendela kamarku berbanding terbalik dengan suasana hati ku. Dinginya angin malam menyentuh kulit ku, menambah kegelisahan dihati.
"Hampir dua pekan Galang tidak menghubungi ku," terbesit tanya yang sangat besar dibenak ku. Setiap ditelpon selalu dalam panggilan nada sibuk tidak seperti biasanya.
Rasa sesak didada tidak tertahan lagi, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ku niat kan malam ini untuk menghubungi kembali.
Kali ini panggilan terhubung, terdengar suara diseberang sana memberikan salam.
"Assalamualaikum hanum ? sapa suara yang terdengar asing ditelinga ku."
"Wa'alaikum salam, jawab ku".
Setelah mendengar balasan salam dari ku suara yang masih belum ku kenal meneruskan bicaranya.
"Maaf ya, ibu yang mengangkat panggilan nya karena Galang lagi dikamar kecil, ungkap suara diseberang memberikan penjelasan."
"Hampir satu minggu Galang disini, dia terkena typus," penjelasan dari suara diseberang itu melanjutkan bicara.
Deeeg mendengar perkataan itu membuat jantung ku berdetak kencang. Tanpa disadari tanganku bergetar sehingga handphone digenggaman pun terjatuh. Aku terpaku sejenak dan pikiran buruk pun terlintas.
"Hallo hallo hallo, terdengar suara diseberang sana sedikit berteriak membuyarkan pikiran buruk yang terlintas. Segera ku raih kembali ponsel yang terjatuh tidak dari kaki ku."
"Hanum apa yang terjadi ?, tanya suara wanita disana."
__ADS_1
Ku rasa yang sedang bicara ini adalah ibunya kak Galang. Dia melanjutkan kembali menanyakan rasa penasaran akibat mendengar sesuatu yang terjatuh.
"Suara apa itu, Hanum apa yang terjadi? mengulang pertanyaan yang sama."
"Ponsel ku terlepas dari genggaman ku bu, jawab ku."
"Oooh... Gitu, jangan cemas ya. Galang sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanum jangan khawatir ujar ibu sedikit menghilangkan kegelisahan ku. Ibu berikan teleponnya dia sudah ada disamping ibu," ucap ibu lembut mengakhiri pembicaraan nya.
"Hey.... Sayang, terdengar suara lirih Galang."
"Maaf ya," ucap Galang. Karena dia yakin ibu pasti telah memberi tahu keberadaanya dirumah sakit.
Bulir bening diujung mata yang ku tahan sedari tadi seketika jatuh tak tertahankan lagi. Suara tangis pun terdengar, Galang memanggil ku dengan lembut meredakan suara tangis.
"Kenapa kakak ga beri kabar kalau sedang sakit ?, tanya ku disela tangis yang mulai mereda."
"Aku tak ingin membuat mu khawatir itu saja tapi maaf jadi buat mu menangis, ungkap nya."
"Besok juga sudah diizinkan pulang, kamu kesini ya sayang ?, pintanya."
Tanpa di pinta pun pasti datang, karena ini sudah larut malam saja ku urungkan niat untuk segera kesana.
"Ya sayang, pagi-pagi saya akan segera kesana." Ucap Hanum dengan perasaan sedikit lega.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, ruang anggrek no 3. Tidurlah kembali jangan memikirkan yang berat, saya sudah jauh lebih baik." Ujar Galang memastikan agar aku tidak perlu mencemaskanya.
"Baiklah sayang, aku kan segera tidur." Jawab ku.
Kecupan mesrah dari jauh ku layang kan dan Galang pun membalasnya mengakhiri panggilan.
Ku rebah kan tubuh ku, rasa sesak yang kurasa sedikit menghilang. Berarti rasa gelisah yang kurasa beberapa hari ini terjawab sudah.
Galang memang suka seperti itu, berusaha menutupi sesuatu yang membuat ku khawatir. Tindakan seperti itu malah membuat ku makin khawatir.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
__ADS_1
Salam Hangat Lemb@gung